Investor Tunggu Antisipasi The Fed

foto : istimewa

Pasardana.id  - Pemerintah harus siap atas kemungkinan kenaikan The Fed Rate. Langkah ini bisa dilihat pada Juni atau Agustus 2016.

"Sekarang investor wait in and see terhadap risiko fiskal, karena productive spending lebih besar dibandingkan subsidi," kata Ekonom dari Mandiri Sekuritas, Leo Rinaldy pada Pasardana.id, beberapa waktu lalu.

Kenaikan The Fed akan berdampak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didukung penerimaan pajak. Penaikan pajak akan semakin sulit diperoleh, bahkan sebelum The Fed naik pertumbuhan pajak tidak mudah digapai.

"Penerimaan pajak masih di bawah target sampai April 2016," ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 4,92% pada kuartal I 2016. Angka ini di bawah target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 sebesar 5,3%.

Namun, Direktur Departemen Pegelolaan Moneter, Pribadi Santoso optimistis ekonomi Indonesia tidak terpengaruh akibat kenaikan The Fed. Pasalnya, ini sudah diantisipasi pemerintah sejak lama. "Kita sudah hitung dampaknya di awal tahun," jelasnya.

Indonesia hanya mewaspadai pengaruh masuknya arus modal ke Tanah Air seperti pelemahan rupiah terhadap dolar AS. BI mengantisipasi ini dengan menarik likuiditas dan pemgetatan pasar. "BI juga sudah menurunkan BI Rate," tandasnya.

BI akan menaikkan BI Rate jika kenaikan dilakukan terhadap The Fed. Kini BI Rate diberlakukan sebesar 6,75% dari 7,75% pada awal 2016. Kebijakan ini diklaim akan terasa pada kuartal II 2016.

Penerbitan obligasi juga sudah dilakukan pemerintah hingga mencapai 56% sekarang. Pembayaran ini diklaim tidak mengalami persoalan nanti.

Kemungkinan penurunan perolehan pajak akibat kenaikan The Fed dihadapi Kementerian Keuangan dengan pemberlakukan Undang-Undang (UU) Pengampunan Pajak.

"Kalau tax amnesty bisa dilakukan dengan maksimal bisa menutup realisasi pajak yang turun sejak beberapa tahun terakhir," tandasnya.