Harga Obligasi Pemerintah Masih Tertekan

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pada perdagangan awal pekan, Senin (2/5) ini harga surat utang negara (SUN) masih berpeluang tertekan. Data ekonomi yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik akan mempengaruhi keputusan investor.

"Hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih akan berpeluang mengalami penurunan menjelang rilis data inflasi yang akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik,"jelas analis obligasi MNC Securiteis, I Made Adi Saputra dalam risetnya Senin pagi.

Analis memperkirakan pada bulan April 2016 terjadi deflasi sebesar 0,24% dengan inflasi tahunan sebesar 3,78%. Dengan terkendalinya laju inflasi hingga bulan April 2016, maka inflasi di tahun 2016 masih akan sesuai dengan target Bank Indonesia meskipun akan mengalami tekanan inflasi menjelang bulan puasa dan lebaran. Hal tersebut, jelasnya, dalam jangka panjang akan berdampak positif terhadap pasar Surat Utang Negara.

Sementara itu dari data ekonomi Amerika berupa data Personal Income and Outlays yang disampaikan pada akhir pekan lalu, menunjukkan bahwa tingkat pengupahan di Amerika mengalami peningkatan di bulan Maret 2016 namun tidak diikuti dengan meningkatnya jumlah belanja. Tingkat upah naik sebesar 0,4% dibandingkan dengan data di bulan Februari 2016, sementara itu tingkat belanja meskipun mengalami peningkatan sebesar 0,1% namun lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan sebesar 0,2% di bulan Februari 2016. Hal tersebut berdampak terhadap aju inflasi di Amerika untuk periode Maret 2016 dimana untuk inflasi inti di bulan Maret sebesar 0,1% (MoM) dan 1,6% (YoY) di bawah target inflasi oleh Bank Sentral Amerika yang sebesar 2,0%.

Adapun imbal hasil dari surat utang global pada perdagangan di akhir pekan sedikit mengalami kenaikan dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya menjelang rilis data ekonomi yang akan disampaikan pada pekan ini. Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup naik pada level 1,83%, adapun imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) juga ditutup naik pada level 0,272% dari posisi 0,26% pada perdagangan sebelumnya. Hal tersebut kami perkirakan akan turut berdampak pada pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing.

Sementara itu secara teknikal, harga Surat Utang Negara berada pada tren penurunan, sehingga dalam jangka pendek masih akan berpeluang untuk mengalami penurunan. Harga Surat Utang Negara saat ini berada di bawah rata - rata harga dalam lima hari terakhir (MA5).

"Dengan kondisi tersebut kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara,"imbuhnya. Adanya koreksi harga dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan pembelian secara bertahap Surat Utang Negara (BUY on Weakness) terutama untuk Surat Utang Negara dengan tenor menengah dan panjang. Adapun untuk seri FR0069, FR0034 dan FR0053 kami masih rekomendasikan untuk jual.

Investor bisa mempertimbangkan produk Savings Bond Ritel seri SBR002 yang ditawarkan pemerintah mulai tanggal 28 April 2016 hingga 19 Mei 2016. Pemerintah menargetkan nilai penerbitan SBR002 mencapai Rp3 triliun dibantu oleh 24 agen penjual yang telah ditunjuk.