BEI Tiadakan Biaya Transaksi Derivatif, APEI Minta Insentif Pajak

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id -  PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih punya pekerjaan rumah besar untuk pengembangan produk derivatif, pasalnya nilai transaksi harian produk tersebut tergolong sepi. Untuk itu perlu insentif bagi pelaku perdagangan efek tersebut.

Komite Ketua Umum APEI, Octavianus Budiyanto mengatakan, yang menjadi persolan dalam produk derivatif adalah nilai transaksi. Untuk meningkatkan nilai transaksi perlu market maker atau pengerak pasar.

Market maker butuh insentif, misalnya pajak transaksi dan fee transaksi bursa,” kata dia di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Ia menjelaskan, BEI telah meniadakan biaya transaksi tapi hal itu dianggap tidak terlalu berdampak. Sehingga perlu insentif lainnya.

“Misalnya pajak transaksi juga harus ada insentifnya,” pinta dia.  

Sementara itu, Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, pihaknya akan melakukan peninjauan ulang terhadap produk produk efek derivatif yang ada. Hal yang akan ditinjau terkait satu perdagangan, fraksi harga dan pemberian insentif.

“Disamping itu, kita lihat juga kesiapan para pelaku dan pemilihan jaminan efeknya dengan melihat efek yang nilai trasaksinya paling likuid,” ujar Hasan.

Saat ini, jelas dia, BEI telah memberikan insentif berupa peniadaan biaya transaksi bursa kepada liquidity provider terutama anggota bursa penawaran dan pembelian produk derivatif.

“Ini berlaku pada AB (Anggota Bursa) yang punya kemampuan financial yang tinggi dan kami juga akan memberikan informasi pasar,” ucap dia.

Mengenai permintaan insentif pajak transaksi, menurut dia, hal itu juga menjadi perhatiannya untuk ditindak lanjuti.

Untuk diketahui, produk derivatif sampai ini terdapat sembilan produk, yaitu; BMO5H9, BM05U8, BM05Z8, BM10H9, BM10U8, BM10Z8, LQ45N8, LQ45Q8 dan LQ45U8.