Harga SUN Hanya Menguat Sementara

foto : istimewa

Pasardana.id - Imbal hasil Surat Utang Ngeara (SUN) pada perdagangan Rabu kemarin turun hampir merata. Penguatan harga SUN terjadi terutama dipicu oleh inflasi Mei 2016 yang terpangkas hingga 3,33% YoY sehingga meningkatkan peluang turunnya suku bunga acuan ke depan.

Namun demikian, pada perdagangan hari ini, ekonom Samuel Sekuritas, Rangga Cipta mengatakan, imbal hasil SUN diperkirakaan kembali naik karena S&P ternyata tidak jadi menaikkan peringkat utang Indonesia.

Dari pasar sekunder, Rangga menyebutkan, data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan pemerintah aktif melakukan pembelian SUN di tengah aksi jual asing. Analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra memberi rekomendasi dalam situasi saat ini. 

"Dengan kondisi tersebut maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder dengan melakukan strategi trading jangka pendek di tengah kondisi pasar yang cenderung bergerak berfluktuasi," paparnya.

"Untuk investor jangka panjang disarankan melakukan akumulasi secara bertahap," sambungnya.

Sejumlah berita Obligasi domestik pada perdagangan hari ini yang akan mempengaruhi pergerakan harga SUN, antara lain:

- PT PP Properti Tbk. menerbitkan obligasi sebSesar Rp 600 miliar dalam dua seri. PPRO menargetkan kupon untuk seri A untuk jangka waktu tiga bulan 9%-9,5% dan seri B untuk jangka waktu lima tahun 9,75%-10,25%.


- PT Surya Semesta Internusa Tbk. membatalkan rencana penerbitan surat utang berdenominasi dolar Singapura dan memilih untuk menerbitkan obligasi dalam mata uang rupiah dengan nilai Rp600 miliar-Rp 800 miliar.


- S&P menegaskan peringkat utang jangka panjang Indonesia yang 'BB+' dengan outlook positif.


-  Fitch Ratings Indonesia memberikan peringkat Nasional Jangka Panjang untuk program obligasi Rp5 triliun dari perusahaan menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. di 'AA-(idn)'.

Dari global:
-Beige Book The Fed menunjukkan pasar tenaga kerja yang ketat walaupun penyerapan tenaga kerja masih lamban. Inflasi masih rendah dan pertumbuhan ekonomi masih datar di berbagai Negara bagian.