Menperin Harap Bea Masuk Komoditas Ekspor Indonesia ke Amerika 0%

foto: doc Kemenperin

Pasardana.id - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berharap, bisa mendorong tarif bea masuk komoditas ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dihapuskan atau nol%. Pasalnya, ekspor Thailand dan Vietnam ke Negeri Paman Sam tersebut sudah nol%.

“Tren perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat, positif dan naik terus. Direct call akan didorong kalau ekonomi kedua negara bisa melakukan early harvest. Mereka produksi kapas dan gandum, dan bisa dibarter dengan produk sepatu ataupun tekstil kita,” papar Airlangga dalam keterangannya, Rabu (16/5/2018).

Kementerian Perindustrian mencatat, neraca perdagangan RI dengan AS mengalami surplus pada dua tahun belakangan ini. Pada 2016, surplus sekitar US$8,47 miliar, sementara tahun 2017 surplus sebesar US$9,44 miliar. Khusus untuk ekspor, total nilai ekspor nonmigas mencapai US$15,68 miliar pada 2016, sedangkan di tahun 2017 meningkat menjadi US$17,14 miliar.

Dengan adanya perjanjian perdagangan internasional, Menperin meyakini, akan membuat eksportir Indonesia mendapatkan peluang lebih besar untuk semakin memperkenalkan dan menjual produknya ke berbagai belahan dunia. “Upaya ini juga akan menjadi pemicu naiknya produktivitas dan kebutuhan tenaga kerja di sektor industri,” jelasnya.

Setelah Amerika Serikat, Menperin menambahkan, pihaknya bakal membidik pasar ekspor langsung dari Jakarta menuju Rotterdam, Belanda. “Karena, pintu ekspor kita di Eropa itu Rotterdam. Jadi, kalau kapal ini bisa direct lagi dari Jakarta, semakin bersaing biayanya,” ungkapnya.

Menurut Airlangga, salah satu komoditas nonmigas yang diutamakan untuk terus tembus ke pasar ekspor Eropa adalah minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya. “Ini tergantung dari perkembangan produknya itu sendiri. Komoditas ini harapannya, seperti CPO, tidak lagi dihambat,” tegasnya.

Produk manufaktur lainnya, yakni tekstil dan produk tekstil serta alas kaki yang masih menjadi produk andalan nasional dalam era ekonomi digital. “Berdasarkan roadmap Making Indonesia 4.0, produk clothing dan sepatu yang akan fokus diprioritaskan pengembangannya pada revolusi industri keempat. Apalagi,  untuk daya saing produk alas kaki kita sudah masuk nomor enam di dunia, sehingga potensinya besar untuk perluasan pasar ekspor,” pungkasnya.

Pada triwulan I tahun 2018, industri tekstil dan pakaian merupakan salah satu sektor manufaktur yang kinerjanya di atas pertumbuhan ekonomi nasional, dengan mencapai 7,53%. Selain itu, terdapat industri mesin dan perlengkapan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 14,98%.

Selanjutnya, industri makanan dan minuman tumbuh hingga 12,70%, industri logam dasar 9,94%, serta industri alat angkutan 6,33%. Pada kurtal pertama tahun ini, industri pengolahan nonmigas tercatat tumbuh sebesar 5,03%, naik dibanding periode yang sama tahun 2017 sekitar 4,80%.