ANALIS MARKET (01/11/2018) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas.

Menurut analis Kiwoom Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, prediksi tersebut memang seharusnya begitu, namun karena penutupan kemarin (31/10) tidak diiringi dengan volume yang cukup kuat, pasar obligasi masih akan mengalami penguatan yang tertahan sehingga berpotensi masih dalam berada fase konsolidasi.

Lebih lanjut diungkapkan, beberapa faktor bakal mempengaruhi para pelaku pasar dalam perdagangan hari ini, Kamis (01/11/2018), antara lain; pada akhirnya DPR mengesahkan RUU APBN 2019 menjadi perangkat UU. Dalam sidang Paripurna DPR telah disepekati bersama bahwa pertumbuhan ekonomi akan berada di 5.3%, inflasi 3.5%, nilai tukar pada Rp 15.000/US$. Defisit anggaran diperkirakan akan berada di 1.84% atau IDR 297.2 T. Pada akhirnya nilai tukar yang sebelumnya telah direvisi 3x, menjadi sah berada di 15.000. Hal ini akan menjadi tolok ukur nilai Rupiah yang baru untuk tahun depan.

Beralih dari sana, Bank Central of Japan pada akhirnya masih mempertahankan kebijakan moneter dan mengkonfirmasi akan melakukan pembaharuan perkiraan inflasi menjadi dibawah target Bank Sentral yaitu 2% setidaknya hingga awal 2021.

Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CP-TPP) akan mulai berlaku pada akhir Desember 2018 seiring dengan diraihnya ratifikasi kesepakatan dari enam negara. Negara tersebut adalah; Australia, Kanada, Jepang, Meksiko, Selandia Baru, dan Singapura. Hal itu pun menjadi harapan bagi perdagangan multilateralisme di tengah-tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang terus berlanjut bahkan semakin intensif.

Tidak hanya Powell, mantan Gubernur The Fed, Janet Yellen pun menyatakan dukungannya terhadap kenaikkan suku bunga The Fed untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan memberikan keyakinan lebih kepada Powell, untuk tetap berada di jalur independensinya, meskipun akhir-akhir ini Trump selalu menekan lembaga tersebut.

“Kami merekomendasikan hold hingga beli dengan volume kecil, menanti data inflasi akan menjadi sesuatu hal yang menarik,” sebut Nico dalam laporan riset yang dirilis Kamis (01/11/2018).

Sebelumnya, pasar obligasi kemarin (31/10) terlihat mengalami kenaikkan, dimana kenaikkan yang paling tinggi berada pada obligasi bertenor 5 tahun dan 10 tahun, namun untuk yang bertenor 15 tahun dan 20 tahun, juga mengalami kenaikkan namun tidak banyak.

“Sebagai catatan kenaikkan harga obligasi ini tidak diiringi dengan volume yang cukup kuat, sehingga penguatan ini juga dapat dikatakan rapuh. Para pelaku pasar dan investor juga seperti menahan transaksi mereka seiring dengan hadirnya data inflasi yang akan keluar pekan ini,” ungkap Nico.