ANALIS MARKET (11/1/2018) : IHSG Hari Ini Bergerak Mixed Dengan Kecenderungan Menurun

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id “ Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, secara teknikal analis, candlestick indeks harga saham gabungan (IHSG) terlihat membentuk pola "inverted hammer" mengindikasikan masih berlanjutnya tekanan jual.

Namun perubahan outlook peringkat utang Indonesia dari Moody's dari "Stabil" menjadi "Positif" diharapkan dapat menopang sentimen pasar hari ini.  

Kami memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan menurun hari ini, sebut analis Kiwoom Sekuritas yang dilansir dari laman resminya, Kamis (11/1/2018).

Sementara itu, Dow Jones turun 16.7 poin ditutup pada level 25,369.1.  Adapun bursa regional diperdagangkan mendatar dengan kecenderungan menurun dibayangi aksi profit taking lanjutan.  Sementara itu, harga komoditas energi masih bertahan pada level yang relatif tinggi, dan diharapkan dapat menopang IHSG hari ini.  

Lebih lanjut, riset Kiwoom juga menyebutkan beberapa aksi korporasi dari para emiten yang layak dicermati pelaku pasar diperdagangan hari ini, antara lain;

ENRG - Restrukturisasi utang 
PT Energi Mega Persada (ENRG) mendapat persetujuan RUPSLB untuk melakukan restrukturisasi utang senilai US$ 32.87 Juta atas kewajiban perusahaan kepada lima kreditur: Greenwich International Limited, Stallion Investment Pte Ltd, Ultrapro Ltd, PT Wira Cipta Perkasa, dan PT Prime Petroservices.

Skema yang akan digunakan adalah debt-to-equity swap melalui mekanisme private placement.

ENRG akan menerbitkan 4.2 miliar lembar saham baru (40.65% saham) dengan harga pelaksanaan konversi Rp 104 per lembar saham. Dengan demikian setelah konversi utang, total kewajiban ENRG akan berkurang menjadi US$ 825 Juta dari posisi US$ 857.11 Juta saat ini. Debt-to-equity ratio (DER) ENRG akan turun menjadi 2.4x dari 3.6x saat ini. 

META - Rencana rights issue 
PT Nusantara Infrastructure (META) berencana menerbitkan maksimal 5 miliar lembar saham baru melalui HMETD (rights issue) untuk mendukung belanja modal serta modal kerja. Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan sebanyak-banyaknya 25.19%. Rencana tersebut menunggu persetujuan RUPSLB pada 19 Februari 2018. 

WIKA - Proyek kereta cepat 
PT Wijaya Karya (WIKA) tengah memproses berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk dapat mencairkan komitmen pendanaan senilai US$ 700 Juta dari China Development Bank (CDB) untuk proyek kereta cepat (high speed rail / HSR) Jakarta-Bandung.

Manajemen menargetkan dapat mencairkan pinjaman tersebut bulan ini. Proses konstruksi fisik proyek tersebut saat ini baru mencapai 5%.

WIKA mengalokasikan dana belanja modal mencapai Rp 36 Triliun, jauh lebih tinggi dari alokasi Rp 12 Triliun tahun lalu. Untuk mendukung belanja modal manajemen berencana menerbitkan obligasi global berdenominasi Rupiah (Komodo Bond) senilai US$ 400 Juta. 

WSBP - Buyback saham 
Dalam keterbukaan informasi kepada BEI PT Waskita Beton Precast (WSBP) mengumumkan akumulasi jumlah saham yang telah dibeli sejak awal pelaksanaan program buyback saham dari tanggal 27 Juli hingga 29 Desember 2017 sebanyak 1.84 miliar lembar saham.

Dengan demikian jumlah saham yang diserap hingga akhir Desember mencapai 7% dari 5.7% pada akhir November lalu. Porsi saham publik turun menjadi 33% pada akhir Desember.