Baru Kantongi Tujuh Calon Emiten, BEI Kaji Depak Belasan Emiten

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Hingga dua bulan pertama tahun 2017, Bursa Efek Indonesia (BEI) belum mengantungi satu pun emiten baru yang mencatatkan sahamnya di lantai bursa.

Namun, pada saat yang sama, belasan emiten tengah dikaji untuk di desliting atau penghapusan pencatatan saham secara paksa.

“Kami sedang inventarisasi saja," jawab Direktur Penilaian BEI, Samsul Hidayat ketika ditanya rencana delisting paksa emiten, di Jakarta, Jumat (24/2/2017).

Ia menjelaskan, pendataan dan pengkajian tersebut terhadap emite-emiten yang telah dua tahun sahamnya berstatus suspend atau penghentian perdagangan sementara saham dan terganggunya keberlanjutan perusahaan.

“Terutama yang terkena suspend dan going concern-nya terganggu. Jadi kami inventarisasi yang saat ini di suspend dan kita pilah mana yang seharusnya di delisting," terang dia.

Lebih lanjut dikatakan, dalam salah satu klausul disebutkan, BEI dapat mendepak emiten yang telah dua tahun berstatus suspend. Namun pihaknya terlebih dahulu mengkaji keberlanjutan kelangsungan emiten tersebut.

“kita lihat apakah emiten tersebut sedang melakukan sesuatu untuk beroperasi kembali dan jika dapat memenuhi kewajibannya maka tidak kita delisting," terang dia.

Ia juga menegaskan, untuk mendepak emiten dari lantai bursa tidaklah mudah sebab akan sangat berdampak terhadap investor.

“Investor akan susah menjual saham kemana," terang dia.

Untuk diketahui, 10 emiten berstatus suspend karena tidak memenuhi kewajiban biaya pencatatan tahunan.

Emiten tersebut adalah PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK), PT Majapahit Inti Corpora Tbk (AKSI), PT Inovisi Infracom Tbk (INVS), PT Permata Prima Sakti Tbk (TKGA), PT Truba Alam Manunggal Engineering Tbk (TRUB), PT Grahamas Citrawisata Tbk (GMWC), PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) dan PT Siwani Makmur Tbk (SIMA) PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk (TMPI), serta PT Yulie Sekurindo Tbk (YULE).

Tak hanya itu, enam emiten lain tak berstatus suspend karena belum memenuhi kewajiban 7,5% saham beredar atau free float.

Emiten tersebut yakni; PT Multi Prima Sejaktera Tbk (LPIN), PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA), dan PT Nusantara Inti Corpora Tbk (UNIT), serta PT Grahamas Citrawisata Tbk (GMCW).

Sementara itu, hanya terdapat tujuh calon emiten yang telah menyampaikan mini ekspos dan tengah menanti pernyataan pre-efek dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sampai saat ini yang telah mini ekspos ada tujuh perusahaan," kata Samsul.

Rincinya, yakni; PT Bintraco Dharma berencana melepas 150 miliar saham, PT Nusantara Pelabuhan Handal dengan melepas 576 miliar saham, PT Sariguna Primatirta dengan melepas 500 miliar saham, PT Terragera Asia Energy, PT Sanur Hasta Mitra melepas 262 miiar lembar saham, PT Cahaya Sakti Investindo berencana melepas 207 miliar lembar saham dan PT Pelayaran Tamarin Samudera.