Hadang Rencana China dan Aramco, BEI Ingin Kapitalisasi Pasar Capai USD1 Triliun

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2017 ini mencatatkan beberapa rekor baik dari sisi pencapaian kapitalisasi pasar hingga jumlah emiten baru.

Hanya saja, pada tahun 2018 mendatang, pasar modal lokal akan menghadapi beberapa tantangan dari luar negeri, yakni rencana otoritas pasar modal China dan rencana initial public offering (IPO) perusahaan minyak dan gas Saudi, Aramco.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio mengungkapkan, bobot investasi pada pasar modal suatu negara secara konsensus mengacu pada MSCI (Morgan Stanley international index), yang akan ditentukan kapitalisasi pasar.

"Sayangnya, di tahun depan, bobot MSCI index Indonesia akan turun jika China membuka saham seri A di Shanghai (Shanghai Stock Exchange) dan Beijing. Dan kalau mereka buka total, maka MSCI index-nya akan naik 15%," jelas Tito di Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Tantangan kedua, jelas Tito, yakni adanya rencana penawaran saham perdana perusahaan raksasa minyak dan gas (migas) asal Arab Saudi, Aramco. Pasalnya, kapitalisasi pasar Saudi Aramco mencapai USD1,2 triliun.

"Kalau kedua hal itu terjadi maka berpotensi mendilusi bobot MSCI Indonesia index," kata Tito.

Untuk itu, lanjut Tito, peningkatan kapitalisasi pasar mutlak diperlukan untuk menahan efek tersebut.

Tito berharap, kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp10.000 triliun dalam dua tahun mendatang. Sedangkan saat ini baru mencapai Rp6.952 triliun.

"Karena kapitalisasi pasar banding GDP (gross domestic product) Indonesia baru 50% (perkiraan akhir 2017), sedangkan Malaysia 123%, Thailand 107%, Jepang 102%, dan Singapura 219%," ujar dia.

Meski demikian, menurut Tito, kalaupun kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp10.000 triliun tercapai, dinilai belum cukup menandingi pasar Malaysia, Thailand, dan Singapura.

"Jadi Rp10.000 triliun baru 64% dari GDP, sehingga kita perlu naikan kapitalisasi pasar USD1 triliun," tutup dia.