Harga Obligasi Pemerintah Dinilai Sudah Tinggi

foto : istimewa

Pasardana.id - Harga obligasi pemerintah atau surat utang negara (SUN) dinilai sudah terlalu tinggi sehingga investor cenderung akan melakukan aksi profit taking atau realisasi keuntungan.

Kenaikan harga sudah terjadi sejak undang-undang pengampunan pajak (tax amnesty) disahkan dan kembalinya Sri Mulyani sebagai menteri keuangan dalam reshuffle kabinet.

"Hari ini pasar obligasi akan cenderung melakukan realisasi keuntungan, namun tentu masih akan terbatas. Kami masih merekomendasikan untuk Hold saat ini. Namun apabila pelemahan terus berlanjut, realisasi keuntungan bertahap juga penting di lakukan di tengah tingginya harga obligasi saat ini," jelas Kepala Pendapatan Tetap, PT Indomitra Securities, Maximilianus Nicodemus, kepada Pasardana,id, Rabu (3/8/2016).

Dijelaskan, kenaikan harga kembali terjadi pada perdagangan Selasa dimana imbal hasil SUN mengalami penurunan. Penurunan imbal hasil menunjukkan kenaikan harga obligasi.

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 1 - 3 bps dengan didorong oleh perubahan harga yang berkisar antara  2 - 10 bps. Sementara itu imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 2 - 5 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 7 - 20 bps. Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang (di atas 7 tahun) mengalami perubahan berkisar antara 1 - 5 bps dengan didorong oleh adanya perubahan harga yang berkisar antara 5 - 150 bps.

Harga Surat Utang Negara yang kembali mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin didorong oleh hasil positif dari pelaksanaan lelang penjualan Surat Utang Negara yang diadakan oleh Kementrian Keuangan.

"Pada lelang kemarin, total penawaran yang masuk senilai Rp45,88 triliun lebih tinggi dari estimasi kami yang perkirakan berkisar antara Rp20 - 25 triliun," tandasnya.