Imbal Hasil SUN Masih Mengalami Penurunan

foto : istimewa

Pasardana.id - Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan di hari Senin, (1/8/2016) kemarin, masih mengalami penurunan didorong oleh data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan.

"Perubahan tingkat imbal hasil berkisar antara 2 - 16 bps dengan rata - rata mengalami penurunan imbal hasil sebesar 7 bps dimana penurunan imbal hasil yang cukup besar masih didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah," jelas analis Obligasi MNC Securities, I Made Saputra kepada Pasardana.id, Selasa (2/8/2016).

Lebih lanjut I Made menuturkan, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 4 - 16 bps didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 5 - 50 bps.

Adapun imbal hasil dari Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami penurunan berkisar antara 4 - 13 bps dengan mengalami kenaikan harga yang berkisar antara 15 - 60 bps dan imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang mengalami perubahan berkisar antara 2 - 8 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga yang berkisar antara 10 - 85 bps.

Sementara itu, lanjut dia, harga Surat Utang Negara pada perdagangan di hari Senin kemarin, mengalami kenaikan harga didorong oleh faktor internal dan eksternal.

Dari dalam negeri, faktor yang mendorong kenaikan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder adalah data inflasi di bulan Juli 2016 yang lebih baik dari perkiraan.

Seperti diketahui, dalam laporannya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, bahwa pada bulan Juli 2016 terjadi inflasi sebesar 0,69% (MoM) dan sebesar 3,21% (YoY) dibawah rata - rata estimasi analis yang memperkirakan terjadi inflasi sebesar 0,83% (MoM) dan 3,37% (YoY).

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 1,12%; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,54%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,24%; kelompok sandang 0,44%; kelompok kesehatan 0,37%; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,51%; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 1,22%. Dengan demikian tingkat inflasi tahun kalender (Januari - Juli) 2016 sebesar 1,76%.

Secara keseluruhan, kenaikan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan sebesar 4 bps di level 6,66% untuk tenor 5 tahun, sebesar 5 bps di level 6,86% untuk tenor 10 tahun, sebesar 6 bps di level 7,15% untuk tenor 15 tahun dan sebesar 8 bps di level 7,26% untuk tenor 20 tahun.

Adapun volume perdagangan Surat Utang Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin, senilai Rp6,34 triliun dari 38 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,05 triliun. Obligasi Negara seri FR0056 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp752,06 miliar dari 60 kali transaksi dengan harga rata - rata di level 110,51% dengan tingkat imbal hasil sebesar 6,91%.

Adapun Obligasi Negara seri FR0072 menjadi Surat Utang Negara yang paling aktif diperdagangkan, sebanyak 134 kali transaksi dengan volume perdagangan senilai Rp624,32 miliar.

Sedangkan Sukuk Negara Ritel seri SR007 menjadi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp468,01 miliar dari 13 kali transaksi dengan harga rata - rata di level 102,64% dan tingkat imbal hasilnya sebesar 6,51%.

I Made juga mengungkapkan, dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp524,9 miliar dari 17 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan I Maybank Finance Tahap II Tahun 2016 Seri A (BIIF01ACN2) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp170 miliar dari 14 kali transaksi. Obligasi dengan peringkat "AA+(idn)" dan akan jatuh tempo pada 13 April 2019 tersebut diperdagangkan pada harga rata - rata 100,85% dengan tingkat imbal hasil sebesar 8,74%.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan kemarin ditutup pada level 13047,00 per dollar Amerika, mengalami penguatan sebesar 65,00 pts (0,50%) dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya. Bergerak cukup berfluktuasi pada kisaran 13040,00 hingga 13092,00 per dollar Amerika, nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dollar Amerika sepanjang sesi perdagangan di hari Senin.

Sebagian besar mata uang regional mengalami penguatan terhadap dollar Amerika dengan penguatan terbesar didapati pada Ringgit Malaysia (MYR) dan diikuti oleh mata uang Won Korea Selatan. Adapun mata uang regional yang terlihat mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika adalah Yen Jepang (JPY) dan Yuan China (CNY).