bioskop|Asosiasi Produsee Film Indonesia|Daftar Negatif Investasi
Oleh: Ade

Pasardana.id - Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) menyebutkan, produksi film di Indonesia mencapai 200 film pada 2015. Angka ini naik dibandingkan 2014 dari 126 film.
Kenaikan produksi ini tidak diimbangi dengan penambahan layar bioskop, kata Sheila Timothy, Ketua Umum Aprofi di Jakarta, kemarin.
Dari jumlah penduduk sebesar 250 juta dibutuhkan 2.000-2.500 layar bioskop. Dari angka ini baru terdapat 1.118 layar bioskop saja.
Jumlah layar bioskop Indonesia sama dengan layar Beijing, cuma jumlah penduduknya hanya 22 juta orang, ujarnya.
Jumlah layar bioskop yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk, dinilai sangat merugikan. Karena, jika jumlah layar bioskop sedikit atau tidak ada, maka pengusaha bioskop kesulitan menjual filmnya.
Sementara biaya produksi terus meningkat, ucapnya.
Sheila meneruskan, regulasi perfilman yang mendukung perfilman dinantikan produser film. Bahkan, hal ini ditunggu investor asing.
Walaupun pemerintah telah menghapus industri perfilman dari Daftar Negatif Investasi, jelasnya.
Sementara itu, Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu Sulistianti mengungkapkan, investor asing belum mau menanamkan modal di industri perfilman. Langkah ini hanya dilakukan swasta lokal.
Pemerintah harus memberikan insentif seperti tax allowance (diskon pajak), tukasnya.
Tax allowance, tambah Endah, telah dilakukan pemerintah Perancis dan Korea Selatan (Korsel). Begitupula Sungapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Kita belum memberikan insentif, jelasnya.