See More

18 Juli 2026, 07:45

18 Juli 2026, 07:19

18 Juli 2026, 07:09

17 Juli 2026, 23:14

17 Juli 2026, 23:04

17 Juli 2026, 22:54
Presiden Prabowo|kerjasama RI-Singapura|Selat Malaka
Oleh: Ronal

Foto : istimewa
Pasardana.id – Pemerintah Indonesia dan Singapura sama-sama memiliki kepentingan untuk menjaga Selat Malaka tetap aman, damai dan terbuka bagi seluruh pelayaran Internasional.
Kedua negara menjalin komitmen strategis usai Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menggelar pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (6/7).
Presiden Prabowo menyebut kedua negara memiliki rekam jejak kerja sama dan kolaborasi yang panjang dalam menjaga jalur logistik laut paling sibuk di dunia tersebut.
Apalagi, dua negara ini yang berbatasan langsung di Selat Malaka.
"Kita kembali menegaskan sikap Indonesia dan Singapura mengenai Selat Malaka. Kita berkepentingan untuk menjaga Selat Malaka sebagai jalur pelayaran yang bebas bagi semua pihak," ungkap Prabowo dalam konferensi pers bersama.
“Selat Malaka selalu akan terbuka untuk semua, aman, dan dapat diakses oleh siapapun yang membutuhkan akses," sambung Prabowo.
Selain aspek kebebasan lintas transit, Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya mitigasi bersama terhadap berbagai potensi ancaman fisik di sepanjang jalur urat nadi perdagangan dunia tersebut, mulai dari risiko kecelakaan laut hingga bahaya tindakan perompakan.
Menurut Prabowo, stabilitas keamanan di wilayah perairan ini merupakan pilar vital bagi pertumbuhan ekonomi negara-negara pesisir di sekitarnya.
Guna memastikan koridor laut tersebut tetap aman, Indonesia juga berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan negara pesisir lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand.
Langkah ini diambil agar tata kelola Selat Malaka tetap sejalan dengan hukum laut internasional.
"Kita akan terus berkoordinasi dengan Malaysia dan Thailand untuk memastikan, sesuai dengan UNCLOS 1982, bahwa Selat Malaka akan selalu terbuka bagi semua dan dapat diakses oleh siapa pun.” tegas Prabowo.
PM Singapura, Lawrence Wong membenarkan, bahwa kedua negara memiliki strategic interest yang sejalan.
Lawrence bahkan menyinggung bagaimana situasi geopolitik global terkini ikut memengaruhi dinamika jalur logistik di Asia Tenggara.
"Kami juga membahas perkembangan di Timur Tengah dan implikasinya, khususnya terhadap Selat Malaka. Sebagai negara pesisir, Singapura dan Indonesia memiliki kepentingan strategis yang sangat sejalan," ujar PM Lawrence.
Lawrence menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Indonesia dan berkomitmen untuk mengoptimalkan peran masing-masing negara pantai (littoral states) demi menegakkan hukum laut internasional, khususnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982).
Lawrence juga menegaskan pentingnya menjunjung tinggi hak kebebasan bernavigasi tanpa hambatan bagi kapal-kapal internasional yang melintas.
“Kami sama-sama berkepentingan untuk menjunjung tinggi hak lintas transit kapal sesuai dengan UNCLOS. Singapura dan Indonesia sepakat bekerja sama dengan negara pesisir lainnya untuk memastikan Selat Malaka tetap aman dan terbuka, sehingga kita semua senantiasa memperoleh manfaatnya,” jelas Lawrence.
Melalui kemitraan yang semakin solid ini, baik RI dan Singapura berharap pengelolaan kawasan perairan Selat Malaka dapat terus berjalan secara seimbang, adil, serta mampu memberikan jaminan rasa aman bagi aktivitas logistik global yang melintas di kawasan Asia Tenggara.