See More

20 Mei 2026, 16:53

20 Mei 2026, 16:53

20 Mei 2026, 16:42

20 Mei 2026, 16:30

20 Mei 2026, 16:14

20 Mei 2026, 15:38
BPS|Perdagangan|ekspor - impor|Konflik Iran-Israel|Konflik Timur Tengah
Oleh: Ronal

foto : ilustrasi (ist)
Pasardana.id Badan Pusat Statistik (BPS) masih mengkaji lebih lanjut potensi dampak konflik di Timur Tengah, termasuk eskalasi antara Iran dan Israel terhadap perdagangan Indonesia.
Ateng Hartono selaku Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS mengatakan, bahwa BPS sejauh ini membutuhkan kajian lebih mendalam terhadap dampak geopolitik untuk dapat memaparkan data perdagangan yang sudah tercatat.
Untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, tentunya diperlukan kajian yang lebih lanjut. Kami hanya bisa memaparkan beberapa komoditas, ujar Ateng di Jakarta, Senin (2/3).
BPS mencatat pada awal Januari 2026 nilai perdagangan (ekspor) Indonesia dengan Iran, tercatat sebesar 18,5 juta dolar AS.
Komoditas utama yang diekspor antara lain buah-buahan (HS 08) senilai 9,1 juta dolar AS, lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) sebesar 2,1 juta dolar AS, serta kendaraan dan bagiannya (HS 87) sekitar 2,0 juta dolar AS.
Ekspor Indonesia ke Iran pada Januari tahun 2026 sebesar 18,5 juta US Dolar, kata Ateng.
Sementara itu, impor nonmigas Indonesia dari Iran pada Januari 2026 sebesar 2,1 juta dolar AS.
Komoditas terbesar adalah buah-buahan (HS 08) senilai 2,0 juta dolar AS atau sekitar 94,07 persen dari total impor nonmigas dari Iran.
Impor nonmigas tertinggi dari Iran pada Januari tahun 2026 terutama buah- buahan atau HS 08, 2,0 juta US Dolar atau sekitar 94,07 persen impor Indonesia dari Iran, ucapnya.
Dia melanjutkan, impor nonmigas dari Oman mencapai 718,8 juta dolar AS.
Komoditas terbesar berupa besi dan baja senilai 590,5 juta dolar AS, diikuti bahan kimia organik (HS29) sebesar 56,7 juta dolar AS, serta garam, belerang, batu dan semen (HS25) sebesar 44,2 juta dolar AS.
Sementara itu, impor nonmigas dari Uni Emirat Arab tercatat sebesar 1,4 miliar dolar AS.
Komoditas utamanya meliputi logam mulia dan perhiasan sebesar 511,1 juta dolar AS, aluminium dan barang daripadanya sebesar 181,6 juta dolar AS, serta garam, belerang, batu dan semen sebesar 43,2 juta dolar AS.
Di sisi ekspor, Indonesia mengekspor nonmigas ke Uni Emirat Arab sebesar 4,0 miliar dolar AS sepanjang 2025, terdiri dari logam mulia dan perhiasan 1.183,6 juta dolar AS serta lemak dan minyak hewan nabati 510,3 juta dolar AS.
Nah, untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, tentunya ini diperlukan kajian yang lebih lanjut lagi, tutur Ateng.
BPS juga merinci impor migas Indonesia dari sejumlah negara Timur Tengah pada Januari 2026.
Impor dari Arab Saudi tercatat 267,4 juta dolar AS atau berkontribusi 8,44 persen terhadap total impor migas.
Dari Uni Emirat Arab sebesar 200,6 juta dolar AS atau 6,34 persen.
Selain itu, impor migas dari Oman sebesar 67,9 juta dolar AS dan dari Mesir sebesar 73,4 juta dolar AS.
Data yang tersedia saat ini adalah data impor Januari tahun 2026. Jadi kita belum merilis data impor Februari, pungkas Ateng.