ANALIS MARKET (10/6/2024) : IHSG Berpotensi Lanjut Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, Saham global mundur dari level tertinggi sepanjang masa mereka pada perdagangan hari Jumat (08/06/24) setelah data ketenagakerjaan bulanan AS alias NONFARM PAYROLLS secara mengejutkan dirilis lebih kuat, dengan demikian meredupkan harapan bahwa Federal Reserve akan segera mengikuti penurunan suku bunga EUROZONE & CANADA; menyebabkan imbal hasil US Treasury melonjak lebih tinggi.

Negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini menambah 272.000 lapangan kerja pada bulan lalu, mengalahkan prediksi para ekonom sebanyak 185.000 lapangan kerja dan membuyarkan konsensus para investor bahwa pasar lapangan kerja telah cukup melemah untuk mendorong tingkat Inflasi lebih rendah.

Walaupun hal ini merupakan nilai tambah bagi perekonomian dan pendapatan perusahaan, namun laporan ini bisa berdampak negatif dalam hal prospek penurunan suku bunga tahun ini.

Dengan demikian, indeks saham dunia MSCI turun 0,3%, setelah menyentuh rekor tertinggi 797,48 poin.

Wall Street pun berakhir di zona merah; S&P 500 turun tipis 0,1% setelah mencapai level tertinggi sepanjang masa di 5,375.08 poin, Dow Jones Industrial Average drop 0,2%, dan NASDAQ juga tergerus 0,2%. Indeks Volatilitas CBOE, yang mengukur volatilitas dari S&P 500, anjlok 2,86% menjadi 12,22.

FIXED INCOME: Patokan imbal hasil US Treasury tenor 10-tahun, yang merupakan patokan untuk suku bunga pinjaman secara global, melonjak lebih dari 15 basis poin setelah data Nonfarm Payrolls dirilis, menjadi 4,4335%; merupakan lonjakan harian terbesar dalam 2bulan terakhir ini. Sementara yield 2 tahun, yang paling mencerminkan ekspektasi suku bunga, naik hampir 17 basis poin menjadi 4,8868%, menyusul penurunan 6 hari berturut-turut hingga Kamis. Imbal hasil obligasi naik seiring turunnya harga.

Para pelaku pasar uang melihat The Fed baru akan mulai menurunkan suku bunga dari level tertingginya dalam 23 tahun sebesar 5,25-5,5% pada bulan November. Sedangkan peluang penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada bulan September turun menjadi 56%, dari sekitar 70% pada hari Kamis, demikian menurut Fedwatch LSEG. Padahal tadinya perkiraan pada bulan September sudah lebih mantap pada hari sebelumnya, terutama setelah Bank Sentral Eropa (ECB) membuat keputusan untuk menurunkan suku bunga deposito dari rekor 4% menjadi 3,75% pada hari Kamis. Bank of Canada pada hari Rabu menjadi negara G7 pertama yang memangkas suku bunga kebijakan utamanya, menyusul pemotongan yang dilakukan oleh Riksbank Swedia dan Swiss National Bank. Menyusul laporan ketenagakerjaan, perkiraan suku bunga EUROZONE juga mengalami penyesuaian , di mana para investor saat ini perkirakan pemotongan suku bunga sebesar 55 bps di wilayah tersebut pada tahun ini, berkurang dari 58 bps sebelum data tersebut dirilis. Alhasil, aksi jual juga terdeteksi pada indeks saham Stoxx 600 Eropa (yang telah naik hampir 10% tahun ini) secara mereka kehilangan 0,2%. Harga Obligasi EUROZONE juga lesu pada hari Jumat, dengan imbal hasil Bund 10-tahun Jerman naik 8 bps menjadi 2,618%. Di sisi lain, US DOLLAR langsung naik 0,8% terhadap sejumlah mata uang setelah data tenaga kerja dirilis.

KOMODITAS: Futures BRENT turun 0,6% menjadi USD 79,36 / barel. Penguatan Dollar membebani harga spot EMAS , yang tergerus 3,6% menjadi USD 2,290.59 / ounce.

MARKET ASIA: para pelaku pasar sejatinya fokus pada data-data penting dari JEPANG: GDP 1Q yang ternyata masih terbenam di wilayah resesi dengan pertumbuhan -1.8% yoy, sedikit lebih baik dari periode yang lalu -2.0%. Sayangnya pertumbuhan ekonomi kuartalan juga ternyata sejelek yang diperkirakan, minus 0.5% dibanding positif tipis 0.1% yang setidaknya mampu terjadi di kuartal sebelumnya.

INDONESIA: akan diumumkan data Keyakinan Konsumen bulan May yang entah apakah bisa menguat daripada angka 127.7 pada bulan April. Masih cukup berat untuk IHSG pertahankan level psikologis 7000, secara pekan lalu IHSG anjlok 1.72% diterpa oleh arus keluar dana asing yang masih konsisten di pasar obligasi & saham.

Walau terdeteksi LIMITED DOWNSIDE POTENTIAL ke garis Support pertama sekitar 6870, analis NH Korindo Sekuritas belum terlalu yakin dengan indikasi technical rebound dan oleh karenanya lebih baik menyarankan para investor/trader pasar modal Indonesia untuk lebih utamakan sikap WAIT & SEE.

“IHSG berpotensi melemah,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Senin (10/6).