Beban Keuangan Tekan Laba NCKL 26 Persen di Kuartal I 2024

foto : dok. NCKL

Pasardana.id - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (IDX: NCKL) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,001 triliun sepanjang tiga bulan pertama tahun 2024, atau merosot 26,8 persen dibanding periode sama tahun 2023 yang mencapai Rp1,368 triliun.

Dampaknya, laba per saham dasar melorot ke level Rp16,46 per lembar pada akhir Maret 2024. Sedangkan di akhir Maret 2023 berada di level Rp24,83 per helai.

Direktur Utama NCKL, Roy Arman Arfandy melaporkan peningkatan pendapatan kontrak dengan pelanggan sebesar 26 persen menjadi Rp 6,03 triliun pada kuartal I 2024, dibandingkan dengan Rp 4,79 triliun di periode yang sama tahun 2023 lalu.

Roy bilang, pendapatan ditopang peningkatan kapasitas produksi produksi pertambangan sebesar 38 persen dari sisi produksi di kuartal 1 2024 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Peningkatan ini didorong oleh adanya peningkatan kebutuhan bijih nikel dari fasilitas pemurnian HPAL (High-Pressure Acid Leach, teknologi pemurnian bijih nikel kadar rendah berbasis hidrometalurgi) kedua, yaitu PT Obi Nickel Cobalt (ONC) yang telah mulai masuk ke tahap produksi pada akhir bulan Maret 2024, dan dengan dua jalur produksi lainnya, diharapkan akan mulai beroperasi dalam beberapa bulan ke depan.

Sedangkan Smelter RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace, teknologi pemurnian bijih nikel kadar tinggi berbasis pirometalurgi) Harita Nickel telah berhasil mengaktifkan seluruh 12 jalur produksi, mencapai kapasitas tahunan 120.000 ton nikel terkandung.

Pada Kuartal 1 2024, produksi berhasil melampaui kapasitas yang direncanakan, meningkatkan penjualan feronikel dari kuartal sebelumnya.

Pencapaian ini mencerminkan kemampuan Harita Nickel untuk memenuhi permintaan pasar secara efektif.

Selain itu, ekspansi fasilitas smelter ketiga dengan teknologi RKEF di PT Karunia Permai Sentosa (KPS) tetap berjalan sesuai jadwal untuk mulai beroperasi pada awal tahun 2025, yang akan menambah empat jalur produksi baru dengan kapasitas sekitar 60.000 ton nikel per tahun pada tahap pertamanya.

Ia melanjutkan, perseroan berhasil meningkatkan laba kotor menjadi Rp 1,62 triliun dari Rp 1,57 triliun tahun ke tahun dan laba usaha menjadi Rp 1,39 triliun dari Rp 1,36 triliun ditengah harga nikel mengalami penurunan,

Hal itu ditopang efisiensi operasional sehingga berhasil menekan beban penjualan, umum, dan administrasi turun menjadi Rp 373,55 miliar.

Namun, laba sebelum pajak penghasilan tergerus 17,7 persen secara tahunan menjadi Rp1,483 triliun pada akhir Maret 2024.

Adapun penekannya, biaya keuangan melonjak 152,7 persen secara tahunan menjadi Rp222,77 miliar pada kuartal I/2024.

Pada saat yang sama, bagian laba entitas asosiasi turun 47,1 persen secara tahunan menjadi Rp276,7 miliar.