ANALIS MARKET (17/4/2024) : IHSG Diproyeksi Rebound

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian NH Korindo Sekuritas menyebutkan, S&P500 dan NASDAQ ditutup melemah tipis pada perdagangan Selasa (16/04/24), sementara DJIA akhirnya ditutup hanya naik tipis 0.2% menyerahkan sebagian besar kenaikan intraday-nya seiring para investor mencerna STATEMENT DARI FEDERAL RESERVE CHAIRMAN JEROME POWELL yang memberi sinyal bahwa suku bunga tinggi masih diperlukan untuk waktu yang lebih lama, menyikapi data Inflasi AS bulan Maret 3.5% yoy yang menguat di atas ekspektasi.

Lengkapnya, Powell mengatakan, bahwa data ekonomi belakangan ini jelas tidak memberikan keyakinan yang cukup bagi bank sentral untuk mulai memangkas suku bunga, namun juga menambahkan bahwa kebijakan suku bunga higher for longer saat ini cukup sesuai untuk menghadapi resiko Inflasi di masa depan.

UBS market strategist malah perkirakan The Fed mungkin perlu untuk naikkan suku bunga sampai 6.5% tahun depan jika pertumbuhan ekonomi AS dan Inflasi yang sticky tetap tak terbendung.

Di sisi lain, Powell juga mengatakan bahwa potensi melonggarkan kebijakan moneter masih ada jikalau terbukti ada pelemahan signifikan di sektor tenaga kerja. Tak ayal statement beliau di atas kembali memukul harapan pemotongan suku bunga segera terwujud tahun ini, dan sebaliknya mendorong yield US Treasury lebih tinggi, di mana yield obligasi tenor 2 tahun naik ke atas 5% untuk pertama kalinya sejak November.

Sentimen lain yang mewarnai market: LAPORAN KEUANGAN KUARTAL 1 kembali berdatangan ke hadapan para investor, di mana beberapa nama perusahaan besar seperti United Health Group (salah satu komponen utama DJIA), serta Morgan Stanley membukukan performa cemerlang, sementara Bank of America, Johnson & Johnson dan Tesla malah jadi pemberat market karena issue laba merekadi bawah ekspektasi, sampai kepada rencana pengurangan 10% pegawai kantor global.

KOMODITAS: Harga MINYAK ditutup turun pada perdagangan Selasa akibat sentimen negatif dari perkembangan ekonomi global, membatasi potensi naik yang berasal dari ketegangan geopolitik wilayah Timur Tengah, secara dunia sekarang memantau respons Israel atas serangan Iran pada akhir pekan lalu. Futures minyak mentah BRENT untuk pengiriman Juni ditutup 8 sen lebih rendah, atau 0,1% pada USD90,02/barel, sedangkan US WTI untuk pengiriman Mei turun 5 sen, atau 0,1%, menjadi berakhir pada harga USD85,36/barel. Kecenderungan kebijakan moneter ketat masih diberlakukan, dinilai para pelaku pasar akan memukul kemampuan ekonomi dan daya beli energi global. Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengungkapkan bahwa AS berniat untuk menerapkan sanksi ekonomi baru kepada Iran terkait serangan mereka kepada Israel, dan sanksi ini diharapkan akan membendung kapasitas produksi/ekspor minyak Iran. Diketahui Iran memproduksi lebih dari 3 juta barrel per day sebagai salah satu produsen minyak utama dunia, bergabung di dalam OPEC+. Sementara itu, persediaan minyak mentah AS tercatat naik 4.1 juta barrel pekan lalu, menurut data dari American Petroleum Institute (API); kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan hanya 1,4 juta barrel.

MARKET ASIA & EROPA: CHINA laporkan GDP kuartal 1 mereka bertumbuh pada level 5.3% yoy, sukses di atas estimasi 4.8% dan juga dari kuartal sebelumnya 5.2%; walau ditimpali oleh pertumbuhan Retail Sales & Industrial Production bulan Maret yang di bawah perkiraan. Masih belum ada secercah harapan pada krisis property mereka, harga rumah merosot lebih lanjut di bulan Maret, output semen China pun tergerus 22% di bulan Maret (merupakan penurunan bulanan terbesar sepanjang masa). Para ekonom menilai para pembuat kebijakan China perlu meluncurkan lebih banyak dukungan/stimulus. Data makroekonomi ini tak mampu mencegah jatuhnya mata uang Yuan dan pasar saham China.

IHSG ditutup melemah 122,06 poin atau 1,68% menjadi 7.164,81 pada perdagangan pertama setelah libur panjang Idul Fitri. Indeks LQ45 juga turun sebanyak 28,38 poin atau 2,95% menjadi 935,34; mengikuti rontoknya sebagian besar pasar utama di Asia yang alami penurunan sekitar 2% dan posisi nilai tukar Rupiah yang bertengger di level Rp16.176/USD, melemah 1,91% dari perdagangan sebelumnya yang ada di Rp15.873. Investor asing mencatatkan net sell jumbo sebesar Rp2,48 triliun di seluruh pasar, terbesar pada PT Bank Central Asia Tbk (IDX: BBCA) Rp1,01 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (IDX: BBRI) Rp648,0 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (IDX: TLKM) Rp558,35 miliar dan PT Astra International Tbk (IDX: ASII) Rp205,79 miliar. Angka Keyakinan Konsumen Indonesia bulan Maret yang bertumbuh menjadi 123.8 dari 123.1 tak mampu jadi penopang market. Secara teknikal, penurunan IHSG agak tertahan oleh support trend sideways sekitar 7130, walaupun titik Low sempat overshoot ke 7066 (batasan support=7050-7000 angka bulat selaku support psikologis).

Adapun hari ini (17/4) akan dinantikan data Retail Sales.

Menyikapi kondisi tersebut diatas, analis NH Korindo Sekuritas masih melihat potensi penguatan terbatas at least ke arah tutup GAP 7240 sebagai target jangka pendek, namun menyarankan para investor atau trader untuk tidak terlalu agresif masuk ke market mengingat faktor ketidakpastian tinggi masih menghantui.

“Indeks berpotensi rebound,” sebut analis NH Korindo Sekuritas dalam riset Rabu (17/4).