Laba Anjlok 99 Persen, Akuntan Ragukan Kelangsungan Usaha WSBP

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Akuntan Publik meragukan kelangsungan usaha PT Waskita Beton Precast Tbk (IDX: WSBP) setelah melakukan pemeriksaan laporan keuangan tahun buku 2023.

Pasalnya, anak usaha PT Waskita Karya Tbk (IDX: WSKT) ini, menderita tekor modal atau defisiensi modal sedalam Rp664,49 miliar pada tahun 2023.

“Kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidakpastian material yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan usahanya,” tulis Akuntan Publik Bambang Karunawan dalam laporan auditnya yang diunggah pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (29/3/2024).

Padahal, manajemen WSBP telah menjelaskan, bahwa tekor modal itu timbul akibat dari beberapa proyek bermasalah yang memerlukan pendanaan dari utang, sehingga diperlukan restrukturisasi pinjaman, dan memasuki masa standstill dan pengaturan cash waterfall.

WSBP juga menyatakan, menjalankan langkah strategis untuk keluar dari kemelut itu, seperti; memaksimalkan penyelesaian sisa nilai kontrak tahun 2022 yang belum diselesaikan senilai Rp1,1 triliun pada tahun 2023. 

Selain itu, WSBP melakukan konversi utang usaha dan obligasi ke ekuitas sesuai amanat putusan homologasi guna memperbaiki ekuitas.

Langkah lainnya, WSBP menargetkan kontrak baru senilai Rp3,8 triliun pada tahun 2023.

Namun, Direktur Utama WSBP, FX Poerbayu Ratsunu melaporkan, pendapatan sepanjang tahun 2023 tercatat sebesar Rp1,487 triliun.

Hasil itu turun 27,8 persen dibanding perolehan pada tahun 2022 yang mencapai Rp2,062 triliun.

Pasalnya, pendapatan jasa konstruksi anjlok 55,2 persen secara tahunan menjadi Rp367,35 miliar pada tahun 2023.

Senasib, penjualan produk precast amblas 34,9 persen secara tahunan menjadi Rp540,39 miliar.

 

Tapi penjualan produk readymix dan quarry naik 41,2 persen secara tahunan menjadi Rp579,8 miliar.

Walau beban pokok pendapatan dapat ditekan sedalam 28,4 persen secara tahunan menjadi Rp1,258 triliun pada tahun 2023.

Tapi laba kotor terpangkas 24,6 persen secara tahunan menjadi Rp229 miliar.

Sedangkan laba sebelum pajak dan beban keuangan merosot 77,5 persen secara tahunan menjadi Rp253,2 miliar pada tahun 2023.

Dengan beban keuangan sebesar Rp246,96 miliar atau turun 45,4 persen secara tahunan, maka laba sebelum pajak anjlok 99,1 persen yang tersisa Rp6,3 miliar pada akhir tahun 2023.

Akhirnya, laba bersih tahun berjalan juga melorot 99,1 persen yang tersisa Rp6,3 miliar pada tahun 2023.

Hasil itu hanya dapat mengikis akumulasi kerugian menahun atau defisit 0,007 persen secara tahunan menjadi Rp8,456 triliun.

Pada sisi lain, perseroan melaporkan tambahan modal ditempatkan dan disetor penuh menjadi sebanyak 54.555,721.325 saham atau senilai Rp4,045 triliun pada akhir tahun 2023. Sedangkan di akhir tahun 2022 tercatat senilai Rp2,636 triliun.

Hal itu dapat mengurangi tekor modal sebesar 68,4 persen secara tahunan menjadi tersisa Rp664,49 miliar pada akhir tahun 2023.