Angka Pengangguran di Indonesia Turun, BPS : Tapi Masih Tinggi Sebelum Pandemi

Foto : istimewa

Pasardana.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, hingga Februari 2022, angka pengangguran di Indonesia berkurang 350 ribu orang menjadi 8,4 juta orang, dari 8,75 juta.

Meski mengalami penurunan, BPS menegaskan, angka tersebut masih lebih tinggi dari kondisi sebelum pandemi.

"Namun angka pengangguran ini belum kembali ke posisi sebelum krisis COVID-19 yang mencatat 6,93 juta pengangguran pada Februari 2020 dengan TPT sebesar 4,96 persen," kata Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/5/2022).

Berdasarkan laporan BPS itu, disebutkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 5,83 persen atau sebanyak 8,4 juta orang.

Angka pengangguran ini mengalami penurunan tipis dari bulan yang sama tahun lalu sebesar 6,26 persen atau sebanyak 8,75 juta orang.

Sebelumnya, tercatat pada Februari 2019 lalu, angka TPT sebesar 4,94 persen atau sebanyak 4,94 juta orang.

Margo mengatakan, dengan situasi tersebut, situasi pasar tenaga kerja di Indonesia belum dapat dikatakan sepenuhnya pulih.

Lebih detail, dari catatan BPS, akibat Covid-19 terhadap situasi ketenagakerjaan dalam negeri pada Februari 2021, masih terdapat 11,53 juta penduduk usia kerja yang terdampak oleh pandemi.

Meski masih cukup besar, terdapat penurunan sekitar 7,57 juta orang dari jumlah yang terdampak tahun lalu, yang tercatat sebanyak 19,10 juta orang.

Lebih detail dari yang masih terdampak, sebanyak 960 ribu orang menganggur akibat Covid-19 dan 550 ribu orang masuk ke dalam bukan angkatan kerja akibat Covid-19.

Adapun 580 ribu orang untuk sementara tidak bekerja, sedangkan 9,44 juta orang mengalami pengurangan jam kerja akibat wabah virus ini.

Kata Margo, apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh angkatan kerja, TPT dari tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK) masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 10,38 persen.

Sementara TPT yang paling rendah adalah pada pendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah, yaitu sebesar 3,09 persen.

"Itu karena dia bersedia menerima pekerjaan apapun sehingga pengangguran rendah. Tetapi di pendidikan tinggi, pengangguran cukup tinggi karena dengan bekal pendidikannya dia memilih-milih pekerjaan," katanya.

"Secara umum kondisi ketenagakerjaan kita membaik dari 2021, tapi kalau dibandingkan sebelum pandemi ini belum sepenuhnya pulih," tandasnya.