Pialang Asing Getol Borong, Akan Tiba Saat GOTO Mantul Ke Zona Hijau

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Saham PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (IDX: GOTO) mengalami tekanan jual setelah berakhirnya masa penguncian berakhir pada 30 November lalu.

Kondisi ini dinilai sejumlah pelaku pasar memberikan peluang kepada investor untuk meraih gain yang lebih besar di masa depan.

Pasalnya, pergerakan harga saham yang abnormal adalah peluang terbaik untuk akumulasi.

Direktur Equator Swarna Capital, Hans Kwee menilai, saham GOTO yang memerah beberapa hari terakhir lebih didorong penjualan investor ritel.

Investor lama dan yang membeli di waktu IPO biasanya sudah memahami risiko bisnis dan punya horizon investasi yang lama.

“Sehingga, menjual saham teknologi di periode bunga mulai naik dan cenderung tinggi adalah tidak tepat. Harga saat ini tidak optimal bagi investor karena masalah sentimen ekonomi. Investor yang lama berinvestasi di GOTO pasti lebih sabar menanti harga saham lebih optimal,” kata Hans kepada media, Jumat (2/12/2022).

Ia bilang, meski harga saham GOTO menyentuh ARB, sejumlah investor tetap melakukan pembelian.

Data RTI mencatat, broker favorit investor Asing JP Morgan aktif menampung saham GOTO hingga 500 juta lembar pada perdagangan kemarin (01/12).

Akumulasi juga ditunjukkan broker Mirae Sekuritas dan sekuritas lainnya.

Pada perdagangan kemarin (01/12), investor asing melakukan aksi jual dan beli hingga Rp1,8 triliun.

Sisanya, dalam volume lebih kecil, dilakukan oleh investor domestik.  

Lebih lanjut Hans juga mengatakan investor baru yang membeli, pasti sudah melakukan evaluasi secara cermat termasuk potensi bisnis di masa yang akan datang sehingga mereka melihat penurunan harga saat ini bisa jadi sebuah momentum untuk akumulasi.

“Karena penurunan harga akan membuat saham yang punya fundamental bagus menjadi terlihat lebih menarik,” kata Hans.

Sementara analis MNC Sekuritas, Andrew Susilo menyarankan investor untuk mencermati teknikal saham GOTO, terutama jika sudah memasuki fase jenuh jual (oversold).

“Tidak mungkin harga bergerak hanya satu arah, pasti ada titik baliknya. Ini justru peluang yang bagus. Lagi pula, selama pelanggan naik Gojek, memesan GoFood, belanja di Tokopedia dan membayar menggunakan Gopay, maka tidak perlu khawatir berlebihan,” katanya.

Konsensus Bloomberg hingga saat ini menunjukkan, sebanyak 11 dari 20 analis memiliki target rata-rata harga saham ini selama 12 bulan di level Rp 292,88 per saham.

Harga tersebut, 125% lebih tinggi dibandingkan harga pada penutupan Jumat (02/12) siang sebesar Rp 132 per saham.

Dengan situasi saat ini, 11 analis tersebut merekomendasikan beli saham GOTO.

Sementara 4 analis menyarankan hold dan 5 analis dalam konsensus Bloomberg itu lebih merekomendasikan jual kepada investor.

Sementara itu, para investor yang telah berinvestasi di GOTO menilai, penurunan yang terjadi pada saham GOTO dalam beberapa hari ini lebih dipengaruhi oleh reaksi berlebihan pasca lock up periode berakhir.

Selain itu, sentimen negatif yang masih terjadi pada saham-saham teknologi di seluruh dunia ikut mempengaruhi keputusan investor untuk melepas sahamnya.

Co-Founder dan Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca percaya, bahwa kinerja GOTO akan terus membaik, sehingga berdampak positif terhadap fundamental bisnis dan penguatan harga sahamnya.

"Pasti membaik, karena hasil laporan terakhir membaik," kata Willson dalam  pernyataannya ke media, baru-baru ini.

Dalam risetnya, Research Analyst Deutsche Bank AG, Reena Verma Bhasin juga tetap merekomendasikan saham GOTO dengan target harga Rp250 per saham dalam 12 bulan ke depan.

Bhasin menilai, kinerja GOTO di kuartal III/2022 jauh diatas ekspektasi.

Hal itu didorong oleh bisnis on-demand akibat take-rate yang lebih kuat dan promosi yang lebih rendah.

Keputusan GOTO untuk menetapkan acuan belanja operasional baru di tengah biaya beban pekerja dan overhead yang lebih rendah juga bakal berdampak positif terhadap kinerja perseroan.

“Target harga kami tidak berubah di Rp250 per saham. Kami tetap merekomendasikan beli di tengah ekspektasi kinerja bottom line yang lebih baik dan berkurangnya kekhawatiran pembiayaan eksternal," tulis Bhasin dalam risetnya.

Para analis melihat bahwa harga saham GOTO saat ini sudah under value. Seiring hilangnya sentimen lock up period, saham ini diyakini bakal mengalami rebound.

Situasi yang sama pernah terjadi pada saham-saham teknologi seperti Meituan, Coupang dan Zomato.

Itu sebabnya, sejumlah investor strategis GOTO tetap optimis harga saham di pasar akan segera mengikuti kinerja fundamental GOTO yang terus menanjak.