BBTN Akan Beri Ruang Cuan Bagi Investor Right Issue

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id -  PT Bank Tabungan Negara Tbk (IDX: BBTN) telah merampungkan anjangsana ke investor institusi di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Eropa dan Singapura guna menjaring penyerap Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) HMETD atau rights issue dan perkembangan terbaru bisnis.  

Wakil Direktur Utama BBTN, Nixon L.P Napitupulu menjelaskan, investor antusias dengan berbagai inisiatif strategis dalam meningkatkan profitabilitas sekaligus mewujudkan visi besar menjadi mortgage digital bank terbesar di kawasan.

“Berbagai pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan bahwa kami memang sudah lama tidak berdiskusi dan menyampaikan business updates ke investor global. Mereka cukup surprise dengan sejumlah perbaikan dan pencapaian BTN,” kata Nixon kepada media, Senin (28/11/2022).

Selama ini, jelas Nixon, investor asing melihat masalah likuiditas, struktur biaya dana (cost of fund) dan rasio pembiayaan bermasalah (NPL) sebagai tantangan utama bank.

Mereka terkejut bahwa transformasi yang dilakukan selama tiga tahun terakhir telah mengubah fundamental perseroan secara signifikan, sehingga BTN menjadi lebih kuat, lebih sehat dan tumbuh secara berkualitas.   

“Angka NPL berhasil kami tekan, porsi dana murah (CASA) semakin bertambah dan rasio intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) konsisten berada di ambang batas yang ideal. Berbagai pencapaian itu tercermin pada pertumbuhan laba bersih,” kata Nixon.

Lebih lanjut Nixon menjelaskan, investor juga optimistis dengan prospek pembiayaan properti di tanah air sekalipun terdapat tantangan di inflasi, suku bunga dan daya beli.

Optimisme muncul setelah diberikan pemahaman tentang bisnis model dan segmen pasar yang dilayani.

Investor mengapresiasi komitmen perseroan yang akan menggunakan seluruh dana hasil rights issue untuk meningkatkan penyaluran kredit.

“Angka backlog perumahan sebanyak 12 juta unit itu adalah peluang yang sangat menarik dan mayoritas diwakili oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang selama ini menjadi target pasar BTN. Posisi kami sebagai tulang punggung pemerintah dalam program KPR bersubsidi meningkatkan keyakinan investor terhadap prospek pertumbuhan BTN ke depan,” kata Nixon.

Asal tahu saja, kredit perumahan yang disalurkan BTN hingga akhir September 2022 mencapai Rp256,48 triliun.

Dari jumlah tersebut, KPR Subsidi berkontribusi sebesar Rp140,97 triliun atau tumbuh 8,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat senilai Rp129,97 triliun.

Sedangkan KPR Non Subsidi tumbuh 6,4 persen menjadi Rp87,11 triliun.

Setelah menuntaskan kunjungan ke investor institusi di sejumlah negara, BBTN optimistis rights issue akan menuai apresiasi positif dari pelaku pasar.

Atas dasar itu, manajemen akan menetapkan harga pelaksanaan (right) di kisaran premium, namun tetap mempertimbangkan potensi cuan untuk investor.

“Angka persisnya tunggu informasi resmi yang akan kami sampaikan di prospektus final. Kisi-kisinya, kami akan memberikan diskon sekitar 15  - 20 persen dari harga saham atau PBV terakhir,” kata Nixon.

Adapun pada akhir pekan lalu, saham BBTN ditutup di level 1.525, mencerminkan PBV 0,76x. Artinya, 1x nilai buku BBTN berada di level 2.040.

Analis menilai, valuasi saham BTN kemurahan dan belum mencerminkan fundamentalnya.

Maka itu, sejumlah sekuritas memberikan rekomendasi beli dengan target harga rata-rata di atas 1.900.

Terakhir, RHB Sekuritas menyematkan buy BBTN dengan target harga 2.450, sementara Bahana Sekuritas menetapkan 1.950.

Sebelumnya, BRI Danareksa dan MNC Sekuritas juga menyarankan beli dengan target harga di atas 2.200.    

Analis RHB Sekuritas Indonesia, Ryan Santoso dan Andrey Wijaya sepakat, bahwa masuknya dana segar baru dari pelaksanaan rights issue bakal mengerek capital adequacy ratio (CAR) BTN menjadi sekitar 19 persen - 20 persen, dibandingkan catatan September 2022 yang sebesar 17,3 persen.

“Kami memperkirakan masuknya dana segar baru tersebut, akan memperkuat kemampuan perseroan untuk mendongkrak pertumbuhan kredit ke depan. Apalagi pemerintah merencanakan peningkatan pemberian subsidi pembelian rumah bagi 200 ribu unit tahun 2023, dibandingkan target tahun 2022 sekitar 168 ribu,” terangnya dalam riset.

RHB Sekuritas juga memberikan pandangan positif terhadap persetujuan penjualan aset-aset yang tidak produktif atau NPL secara bulk sales lewat skema aset swap atau tukar guling aset dengan surat berharga.

Sebab, aksi ini diprediksi bisa membebaskan biaya provisi perseroan senilai Rp 700 miliar, menurunkan NPL berkisar 0,06 persen, dan LAR sebesar 0,18 persen.

BBTN telah mendapatkan persetujuan untuk menjual aset senilai Rp 1,1 triliun dengan target transaksi tuntas pada kuartal terakhir tahun ini. Penjualan aset dengan cara bulk sales lewat skema aset swap dengan surat berharga,” terangnya.

Berbagai strategi tersebut, mendorong RHB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBTN dengan target harga Rp 2.450 per saham.

Target tersebut juga mencerminkan kian pesatnya peningkatan laba bersih perseroan setelah rights issue dan penjualan aset tuntas tahun ini.