ANALIS MARKET (14/1/2022) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat Terbatas dengan Potensi Koreksi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Kamis, 13/01/2022 kemarin, IHSG ditutup menguat 11 poin atau 0,17% menjadi 6.658. Sektor infrastructures, industrial, basic materials, energy, transportation & logistic, dan healthcare bergerak positif dan mendominasi kenaikan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih 587 miliar rupiah.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat terbatas dengan berpotensi koreksi dan ditradingkan pada 6.625 – 6.712. Volatilitas di pasar semakin tinggi, kencangan sabuk pengaman anda!” beber analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (14/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.CHINA SEMAIN DIBELAKANG #bukanyamaha

Yuk kita lanjutkan pembahasan mengenai China, supaya tidak ketinggalan berita mengenai dari negeri panda. China diproyeksikan akan mencatat pertumbuhan ekonomi terlemahnya dalam lebih dari satu tahun terakhir ketika merilis data perekonomiannya pada Senin mendatang karena dorongan menurunnya pasar property yang semakin dalam dan Covid 19 yang menggangu prospek pemulihan. Pertumbuhan ekonomi China akan menurun dari Q3 21 4.9% menjadi 3.6%, yang dimana secara kuartal ini merupakan laju paling lambat sejak kuartal ke 2 tahun 2020 silam. Tidak hanya data mengenai pertumbuhan ekonomi, namun data mengenai industrial production dan penjualan ritel pun diproyeksikan melemah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Kami melihat sejauh ini China tidak menjalankan beberapa program penting yang telah dicanangkan dari tahun lalu, sebuah cetak biru atau blue print perekonomian dalam kurun waktu 10 tahun mendatang yang dimana tadinya harus dijalankan. Salah satunya adalah dual circulation yang dimana mendorong peningkatan konsumsi dari dalam negeri dan luar negeri, namun kami melihat momentum tersebut seakan hilang sejak Presiden Xi mengumumkan kemakmuran bersama yang mengubah segalanya. Momentum yang hilang ketika pemulihan baru berjalan, mungkin tidak bisa lagi kita dapatkan. Tiada yang salah, begitu kalau kata lagu Ada Band. Namun pemilihan waktu yang salah itulah yang membuat momentum pemulihan China menjadi hilang, berganti dengan sebuah tujuan baru mengenai, bagaimana menjaga stabilitas perekonomian China saat ini. Bukan lagi terfokus terhadap pemulihan perekonomian. Hilangnya momentum pemulihan ekonomi tersebut bahkan harus ditopang juga oleh penurunan Giro Wajib Minimum di perbankan untuk menciptakan likuiditas tambahan di pasar. Bahkan ketika penurunan Giro Wajib Minimum kurang, Bank Sentral China harus memangkas tingkat suku bunga pinjaman jangka panjang. Namun apakah itu mengubah kenyataan bahwa China mengalami perlambatan? Tidak pemirsa! Hal inilah yang membuat Bank Sentral China diperkirakan akan memangkas tingkat suku bunga utama mereka. Bukannya kami tidak senang, tentu kami senang. Namun kami cukup kecewa dengan langkah yang dilakukan oleh China. Tatkala China dan Amerika digadang gadang akan menjadi lokomotif pemulihan ekonomi dunia, sekarang ternyata China sudah bukan lagi menjadi lokomotif, hanya truck gandeng yang berusaha untuk menjaga jalannya perekonomian untuk tetap stabil. Tertinggal jauh dari sisi Amerika yang memang menjaga pemulihan ekonominya untuk tetap tumbuh dan konsisten meskipun Powell di benci terkait dengan inflasi. Namun toh, pada akhirnya Powell membuktikan bahwa perekonomian mampu pulih secara konsisten, dan memiliki tingkat kekuatan yang solid! Pemulihan ekonomi Amerika tentu bukanlah pemulihan ekonomi kaleng kaleng yang ternyata kuat di luar kopong di dalam. Permasalahannya adalah ketika terciptanya dua arus kebijakan moneter yang berbeda didunia, maka akan menimbulkan ketidakselarasan akan pemulihan ekonomi secara global yang berpengaruh terhadap nilai dari valuta asing itu sendiri. Namun tentu, dalam kehidupan ini selalu ada harga yang harus dibayar. Pemangkasan tingkat suku bunga oleh Bank Sentral China apabila kelak dilakukan, merupakan salah satu harga yang harus dibayar untuk menstabilkan ekonomi, bahkan mendorong pemulihan ekonomi yang kian tertatih. Apalagi seperti yang kita ketahui juga, China dilanda badai pada sector propertynya, yang dimana sector property China juga memberikan sumbangsih terhadap GDP sebesar hampir 25%. Investasi property bahkan diperkirakan mengalami pelemahan tahun lalu menjadi 5.2%, yang dimana merupakan laju paling lambat pada tahun 2015 silam. Segala cara telah dicoba, namun ternyata tekanan di sector property teramat besar sehingga membuat permintaan kredit rumah tetap melemah. Tadi kita sempat membahas mengenai dual circulation yang belum berhasil. Lagi lagi, daya beli juga belum kembali kepada level sebelum pra prandemi. Oleh sebab itu, data penjualan ritel diperkirakan juga akan kembali mengalami penurunan kembali. Lockdown partial yang dilakukan di kota Xian, membuat situasi dan kondisi semakin sulit terasa karena masyarakat semakin khawatir terkait dengan situasi dan kondisi yang mungkin tidak terkendali akibat Covid 19 sehingga lagi lagi mereka menunda konsumsinya. Kekerasan kepala China tengah melawan kebijaksanaan dalam mengambil sebuah keputusan. Yang masih belum terlihat membaik adalah data mengenai tingkat pengangguran yang diproyeksikan tidak atau belum berubah pada bulan December kemarin masih berada di kisaran 5%. Data 5% pun banyak yang meragukan, apakah data tersebut merupakan kenyataan yang sesungguhnya? Ataukah hanya data dengan asumsi semata? Seperti yang kemarin kita bahas juga lho ya pemirsa, ada kemungkinan bahkan data dengan berbagai indicator yang berbeda justru menunjukkan bahwa situasi dan kondisinya justru lebih buruk, karena data pengangguran tidak bisa memberikan gambaran para pekerja migran yang meninggalkan kota. Padahal China sudah berjanji untuk mencoba untuk menambah 11 ribu tenaga kerja di perkotaan pada tahun 2021 kemarin. Pertumbuhan pendapatan yang melambat merupakan salah satu factor lain yang merugikan konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi yang melambat merupakan salah satu fator yang merugikan rumah tangga yang dimana peningkatannya akan menjadi kunci untuk mendukung meningkatnya daya beli. Bukannya penulis tidak optimis terhadap perekonomian China, namun tentu kita semua harus berbicara realistis supaya kita tahu bahwa terkadang optimis saja tidak cukup untuk membuat perekonomian membaik. Yuk kita nantikan kabar selanjutnya dari China ya.

2.PERCAYA DIRI

Kenaikan harga komoditas yang dimulai dari semester II 2021 memberikan kontribusi pada naiknya perolehan ekspor. Hal ini tentu menaikkan kepercayaan diri pelaku pasar dimana surplus neraca dagang yang ikut menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan dalam negeri. Kami menilai kenaikan harga komoditas masih akan berlanjut setidaknya hingga semester I tahun ini. Kenaikan ini seiring dengan masih kuatnya permintaan di tengah pelonggaran aktivitas dan mulai membaiknya utilisasi dari pabrik. Penerimaan negara diproyeksikan juga akan terdampak positif sejalan kenaikan dari harga komoditas tersebut. Harga batubara, minyak sawit, nikel dan gas diproyeksikan masih melanjutkan kenaikannya. Hal ini seiring dengan pergantian musim yang dinilai dapat menaikkan konsumsi. Di sisi lain, kenaikan harga-harga sebenarnya telah memunculkan tantangan baru bagi perekonomian dunia, yaitu inflasi yang naik lebih cepat di sebagian besar negara. Di Amerika Serikat, kenaikan harga-harga telah menyentuh rekor tertingginya dalam empat dekade terakhir. Ini di samping masalah lain yang juga mendorong kenaikan inflasi, seperti masalah di rantai pasok. Indonesia justru menjadi salah satu negara yang masih cukup stabil dalam pengendalian kenaikan harga-harga. Inflasi di Indonesia di penutupan tahun 2021 tidak mencapai target minimal di 2%. Kenaikan harga komoditas memicu peningkatan pada nilai ekspor dinilai cukup berdampak positif ke penerimaan negara. Berdasarkan catatan sementara Kementerian Keuangan, sampai akhir tahun penerimaan negara mencapai Rp 2.003,1 triliun atau 114,9% terhadap target dalam APBN 2021. Seluruh sumber penerimaan negara mencapai target. Dari sisi perpajakan mencapai 103,9% dari target. Hal ini tidak bisa lepas dari setoran pajak sektor pertambangan yang melonjak 59,8% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Peningkatan harga komoditas menyebabkan peningkatan pada setoran PPh badan. Dari sisi kepabeanan, realisasi bea keluar melesat 708% dari capaian tahun 2020. Setoran bea keluar mencapai Rp 34,6 triliun atau 1.933% dari target dalam APBN. Kenaikan penerimaan ini didorong peningkatan pada volume ekspor dan harga komoditas, terutama dari kelapa sawit dan tembaga. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) berada di atas target, yakni 151,6% dari yang ada dalam APBN. Setoran PNBP migas naik 41,9% dikarenakan kenaikan ICP sepanjang tahun lalu. Selain itu, setoran PNBP non-migas juga naik 87,6% dari tahun 2020 dikarenakan kenaikan harga minerba seperti batu bara, tembaga dan nikel. Selain itu, berkat kenaikan harga CPO, penerimaan negara dari BLU tahun 2021 juga naik 72,5% dari tahun sebelumnya.