ANALIS MARKET (13/1/2022) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pada perdagangan hari Rabu, 12/01/2022, IHSG ditutup melemah 0,01% menjadi 6.647. Sektor technology, financials, properties & real estate bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar Rp 482 miliar.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan ditradingkan pada 6.593 – 6.690,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (13/1/2022).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.INFLASI OH INFLASI

Kali ini tidak langsung membahas Amerika lho pemirsa, tapi kita akan mulai dari China. Meskipun nanti akan bermuara di Amerika. Tekanan inflasi di China, mulai menunjukkan tanda tanda melemah pemirsa pada bulan December kemarin, sehingga memberikan ruang yang lebih besar kepada Bank Sentral untuk dapat memangkas tingkat suku bunga mereka untuk dapat menopang perekonomian. Karena kalau tidak, perlambatan perekonomian di China akan terus terjadi dan tentu saja hal ini berbeda dengan kebijakan moneter yang terjadi di berbagai berlahan dunia lainnya yang dimana mereka mulai masuk ke dalam tahap pengetatan. Indeks Harga Produsen mengalami penurunan dari sebelumnya 12.9% menjadi 10.3% pada bulan December kemarin. Inflasi pun menurun dari sebelumnya 2.3% di bulan November menjadi 1.5% pada bulan December. Inflasi yang rendah, akan memberikan tekanan kepada Bank Sentral China untuk dapat bertindak pada awal tahun 2022 ini agar tidak mengalami penurunan daya beli yang lebih dalam, dan mungkin saja nih pemirsa, Bank Sentral China akan memberikan kebijakan moneter baru pada awal tahun ini, yang dimana perubahan pemotongan tingkat suku bunga pertamanya terjadi pada April 2020 silam. Para pejabat yang berwenang tampaknya telah focus terhadap kebijakan yang mendukung pertumbuhan pada tahun ini, karena sebelumnya disebabkan oleh adanya penurunan di pasar property dan Covid 19 yang terjadi berulang kali sehingga mengganggu prospek pemulihan ekonomi. Sebelumnya kalau teman teman ingat, Bank Sentral China sudah menurunkan biaya pinjaman jangka panjang, dan pemangkasan Giro Wajib Minimum perbankan yang menambah likuiditas di pasar. Namun ternyata apabila hal tersebut dirasa belum cukup, tentu saja Bank Sentral China harus segera bereaksi untuk memberikan dorongan kepada perekonomian China. Pemotongan tingkat suku bunga di Bank Sentral China, akan menjadikan konsep antara Bank Sentral China dan Amerika menjadi berbeda. Volatilitas dalam mata uang pun pasti bertambah ditengah situasi dan kondisi seperti sekarang ini. Inflasi China yang rendah di harapkan akan mengalami pemulihan pada hari raya Imlek yang di perkirakan akan mengalami lonjakan permintaan makanan pokok dengan harga yang lebih tinggi. Kami melihat ada kesempatan yang lebih besar Bank Sentral China untuk dapat memangkas tingkat suku bunga jangka pendek untuk dapat memberikan likuiditas tambahan. Yang cukup menenangkan adalah bahwa tingkat pengangguran di China cukup stabil, meskipun indicator alternative menunjukkan bahwa ada kemungkinan tingkat pengangguran lebih buruk dari yang di proyeksikan. Yang menarik bagi kami adalah indicator M0, M1, dan M2 mengalami kenaikkan. Apakah masyarakat kembali menunda konsumsinya karena adanya gelombang Covid? Ini menjadi sesuatu yang menarik untuk kita perhatikan, karena situasi dan kondisinya sama seperti Indonesia kala itu. Bagi Partai Komunis, lowongan pekerjaan merupakan salah satu yang terpenting saat ini. Pemerintah China pun tadi sudah kita bahas, akan memberikan kebijakan yang pro pertumbuhan, dengan asumsi adanya pemangkasan tingkat suku bunga. Yang mengkhawatirkan adalah, di China, industry jasa merupakan sumber pekerjaan terbesar di China karena mempekerjakan sekitar 47% dari Angkatan tenaga kerja. Namun masalahnya, industry jasa sedang tidak melakukan penambahan tenaga kerja baru, alih-alih Covid yang lagi lagi akan membatasi pertumbuhan ekonomi. Nah yang bagian China selesai lho ini, tapi apakah researchnya berhenti sampai disini? Oh tentu tidak pemirsa. Seperti biasa, kebetulan Amerika juga baru saja mengeluarkan data inflasinya. Dan coba tebak pemirsa, inflasi yang keluar kemarin, lagi lagi menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Mantab! Hal ini semakin menunjukkan bahwa panggung The Fed akan siap untuk menaikkan tingkat suku bunga pada bulan Maret mendatang. Panggung yang bernama kenaikkan tingkat suku bunga tampaknya sudah mulai disiapkan untuk menahan laju inflasi yang dimana inflasi mengalami kenaikkan menjadi 7%, yang dimana inflasi saat ini merupakan yang tertinggi sejak June 1982. Inflasi yang mengalami kenaikkan didominasi oleh kenaikkan biaya sewa tempat tinggal dan kendaraan bekas. Biaya makanan juga memiliki kontribusi yang tinggi, namun harga energi justru mengalami penurunan. Padahal biaya energi yang memakan lebih banyak korban tahun lalu. Dengan dukungan tingkat pengangguran dibawah 4%, tentu hal ini akan membuat The Fed akan melakukan penyesuaian kebijakan yang akan dimulai pada pertemuan bulan January ini sebagai langkah persiapan menuju pertemuan The Fed pada bulan Maret 2022 mendatang. Ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran memberikan dampak inflasi yang konsisten, apalagi pasokan global yang mengalami hambatan. Namun kami melihat inflasi yang mengalami kenaikkan pun mungkin hanya akan sementara, karena kami melihat inflasi akan relative stabil di kisaran 3%. Well, apapun itu, inflasi akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan, bisakah China melaluinya dan Amerika menghadapinya? Biar waktu yang akan menjawabnya.

2.DUILEE

Bank Dunia memperkirakan Indonesia akan melanjutkan momentum pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 mencapai 5,2% pada tahun ini. Pertumbuhan tersebut didukung oleh permintaan yang kembali kuat dari dalam negeri diikuti dengan kenaikan harga komoditas. Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 mencapai 3,7 persen. Perkiraan ini masih sama dengan proyeksi sebelumnya yang dirilis Desember 2021 lalu. Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2023 masih melanjutkan kenaikan yaitu berada di 5.1%. Proyeksi Bank Dunia terhadap Indonesia lebih tinggi dibandingkan Thailand yang diperkirakan tumbuh hanya 3,9% pada 2022 dan 4,3% pada 2023, namun masih lebih rendah dibandingkan Filipina yang mencapai 5,9% pada 2022. Bank Dunia memperkirakan negara-negara yang bergantung pada pariwisata di Asia Tenggara seperti Kamboja, Malaysia, Filipina, dan Thailand tidak akan pulih ke level pra-pandemi hingga tahun 2022 atau 2023. Di sisi lain, Bank Dunia mencermati risiko penurunan terhadap prospek pertumbuhan di tengah tantangan terhadap penyebaran Covid-19 varian Omicron meskipun banyak negara di kawasan ini diperkirakan mencapai tingkat vaksinasi 70% pada pertengahan 2022. Disamping itu, meningkatnya risiko keuangan seiring dengan pertumbuhan tingkat utang juga menjadi hal yang dicermati oleh Bank Dunia.

3.FISCAL DAN MONETER

Stimulus fiskal dan juga moneter menjadi harapan dari pemulihan ekonomi domestik. Pemulihan konsumsi di tahun 2021 tentu akan menjadi hal yang akan dicermati dimana pelaku pasar juga akan menanti progress kelanjutan dari pemulihan tersebut di tahun 2022. Pemerintah masih akan memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat yang berasal dari APBN guna ikut mendorong pemulihan ekonomi nasional. Untuk mendukung pemulihan dan penanganan pandemi, sejumlah paket bantuan sosial dan stimulus fiskal kembali digulirkan. Salah satunya melalui program PEN 2022. Pada tahun ini, anggaran PEN ditetapkan sebesar Rp414,1 triliun. Pada anggaran PEN 2022, terdapat tiga program atau kluster yang masih akan bergulir selama setahun ke depan yaitu bidang kesehatan sebesar Rp117,9 triliun, perlindungan masyarakat sebesar Rp154,8 triliun dan penguatan pemulihan ekonomi sebesar Rp141,4 triliun. Pagu anggaran terbesar yaitu ditujukan untuk kebutuhan perlindungan masyarakat. Pada program ini, sejumlah program bantuan sosial yang ada pada tahun sebelumnya akan kembali dilakukan guna mendorong naiknya konsumsi masyarakat. Jika dibandingkan dengan alokasi bantuan pada program PEN 2021 dengan pagu anggaran Rp744,77 triliun, terdapat sejumlah program perlindungan sosial yang terlihat tidak muncul kembali. Misalnya, bantuan kuota internet, bantuan UKT, subsidi listrik, Bantuan Subsidi Upah, serta bantuan beras dan sembako PPKM. Terkait dengan hal tersebut, Menteri Keuangan sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah akan tetap merespons situasi pandemi Covid-19 dengan fleksibel. Sehingga kami menilai alokasi PEN akan menyesuaikan apabila terjadi kenaikan jumlah kasus baru. Di sisi lain, serangkaian program bantuan sosial akan kembali dilakukan lebih awal pada awal 2022. Kami melihat hal tersebut dapat menstimulasi naiknya permintaan di masyarakat lebih awal. Program lain seperti bantuan subsidi KUR 3%, bantuan untuk PKL dan warung, serta insentif pajak PPN DTP properti juga akan diprioritaskan untuk digulirkan awal tahun 2022. Adapun, dua program PEN lainnya yang kembali dilakukan tahun ini yaitu bidang kesehatan dan penguatan pemulihan ekonomi. Pada bidang kesehatan, PEN 2022 akan ditujukan untuk program 3T, perawatan pasien Covid-19, obat Covid-19, insentif tenaga kesehatan pusat dan daerah, vaksinasi dan pengadaan vaksin, insentif perpajakan vaksin, dan penanganan kesehatan lainnya di daerah. Pada bidang penguatan pemulihan ekonomi, anggaran dialokasikan untuk kegiatan terkait infrastruktur konektivitas, pariwisata dan ekonomi kreatif, ketahanan pangan, ICT, kawasan industri, dukungan UMKM, investasi pemerintah dan insentif perpajakan. Tentu ini menjadi harapan bagi pelaku pasar terhadap naiknya konsumsi yang juga diikuti dengan kenaikan kepercayaan konsumen seiring dengan pemulihan ekonomi. Sehingga hal tersebut dinilai dapat mendorong inflasi naik sejalan dengan pemulihan di negara maju.