Komisaris BEI Hingga BRI Ventura Pegang Saham Bukalapak

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - PT Bukalapak.com Tbk tengah menunggu pernyataan efektif penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Mengacu pada prospektus IPO Bukalapak yang diunggah pada laman e-IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal minggu ini, terdapat 258 pemegang saham berdasarkan Akta Notaris Nomor 112/2021 tanggal 30 April 2021 yang dibuat oleh Aulia Taufani, S.H., Notaris di Jakarta Selatan.

Rinciannya, sebanyak 54 pemegang saham utama dan 204 pemegang saham yang berasal dari kalangan karyawan Bukalapak.

Dalam akta tersebut tertulis jumlah saham sebanyak 309.186.058.216 lembar bernomimal Rp50 per lembar. Sehingga total modal disetor dan ditempatkan penuh mencapai Rp15,459 triliun.

Dari 258 pemegang saham tersebut, terdapat nama seperti Pandu Patria Sjahrir yang saat ini juga menjabat selaku Komisaris PT Bursa Efek Indonesia yang punya 14.871.331 lembar saham atau 0,62 persen saham Bukalapak.

Selain itu, BRI Venture memegang sebanyak 181.046.789 lembar atau 0,23 persen dan Mandiri Capital Indonesia juga memegang sebanyak 52.243.888 lembar atau 0,07 persen saham Bukalapak.com.

Adapun pemegang saham lainnya, yaitu; 500 Durian II LP memegang 73.170.808 atau 0,09 persen, 500 Durians LP memegang 426.249.828 atau 0,55 persen, 500 KImchi pegang 8.575.254 lembar atau 0,01 persen, 500 Startups III LP kuasai 85.225.367 lembar atau 0,11 persen; 500 Startups IV LP pegang 4.226.123 atau 0,01 persen, Achmad Zaky Syaifudin menguasai 4.452.515.674 lembar atau 5,76 persen; Adi Wardhana Sariaatmadja punya 768,785.501 lembar atau 0,99 persen; Alvin W Sariaatmadja punya 768.785.501 atau 0,99 persen; API Invesment Limited (Hongkong) pegang 13.448.351.573 atau 17,40 persen; Archipelago Invesment Pte Ltd pegang 9.736.593.677 atau 12,6 persen; Batavia Incubator Pte Ltd punya 2.547.974.800 lembar atau 3,3 persen; Bonangels Pacemaker Fund punya 59.675.328 atau 0,08 persen; Clara Natalie punya 2.126.242 atau 0,00 persen; Dwi Growing Star Fund pegang 42.287.596 atau 0,05 persen; Endeavor Catalyst II LP punya 85.945.826 lembar atau 0,11 persen; Endeavor Catalyst II-A LP punya 1.915.375 lembar atau 0,00 persen; IMJ Fenox Global Investment Limited pegang 170.389.226 atau 0,22 persen; Irep Co Ltd punya 511.220.393 atau 0,66 persen; Jaeyoun Doh punya 65.195.149 atau 0,08 persen; Jay Geoffrey Wacher punya 85.260.511 atau 0,11 persen; Komodo Indigo Invesment Ltd punya 395.375.401 lembar atau 0,51 persen; Komodo Opportunity Venture 1 Ltd punya 397.888.232 lembar atau 0,51 persen; K-Run no 1 Start Up Invesment Fund punya 12.687.158 lembar  atau 0,02 persen; Microsoft Corporation punya 931.855.888 lembar atau 1,21 persen; Mirae Asset- Naver Asia Growth Invesment Pte pegang 1.857.930.509 lembar atau 2,4 persen; Muhammad Fajrin Rasyid pegang 2.725.322.633 lembar atau 3,53 persen; Nandhika Wandhawa Putra Harahap punya 2.126.242 lembar;Naver Corporation pegang 266.245.795 lembar atau 0,34 persen; New Hope OCA Limited pegang 3.259.597.804 lembar atau 4,22 persen; Nugroho Heru Cahyono pegang 2.145.675.938 lembar atau 2,78 persen; One Shinhan Global Fund 1 pegang 482.094.405 lembar atau 0,62 persen; Pandu Patria Sjahrir pegang 14.857.331 atau 0,02 persen; Peter Teng He Xu pegang 266.245.795 lembar atau 0,34 persen; Phiong Tadhan Immanuel Yapi pegang 3.189.361 lembar; PT Asia Sahabat Indonesia punya 72.916.011 lembar atau 0,09 persen; BRI Venture Investama punya 181.046.789 lembar atau 0,23 persen; PT Kreatif Media Karya kuasai 24.661.347.283 lembar atau 31,9 persen; Mandiri Capital Indonesia pegang 53.243.888 lembar atau 0,07 persen; Muhammad Rachmat Kaimuddin punya 104.291.245 lembar atau 0,13 persen; Natalia Firmansyah punya 31.129.223 lembar atau 0,04 persen; PT Rockpol Teladan Investa punya 327.792.565 lembar 0,42 persen; Queensbridge Fund I LP pegang 191.713.139 lembar atau 0,25 persen; RDPT Batavia Prospektif Sektoral 1 pegang 636.668.614 lembar atau 0,82 persen; Genting Ventures VCC pegang 133.118.505 lembar atau 0,17 persen; Rionardo pegang 3.189.361 lembar ; Seungkook Lee pegang 18.881.371 lembar atau 0,02 persen; Standard Chartered UK  pegang 266.245.795 lembar atau 0.34 persen; Star AA Ventures Limited pegang 266.245.795 lembar atau 0,34 persen; Sung Jin Kim pegang 266.043.713 lembar atau 0,34 persen; Sutanto Hartono pegang 14.857.331 lembar atau 0,02 persen; Teddy Nuryanto Oetomo pegang 156.990.392 lembar atau 0,2 persen; UBS A cabang London pegang 1.914.302.254 lembar atau 2,48 persen; Virdienash Haqmal pegang 1,438.287.844 lembar atau 0,04 persen, dan Willix Halimn punya 1.438.287.844 lembarr atau 1,86 persen.

Sedangkan pemegang saham lain yang terdiri dari 204 karyawan dan mantan karyawan perseroan memegang 423.429.482 lembar atau 0,55 persen.

Sementara itu, mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Hasan Zein Mahmud dalam media sosialnya, Senin (12/7/2021) mengungkapkan, bahwa setelah menjadi perusahaan publik, Bukalapak diperkirakan akan terjadi pertumbuhan yang lebih cepat.

"Pengguna akan naik ekponensial. Jumlah mitra - segmen ini yang menjanjikan marjin keuntungan paling tinggi - juga akan meningkat. Kalau 5 persen  penduduk Indonesia membuka e-warung, akan ada potensi sekitar 13-14 juta peserta mitra. Biaya dan marjin laba yang disedot rangkaian jalur distribusi yang panjang, mengambil lebih dari separo. Apakah dalam  ekspansi tahap ini membutuhkan Rp 22 triliun? Jumlah itu sepuluh kali lipat dari nilai aset saat ini. Konsep keuangan yang benar mengajarkan bahwa biaya modal ekuitas harus lebih tinggi dari biaya modal utang. Perusahaan harus mampu mencatat kenaikan laba bersih minimal 7-8 persen per tahun,” papar dia.

Lebih lanjut Hasan juga menilai, kenaikan gross transaction value (GTV), diikuti oleh naiknya pendapatan. Dari 292 miliar tahun 2018 naik menjadi Rp1,07 triliun pada 2019, sebelum naik lagi menjadi Rp1,35 triliun pada 2020. Hal ini bukan hal yang utama dilihat oleh investor.

“Jangan lupa yang berhak diklaim oleh pemegang saham pada nilai perusahaan adalah sisa laba setelah pajak. Bukan GTV. Bukan Revenue (Pendapatan)!” ingat dia.

Terakhir Hasan mengingatkan, emisi 25 persen dari modal disetor dihargai Rp21,9 triliun. Artinya, kapitalisasi Bukalapak akan sekitar Rp 88 triliun. Sehingga nilai kekayaan pendiri sebagai perusahaan tertutup - yang tercermin dari nilai buku ekuitas - pada akhir 2020 baru sebesar Rp 1,67 triliun. Begitu menjadi perusahaan terbuka, naik menjadi Rp 64 triliun.

“Pendiri menjadi kaya berlipat dalam satu malam. Lha pemegang saham publik yang masuk belakangan???” imbuhnya.

Ditambahkan, jika dibandingkan Kapitalisasi Alibaba dihargai sekitar 5 x pendapatan. Menggunakan angka nisbah yang sama, kapitalisasi yang layak bagi Bukalapak adalah 5 x Rp 1, 35 triliun. Sekitar Rp 7 triliun.

“Bukan Rp 88 triliun,” tandas Hasan.