Regulator Benahi Sistem Pemesanan Saham E-IPO

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah membenahi sistem pemesanan saham perdana dengan mekanismen elektronik atau jamak dikenal E-IPO.

Pasalnya, sejak berlakunya POJK Nomor 41/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Kegiatan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas, Efek Bersifat Utang, dan/Atau Sukuk Secara Elektronik, hanya satu perusahaan yang telah melaksanakannya yakni PT Ulima Nitra Tbk (UNIQ).

Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna bahwa E-IPO sudah digunakan oleh UNIQ sebagai pilot project dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia tanggal 8 Maret 2021.

Ia menambahkan, kewajiban tersebut berlaku bagi Perusahaan yang melakukan pernyataan pendaftaran kepada OJK pada tahun 2021.

Sayangnya, berdasarkan daftar antrian IPO saham per tanggal 10 Juni 2021, dari 21 perusahaan yang ada hanya terdapat 3 perusahaan yang melakukan pernyataan pendaftaran kepada OJK pada tahun 2020 dengan menggunakan E-IPO.

“Sedangkan sisanya sebanyak 18 perusahaan melakukan pernyataan pendaftaran pada tahun 2021. Dengan demikian, perusahaan yang telah wajib menggunakan E-IPO berjumlah 18 perusahaan,” kata dia kepada media, Sabtu (12/6/2021).

Ia menambahkan, informasi yang masuk ke dalam sistem E-IPO, mulai dilakukan perusahaan apabila perusahaan tersebut telah mendapatkan Pra Efektif dari OJK.

Saat ini, sudah ada dua Perusahaan yang melakukan book building di sistem E-IPO, yaitu PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Bank Multiarta Sentosa Tbk (MASB).

Periode book building ARCI adalah 31 Mei 2021 sampai 9 Juni 2021, sedangkan periode book building MASB mulai 7 Juni 2021 sampai 15 Juni 2021.

Periode book building ARCI telah berakhir pada 9 Juni 2021 dan saat ini sedang menunggu efektif dari OJK.

Untuk memuluskan rencana itu, Nyoman menyatakan, pihaknya terus melakukan pengembangan dan penyempurnaan atas sistem E-IPO, termasuk meningkatkan kapasitas (sizing) dari sistem E-IPO.

Nyoman juga menyampaikan, BEI, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) bersama APEI (Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia) dan beberapa Penjamin Emisi, khususnya yang sedang membantu proses IPO saham, telah melakukan diskusi terkait penyempurnaan sistem E-IPO.

“Dengan adanya pengembangan serta pembahasan yang berkesinambungan dengan para pelaku pasar, diharapkan sistem E-IPO dapat berjalan optimal dan dapat mengakomodasi kebutuhan pasar modal ke depan,” pungkas dia.