Laba ZINC Anjlok 83 Persen Di Tahun 2020

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id PT Kapuas Prima Coal Tbk (IDX: ZINC) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 29,12 miliar sepanjang tahun 2020, atau anjlok 83,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp178,83 miliar.

Direktur Utama ZINC, Harjanto Widjaja menjelaskan, adanya pandemi Covid-19 selama tahun 2020 turut mempengaruhi kinerja perseroan dibandingkan pada tahun sebelumnya.

Meski demikian, kata dia, perseroan masih mampu membukukan penjualan sebesar Rp 608,1 miliar,atau turun 31,29 persen dibandingkan dengan tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp885,1 miliar.

Dijelaskan, kontribusi penjualan terbesar berasal dari pasar ekspor yang mencapai Rp 600,6 miliar. Rincinya, penjualan untuk komoditas bijih besi mencapai 377,3 persen atau sebesar Rp 7,41 miliar, dibandingkan pada tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp 1,55 miliar.

Sementara penjualan komoditas Seng Perseroan tercatat sebesar Rp 304,94 miliar, komoditas Timbal sebesar Rp 127,00 miliar, dan Perak sebesar Rp 168,75 Miliar.

“Kami melihat adanya peluang yang positif dari peningkatan harga komoditas di penghujung tahun 2020, terutama harga bijih besi. Oleh karenanya, Perseroan pun mulai menggerakan armada alat berat dan memulai kembali penambangan skala besar bijih besi di kuartal 4 tahun 2020 untuk persiapan Perseroan menghadapi tahun 2021. Langkah ini dinilai tepat melihat sekarang harga bijih besi sudah melewati USD 200 untuk kadar 62 persen.” kata dia kepada media, Minggu (30/5/2021).

Ia berharap, pada tahun 2021 ini, ZINC akan fokus untuk meningkatkan kapasitas produksi serta penambangan dari bisnis inti Perseroan.

Perseroan optimis dengan cadangan mineral yang dimiliki, dan kapasitas produksi dapat terus ditingkatkan untuk mendukung penjualan ke depan.

“Diharapkan pada tahun 2021 ini produksi konsentrat timbal dapat mencapai 17.500 ton, serta produksi konsentrat seng mencapai 46.000 ton sesuai dengan kuota ekspor yang kami miliki. Tentunya, target ini masih masih dapat berubah apabila peningkatan kapasitas produksi kami berhasil, di mana kami menargetkan kapasitas produksi dapat meningkat sekitar 20 persen - 30 persen di tahun ini. Selain itu, Perseroan juga akan terus meningkatkan produksi bijih besi untuk menangkap peluang positif dari peningkatan permintaan komoditas tersebut. Hal ini sebagai dampak dari perang dagang yang terjadi antara Australia dan China yang turut mengangkat harga komoditas tersebut,” tutup Harjanto.