Berorientasi Ekspor, Pemerintah Dorong Pengembangan Kawasan Hortikultura

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mendorong pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor melalui kerja sama kemitraan dengan sejumlah pemerintah daerah.

Adapun, pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor telah dilakukan di lima lokasi, yaitu; Kabupaten Tanggamus-Lampung, Kabupaten Jembrana-Bali, Kabupaten Bener Meriah-Aceh.

Sementara di Provinsi Jawa Timur antara lain; Blitar dan Bondowoso, serta Kabupaten Ponorogo dengan pengembangan kawasan di lahan seluas dua hektare.

"Inisiasi dan kerja sama kemitraan yang dilakukan oleh Kemenko Perekonomian ini dilakukan sebagai langkah untuk meningkatkan pemerataan ekonomi di daerah dan meningkatkan ketersediaan sumber pangan yang berkualitas," ucap Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono dalam keterangan tertulisnya, Minggu, (4/4/2021).

Lebih lanjut Susiwijono mengungkapkan, bahwa penanaman perdana pengembangan komoditas hortikultura yang dilakukan di Kabupaten Ponorogo akan menjadi role model manajemen agribisnis yang lebih baik melalui kemitraan dengan pelaku usaha yang sudah memiliki kompetensi untuk ekspor.

Sementara itu, BPS mencatat, sektor pertanian memiliki kontribusi sebesar 13,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau terbesar kedua setelah sektor industri pengolahan (19,88 persen).

Pada periode Januari-Februari 2021, ekspor sektor pertanian sebesar USD650 juta atau naik 10,17 persen terhadap periode Januari-Februari 2020 sebesar USD590 juta.

"Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam perekonomian Indonesia serta terbukti tangguh dan resilien di masa pandemi covid-19," tuturnya.

Sementara itu, selama masa pandemi covid-19 di 2020, terdapat sebesar USD389,9 juta nilai realisasi ekspor buah-buahan segar dan olahan.

Lebih detail, ekspor buah-buahan segar di 2020 sebanyak USD96,3 juta atau meningkat 30,31 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa produk buah-buahan Indonesia diminati oleh pasar global, sehingga perlu dikembangkan untuk meningkatkan daya saing produk serta meningkatkan kontribusi ekspor buah-buahan terhadap devisa negara.

Dari total ekspor buah-buahan segar dan olahan di tahun 2020 tersebut, ekspor produk olahan nanas memberikan kontribusi terbesar dibanding buah segar dan olahan lainnya, yaitu sebesar 70,30 persen. Sedangkan untuk ekspor buah-bahan segar, ekspor pisang memberikan kontribusi sebesar enam persen terhadap total ekspor buah-buahan segar.

"Terdapat lima negara tujuan utama ekspor utama produk buah-buahan Indonesia, yaitu Tiongkok, Hong Kong, Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Pakistan," papar Susiwijono.

Meski begitu, dalam pengembangan hortikultura di Indonesia, Susiwijono mengakui masih terdapat masalah dan tantangan seperti lemahnya SDM dan kelembagaan petani, terbatasnya modal, kurangnya pendampingan dan inovasi teknologi, serta rendahnya daya saing dan kurangnya akses pasar.

"Oleh karena itu, kerja sama kemitraan dengan petani perlu didorong agar petani dapat terbantu dalam merancang pola produksi hingga pemasaran sehingga petani menjadi mandiri dan tangguh," tegas dia.

Ia juga memastikan, bahwa pihaknya akan mengkoordinasikan melalui integrasi kebijakan, yaitu penyediaan lahan melalui optimalisasi kebijakan pemanfaatan lahan perhutanan sosial, peningkatan produksi, mutu dan daya saing produk, dan peningkatan akses pembiayaan petani melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Selain itu, peningkatan akses pasar melalui e-commerce, dukungan logistik, pembangunan sarana prasarana/infrastruktur transportasi, serta dukungan kebijakan tarif dan perdagangan internasional juga menjadi prioritas yang dilakukan Kemenko Perekonomian.

"Model kemitraan dengan PT Great Giant Pineapple (GGP) merupakan salah satu contoh terobosan strategi untuk membangkitkan animo petani pisang untuk terjun ke dalam agribisnis berorientasi ekspor. Namun demikian, pola kemitraan ditekankan pada pendekatan Creating Shared Value (CSV), yaitu keterpaduan peran dari semua pihak yang terlibat untuk memberikan nilai tambah," tandas Susiwijono.