Tangkal Krisis Ekonomi, Sri Mulyani Ingatkan APBN Harus Sehat

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, keuangan negara atau APBN menjadi instrumen penting dalam bangkitnya perekonomian saat terjadi krisis ekonomi.

Menurutnya, APBN selalu yang mendapat beban paling besar di tiga krisis terakhir, meskipun latar belakang krisisnya berbeda.

Tiga krisis tersebut adalah krisis moneter tahun 1997-1998, krisis Bank Century tahun 2008, dan pandemi Covid-19 tahun 2020.

"Kalau Anda lihat, krisisnya beda-beda. Tapi ujungnya semuanya sama, keuangan negara yang mengalami beban paling besar. At the end, itu yang disebut the real last resort, itu selalu keuangan negara," kata Sri Mulyani dalam Peluncuran Buku 25 Tahun Kontan secara virtual, Minggu (24/10/2021).

Sebab itu, Menkeu mengatakan, APBN harus menyehatkan kembali kondisi negara saat terjadi pandemi.

"Kita harus saling menyehatkan karena pada saat kemudian ekonomi ambruk, dia harus menjadi penyembuh dan penarik ekonomi balik lagi. Jadi depth to GDP preasure-nya kita turunkan, defisitnya kita turunkan, sehingga kita punya yang disebut fiscal space, begitu terjadi hantaman, fiscal space itu yang kita pakai," jelasnya.

Tanpa bantuan APBN, kata Sri Mulyani, warga akan jatuh lebih dalam. Masyarakat tidak lagi memiliki sumber pendapatan ketika kegiatan ekonomi terpaksa berhenti akibat pandemi Covid-19. Ujung-ujungnya, perbankan akan kesulitan dan negara pula yang menanggung beban tersebut.

Adapun dengan stimulus dan reformasi dari krisis sebelumnya, perbankan justru lebih kuat ketika pandemi Covid-19 menghantam. Hal ini terlihat dari cadangan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang mencapai dobel digit.

"Maka (dalam krisis) yang ketiga ini, bank sudah relatif kuat karena belajar dari dua krisis. Bank itu CAR tinggi, prudential regulation-nya cukup sangat prudent," ujar dia.

Dia pun mengaku senang sudah banyak pihak yang menyoroti APBN dengan detail. Hal ini berbanding terbalik saat krisis 1998 dan 2008.

"Tahun 97-98 tidak ada yang lihat APBN, dianggap taken for granted, di 2008-2009 pun tidak ada yang lihat APBN," katanya.

Namun, saat menghadapi krisis pandemi Covid-19 saat ini, banyak orang yang bahkan menyoroti tentang APBN dan utang yang diambil Indonesia. Bahwa, seluruh pihak menilai, kalau keuangan negara adalah instrumen penting.

"Sekarang semua orang ngurusin utang, semua orang mengurusi itu, jadi is good kita punya ownership terhadap keuangan negara, semuanya menyadari bahwa keuangan negara itu adalah instrumen yang luar biasa penting yang akan dan harus hadir pada saat negara menghadapi kemungkinan terjadinya (krisis)," tuturnya.

Lebih lanjut, wanita yang akrab disapa Ani ini menyampaikan, pemerintah perlu mengejar pendapatan ketika negara sehat. Sebab, keuangan negara harus mampu mengantisipasi setiap krisis yang terjadi.

"Pandemi bukanlah awal dan akhir dari krisis dunia. Masih ada kemungkinan besar krisis-krisis lain datang kembali dalam beberapa tahun ke depan, termasuk perubahan iklim hingga disrupsi digital," tandas Menkeu.