BEI Tata Ulang Indeks Sektoral Menjadi 12

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menata ulang indeks sektoral atau klasifikasi berdasarkan bidang usaha emiten.

Hal itu untuk menampung jenis usaha baru, mendefinisikan sektor secara spesifik dan mengacu pada praktek di bursa utama lainnya.

Menurut Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, bahwa sejak tahun 1999, bursa menentukan indeks sektoral berdasarkan Jakarta Stock Industrial Classification atau JASICA, yang terdiri dari 10 indeks sektoral dan 56 sub sektor.

Sedangkan JASICA mengacu kepada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLUI) keluaran Badan Pusat Statistik (BPS).

“Kami akan terus menerus menyelaraskan best practices bursa utama lainnya. Nah, pengklasifikasian yang baru kami bernama IDX Industrial Clasification atau IDX-IC yang akan diluncurkan 25 Januari 2021,” ujar Hasan, dalam edukasi wartawan IDX secara daring, Rabu (20/01).

Ia menambahkan, perombakan klasifikasi sektoral berdasarkan IDX-IC akan terdiri dari empat tingkat, yakni Sektor, Sub Sektor, industri dan sub industri.

Bandingkan dengan JASICA, yang hanya dua tingkat, yakni Sektor dan Sub Sektor.

“Tapi masa transisi indeks sektoral berdasarkan JASICA akan tetap ditampilkan dalam tiga bulan kedepan atau hingga akhir April 2021. Di samping itu, harus sudah menampilkan indeks sektoral berdasarkan IDX-IC,” jelas dia.

Selanjutnya, akan dilakukan evaluasi setiap bulan Juli, guna memastikan seluruh laporan keuangan audit sudah disampaikan dan indeks sektoral akan diumumkan setiap Juli.

Dari pengklasifikasian berdasarkan 12 indeks sektoral, yakni energi, konsumen non primer, teknologi, barang baku, kesehatan, infrastruktur, perindustrian, keuangan, transportasi dan logistik, konsumen primer, properti and real estate dan produk investasi.

Sedangkan indeks sektoral yang ada saat ini adalah pertanian, pertambangan, industri dasar dan kimia, aneka industri, konsumer, properti, real estate dan konstruksi, infrastruktur utilities dan transportasi, keuangan, perdagangan dan investasi serta manufaktur.

Di kesempatan yang sama, Kepala Pengembangan Bisnis BEI, Ignatius Denny Wicaksono mengungkapkan, bahwa metodologi penentuan sektoral IDX-IC akan produk dan jasa yang dihasilkan emiten dan sumber pendapatan utama, tapi jika tidak/belum mencatatkan pendapatan, maka akan dilihat sebagai aset.

“Bahkan, BEI juga bisa melihat proyeksi dan strategi yang disampaikan emiten,” kata dia.