Gagal Bayar Kupon Utang USD150 Juta, BEI Bekukan MDLN

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspend) perdagangan efek PT Modernland Realty Tbk (IDX: MDLN) mulai sesi II perdagangan tanggal 30 September 2020.

Kebijakan itu diambil setelah emiten properti itu melaporkan kegagalan pembayaran kupon surat utang senilai USD150 juta yang diterbitkan anak usahnya, JGC Ventures Pte Ltd.

Menurut keterangan resmi BEI, Rabu (30/9/2020) kejadian tersebut menjadi tanda adanya keraguan atas kelangsungan usaha MDLN.

“Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdaganga efek MDLN dan MDLN01BCN1 diseluruh pasar,” tulis manajemen BEI.

Untuk diketahui, pada penutupan sesi I hari ini, MDLN berada pada level 51 dengan nilai transaksi Rp284,4 miliar. Sedangkan sepanjang tahun ini telah turun 76,16 persen.

Sebelumnya, PT Modernland Realty Tbk (MDLN) berencana mengajukan moratorium dan permohonan surat utang yang diterbitkan anak usaha, JGC Ventures Pte Ltd senilai USD150 juta di Pengadilan Singapura.

Berdasarakan keterangan emiten properti itu pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9/2020) bahwa langkah moratorium itu dipercaya dapat menurunkan peringkat utang perseroan dari SD (Selective Default).

Dijelaskan, Perseroan selaku penjamin utang anak usaha tersebut mengambil langkah itu (moratorium - Red) setelah gagal membayar kupon pada waktunya yakni tanggal 31 Agustus 2020. Ditambah surat utang tercatat di bursa Singapura itu akan jatuh tempo pada tahun 2021.

“Dikarenakan pandemi Covid-19 menyebabkan bisnis perseroan dan anak usaha terdampak dan menyebabkan JGC Ventures Pte Ltd tidak dapat membayarkan kupon yang jatuh tempo tanggal 31 Agustus 2020,” tulis Manajemen MDLN.

Untuk diketahui, berdasarkan laporan keuangan 31 Maret 2020, total kewajiban jangka pendek perseroan tercatat sebesar Rp2,1 triliun.

Dengan rincian, utang obligasi senilai Rp149 miliar, utang bank senilai Rp53,4 miliar, selebihnya beban yang harus dibayar sebesar Rp986,2 miliar dan uang muka pelanggan sebesar Rp655,7 miliar.