ANALIS MARKET (28/9/2020) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi bergerak melemah kemarin, meskipun ada tanda tanda penguatan dari obligasi 15y.

Namun demikian kami melihat bahwa pelaku pasar dan saat ini masih sangat enggan untuk masuk ke dalam pasar obligasi meskipun imbal hasil nya menarik.

Kekhawatiran terkait dengan perekonomian Indonesia hingga sisa akhir tahun yang masih tanda tanya masih akan membuat pelaku pasar dan investor cemas sekaligus masih menaruh harapan.

Harapan apa? Harapan akan adanya vaksin yang dapat didistribusikan pada bulan December nanti menjadi salah satu satu harapan bahwa perekonomian akan kembali pulih.

Tidak hanya itu saja, harapan berikutnya adalah pemilu yang akan berlangsung di Amerika.

Apabila calon pilihannya merupakan salah satu yang disukai pasar, tentu hal tersebut akan mendorong harapan dan ekspektasi mengalami kenaikkan.

Dan apabila kedua variable tersebut terpenuhi, sudah pasti pasar akan mengalami kenaikkan. Yang terakhir adalah rebalancing portfolio di akhir tahun mungkin akan menjadi salah satu daya dorong untuk mengangkat pasar naik.

Oleh sebab itu, kami melihat peluang capital inflow masih ada, meskipun kecil. Penurunan imbal hasil obligasi mungkin saja terjadi, meskipun tampaknya akan semakin berat untuk bisa mencapai di bawah 6.75% untuk obligasi 10y.

Menjelang akhir bulan tidak ada yang bisa kita nantikan, namun awal bulan depan akan menjadi cerita yang berbeda. Beberapa data mungkin akan mencuri perhatian, khususnya dari dalam negeri. Namun tetap hati hati, karena data mengenai resesi siap untuk menghantui pasar bulan ini.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Senin (28/9) pagi ini cerita pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas. 

“Kami merekomendasikan jual apabila penurunan lebih dari 75 bps,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (28/9/2020).

Adapun cerita di awal pekan ini akan kita awali dari;

1.PUMP UP!

Bank yang berada di daerah Eropa siap untuk memberikan obat baru, pendanaan yang sangat sangat murah atau dikenal dengan sebutkan Ultra Cheap versi terbaru dari Samsung Galaxy Note Series. Eh bukan itu maksudnya pemirsa, tapi Ultra Cheap disini merupakan salah satu konsep pendanaan yang sangat murah yang dimana hal tersebut merupakan salah satu upaya dari Bank Sentral Eropa untuk memberikan kepada mereka yang membutuhkan sebagai insentif untuk memberikan pinjaman kepada mereka yang mengalami masalah perekonomian. Pinjaman yang diberikan kemarin dikenal dengan sebutan TLTRO yang dimana Bank akan memberikan pinjaman jangka Panjang dengan tingkat suku bunga -1% yang dimana itu artinya Bank Sentral Eropa akan membayar kepada mereka yang meminjam uang tunai kepada perusahaan atau rumah tangga. Meskipun tawaran tersebut menarik, bank sejauh ini sudah memiliki dana yang cukup setelah sebelumnya bank bank tersebut mencatatkan rekor sebanyak 1.3 triliun euro atau $1.5 triliun dalam operasi selama 3 bulan yang lalu. TLTRO akan menjadi salah satu amunisi kebijakan yang paling penting yang Bank Sentral Eropa terbitkan karena memberikan kompensasi kepada bank dengan tingkat suku bunga berada di -0.5%. Dari Emerging market mungkin akan menghadapi bulan yang sangat sulit pada October nanti. Alih alih optimis, hati hati mungkin menjadi salah pilihan yang paling penting saat ini. Kesenjangan antara volatilitas mulai semakin terlihat antara emerging market dengan G7, khususnya tekanan akibat wabah virus corona. Laporan manufacturing dari China, India, Brazil, dan Afrika Selatan akan menjadi salah satu tolok ukur penting pekan ini karena akan menentukan arah selanjutnya khususnya perekonomiannya bagi emerging market. Volatilitas market akan bertambah seiring dengan semakin dekatnya pemilu Presiden di Amerika yang dimana debat antara Trump dan Joe Biden akan dimulai pada hari Selasa mendatang. Dari India dan Filipina sendiri akan mengadakan Pertemuan Bank Sentral yang dimana, kami perkirakan Bank Sentral India dan Filipina akan memberikan pandangan baru terhadap kebijakan moneter yang mereka miliki, namun kami melihat mereka akan menjaga tingkat suku bunga mereka untuk tidak mengalami perubahan saat ini. India dan Filipina akan berusaha untuk menyeimbangan kebutuhan antara stimulus tambahan dengan volatilitas yang mengalami peningkatan. Bank Sentral India ada kemungkinan akan berusaha untuk meningkatkan likuiditas dengan melonggarkan kembali kebijakan mereka. Sedangkan untuk Bank Sentral Filipina ada kemungkinan akan memangkas tingkat suku bunga, tapi bukan sekarang lho ya. Nanti, entah itu kapan yang jelas tidak pada bulan ini. Dari China sendiri, mereka akan merilis data manufacturing yang diperkirakan akan menunjukkan kenaikkan sehingga memberikan gambaran akan adanya pemulihan perekonomian. Sejauh ini keuntungan di industry China mulai mengalami kenaikkan selama 4 bulan berturut turut. Kami tentu sangat berharap bahwa pemulihan di China khususnya dapat berjalan dengan konsisten agar dapat menopang beberapa negara yang memiliki hubungan kedekatan perdagangan dengan China, katakana seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan German secara tidak langsung tentu hal tersebut akan mendorong kerjasama perdagangan sehingga memberikan dorongan untuk melakukan pemulihan.

2.SIMALAKAMA?

Pemerintah berencana mengurangi stimulus kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk tahun depan. Beberapa sektor industri akan dipantau untuk tetap mendapat bantuan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan bahwa jenis usaha yang akan mendapat bantuan adalah mereka yang paling terpukul karena Covid-19. Selain itu juga mempekerjakan banyak orang. Febrio menjelaskan bahwa sektor perdagangan pasti bakal menjadi sorotan karena menyerap banyak orang. Sementara yang paling terdampak paling dalam menurutnya adalah yang berkaitan dengan transportasi dan pariwisata. Di samping itu, pemerintah juga memerhatikan jenis usaha yang bisa pulih dengan sendiri dan tidak. Pertimbangan-pertimbangan itulah yang menjadi kajian dalam mengalokasi stimulus. Tahun ini, bantuan pemerintah dalam bentuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) secara total berjumlah Rp695,2 triliun. Berdasarkan anggaran tahun depan, terdapat penurunan setengahnya menjadi Rp365,5 triliun. Dalam hal ini kami melihat ada baik maupun buruknya, hal baiknya apabila dana tersebut sesuai dengan target dari industry yang memang akan dituju, tentu pemerintah lebih optimal dalam menjalankan stimulus fiskalnya, sehingga dana tersebut memang benar – benar tepat sasaran. Namun hal lain yang juga kami perhatikan adalah beberapa sector yang mungkin tidak masuk prioritas pemerintah tentu juga menjadi bagian dari industry terdampak, dimana permintaan mereka saat ini juga ikut berkurang akibat dari pandemic yang terjadi saat ini. Kami berharap pengurangan dari anggaran tersebut memang telah diperhitungkan oleh pemerintah guna mendorong perekonomian dari sektor lain.