Perbankan Diminta Tidak Tebar Dividen Dalam Masa Normal Baru

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Perbankan diminta untuk menahan laba bersih untuk dicatatkan sebagai laba ditahan, guna memperkuat permodalan dalam menghadapi masa normal baru.

Pandangan itu disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Ryan Kiryanto dalam diskusi digital Peran Pemilik Dalam Mendukung Kinerja Bank, Kamis (09/7).

“Bahkan The Fed juga telah meminta perbankan untuk tidak membagi dividen dari laba bersih sebagai bentuk penguatan modal,” kata dia.

Ditambahkan, pandemi Covid-19 dapat berlangsung dalam waktu yang panjang sebagai dampak gelombang keduanya, sehingga perbankan rentan menghadapi rasio kredit bermasalah.

“Jika NPL (Non Performin Loan) meningkat maka CKPN juga perlu ditingkatkan, maka modal menjadi isu penting. Tentu selain berbagai cara, maka yang paling memungkinkan adalah menahan laba bersih,” jelas Ryan.

Terlebih, dia melihat, Capital Adequacy Ratio (CAR) secara industri sejauh ini sudah menurun dari 23% ke level 21% hingga Maret 2020. Artinya, sejauh ini telah banyak bank-bank telah mengeluarkan dana pencadangannya.

Bank pun saat ini tidak hanya harus menjaga kualitas asetnya, tapi juga harus menjaga likuiditasnya. Sehingga penting bagi bank-bank untuk menjaga kecukupan modalnya.

“Karena likuiditas itu diibaratkan seperti darah. Di situ ada vitamin, nutrisi dan sebagainya. Jika bank likuiditasnya kering, bisa bahaya," beber Ryan.

Sementara itu, Chairman Infobank Institute, Eko B Supriyanto menyatakan, perlunya pengaturan rasio pembayaran dividen atau dividen pay out ratio terutama bagi bank-bank BUMN seperti BMRI, BBRI, BBNI dan BBTN.

“Kita lihat struktur pemegang saham di luar pemerintah, bank-bank BUMN banyak dikuasai asing sehingga saat pembagian dividen, hingga 70 persennya ke luar negeri. Sehingga perlu pengaturan rasio dividen kalau perlu nol,” imbuh dia.