Jokowi Sebut Investasi Tidak Bisa Lagi Diandalkan Untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Foto : istimewa

Pasardana.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kondisi saat ini tidak bisa mengharapkan investasi untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, yang bisa dilakukan saat ini adalah menggenjot belanja pemerintah.

“Kita tidak bisa mengharapkan lagi yang namanya investasi. Itu pasti minus pertumbuhannya. Yang bisa diharapkan sekarang ini, semua negara hanya satu yang diharapkan, yaitu belanja pemerintah, spending kita, belanja pemerintah,” ungkapnya dalam pidato yang diunggah di laman Setkab.go.id, Rabu (15/7/2020).

Oleh sebab itu, Presiden meminta agar para Gubernur mempercepat belanja Pemerintah. Sehingga, konsumsi di dalam negeri akan bisa meningkat ke depan.

Asal tahu saja, Pemerintah kembali merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua. Jika sebelumnya diprediksi minus 3,8% direvisi menjadi minus 4,3%.

Hal ini disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat bertemu para Gubernur di Istana Kepresidenan, Bogor.

“Pagi tadi yang saya terima, kuartal kedua mungkin kita bisa minus ke 4,3%. Di kuartal pertama kita masih positif 2,97%. Saya enggak bisa bayangin kalau kita dulu lockdown gitu mungkin bisa minus 17%,” katanya.

Jokowi meminta agar belanja pemerintah jangan sampai di rem jika ekonomi di daerah ingin cepat pulih. Dia minta agar belanja Pemda harus dipercepat.

“Kuncinya hanya di situ. Enggak bisa lagi kita mengharapkan sekali lagi, investasi, swasta, enggak. Karena ini munculnya memang harus dari belanja pemerintah,” tuturnya.

Lebih lanjut Presiden juga mengatakan, bahwa tidak bisa lagi berharap pada kredit perbankan. Meskipun memang sebelumnya kredit perbankan bisa tumbuh mencapai 13%.

“Sekali lagi, belanja pemerintah. Oleh sebab itu, saya berharap, belanja-belanja yang ada ini, harus dipercepat. Karena itu akan menaikan konsumsi domestik kita, konsumsi rumah tangga kita yang di kuartal kedua ini turun, anjlok,” tuturnya.

Selain itu, Presiden juga menekankan bahwa di kuartal ketiga, semua jajaran pemerintah harus berani berbuat sesuatu untuk menggenjot perekonomian.

Jokowi menyebut, momentumnya adalah di bulan Juli, Agustus, dan September.

“Momentumnya ada di situ. Kalau kita enggak bisa mengungkit di kuartal ketiga, jangan berharap kuartal keempat akan bisa, sudah. Harapan kita hanya ada di kuartal ketiga, Juli, Agustus, dan September,” ujarnya.

Untuk bisa mendorong belanja modal, Jokowi meminta agar proses birokrasi di daerah bisa lebih disederhanakan.

"Manajemen yang kita pakai adalah manajemen krisis, bukan manajemen biasa. Tidak bisa business as ussual. Jadi, sederhanakan regulasinya, sederhanakan SOP-nya," tandas Presiden.