Imbas Pandemi Covid-19, Kas PT KAI Minus Rp3,4 Triliun

Foto : istimewa

Pasardana.id - Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Didiek Hartantyo mengungkapkan, pandemi Covid-19 berdampak langsung terhadap kinerja operasional perusahaan hingga akhir tahun.

Salah satu buktinya adalah pendapatan perseroan yang anjlok selama pandemi.

Didiek merinci, pada awal tahun yakni Januari sebenarnya pendapatan perseroan cukup bagus yakni Rp2,3 triliun.

Namun pada Februari, pendapatan rata-rata KAI mencapai hanya Rp500 miliar.

"Pendapatan kami mengalami penurunan. Kalau kondisi normal Rp2,3 triliun. Sekarang hanya Rp500 miliar," ujarnya, Kamis (09/7).

Penurunan ini berdampak juga pada cashflow perseroan yang mengalami defisit. Tak tanggung-tanggung pada semester I 2020 ini, cashflow perseroan defisit Rp1 triliun.

"Sehingga cashflow kami mengalami defisit Rp1 triliun," ucapnya.   

Ditambah lagi, pada semester pertama tahun ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan tersebut diambil dalam rangka untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Tanah Air. 
Karena itu, untuk menutupi dan membantu cashflow, KAI meminta dana talangan sebesar Rp3,5 triliun kepada pemerintah.
Pada akhir tahun, keuangan KAI diprediksi berada di posisi minus Rp3,4 triliun. Tujuannya adalah untuk menjaga agar arus kas perseroan tetap positif.
"Setelah efisien operasional sesuai skenario maka KAI masih membutuh dana Rp3,5 triliun untuk menjaga arus kas positif 2020," katanya.
Perlu diketahui,  pada awal tahun, sebenarnya pendapatan KAI cukup baik, yakni Rp2,3 triliun. Namun, pada Februari, pendapatan KAI mulai turun menjadi Rp1,2 triliun saja. 
Lalu pada Maret, pendapatan KAI semakin anjlok karena hanya mendapatkan Rp890 miliar saja. Penurunan berlanjut hingga April yang hanya membukukan pendapat Rp684 miliar saja.
Sementara itu, KAI juga harus tetap mengeluarkan biaya operasional yang mana jumlahnya cukup tinggi. Pada Januari alokasinya Rp1,7 triliun, Februari Rp749 miliar, Maret Rp1,4 triliun, dan April Rp1,2 triliun.
Belum lagi KAI juga harus menanggung pembayaran bunga dan beban keuangan yang hingga akhir tahun diproyeksi Rp920 miliar. Lalu, ada pembayaran pajak penghasilan Rp479 miliar hingga akhir tahun.
Dengan begitu, jika diakumulasikan, pendapatan sepanjang tahun 2020 diperkirakan hanya mencapai Rp11,98 triliun. Sedangkan pembayaran kepada pemasok dan karyawan KAI kebutuhannya mencapai Rp14,02 triliun sampai akhir tahun.

"Jadi kita sudah bicarakan dengan Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan disepakati Rp3,5 triliun. Mekanismenya sedang kami tempuh dalam rangka mengkaji dana talangan Rp3,5 triliun," pungkasnya.