Dirut Guruda Prediksi Industri Penerbangan Akan Kembali Normal 2-3 Tahun Lagi

Foto : istimewa

Pasardana.id - Industri penerbangan mendapatkan tantangan berat akibat wabah Covid-19.

Sektor usaha ini diperkirakan tidak pulih dalam waktu dekat pasca pandemi.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra mengungkapkan, pihaknya telah mengadakan survei terhadap perilaku konsumen.

Pelanggan loyal Garuda ternyata tidak akan langsung terbang meski pandemi berakhir.

"Kami lakukan riset kecil-kecilan terhadap kita punya GA Miles dan dari riset ini berkeinginan tetap pergi. Tapi yang mengagetkan, 65 persen dari responden menyatakan posisinya wait and see,” ujarnya, Selasa (2/6/2020).

Ke depan, menurut Irfan, industri penerbangan mendapat tantangan berupa penurunan penumpang secara drastis.

Dia menyebut, proses pemulihan psikologi masyarakat membutuhkan waktu.

"Kami mendapatkan konsesus, industri ini bisa recovery sebelum Covid-19 dalam masa dua sampai tiga tahun,” katanya.

Oleh karenanya, dia meyakini ke depannya industri penerbangan perlu melakukan penyesuaian yang terfokus terhadap keamanan dan kesehatan penumpang.

Dalam masa penyesuaian tersebut, penumpang penerbangan diproyeksi akan menurun.

Sebab, salah satu protokol yang perlu dilakukan untuk menjamin calon penumpang dari sebaran Covid-19 adalah dengan menerapkan physical distancing.

"Kalau kemudian distancing harus dipastikan dilakukan tentu saja kita harus mengkaji harga penerbangan tersebut," kata Irfan.

Selain itu, penurunan penumpang juga akan terjadi akibat ketatnya persyaratan bepergian menggunakan pesawat.

Salah satunya, soal biaya tes PCR yang lebih mahal daripada harga tiket pesawat.

“PCR test yang 2,5 juta dan beberapa sudah menurunkan harganya, itu lebih mahal daripada biaya bepergian khususnya lokasi yang berdekatan seperti Jakarta-Surabaya. Jadi, apalagi kalau bepergian tujuh hari yang berarti harus PCR dua kali dan biayanya harus Rp 5 juta sementara perjalanan bolak balik hanya Rp 1,5 juta,” ucap Irfan.