ANALIS MARKET (20/5/2020) : Penguatan Di Pasar Obligasi Berpotensi Berlanjut

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, kekuatan pasar obligasi mulai mengalami pelemahan, meskipun masih terjadi kenaikkan. Pertemuan Bank Indonesia kemarin, sudah diantisipasi oleh pasar.

Dengan tidak adanya urgensi terkait dengan penurunan, tentu hal ini membuat Bank Indonesia lebih suka menahan pemotongan tingkat suku bunga 25 bps, untuk dikeluarkan ketika wabah virus corona mulai melandai dan mulai membutuhkan stimulus dalam bentuk kebijakan moneter.

Tentu hal ini membuat Bank Indonesia dapat menyimpan amunisi hingga hal tersebut dibutuhkan.

Lagi pula, dengan apa yang sudah diberikan sebelumnya, kami melihat masih lebih dari cukup, apa lagi PSBB juga sudah mendekati akhir, sehingga aktifitas perekonomian bisa kembali berjalan meskipun pelan tapi setidaknya ini merupakan sebuah awal yang baik.

“Hari ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif, dengan potensi rentang naik dan turun sebanyak 35 – 50 bps. Saat ini secara teknikal analisa, obligasi acuan 10y, 15y, dan 20y, sudah menyentuh batas resistensi secara harga, apabila ternyata volume yang menopang tidak kuat, maka pasar obligasi hari ini berpotensi untuk terjadi penurunan. Namun apabila ternyata volume yang menopang kuat, maka besar kemungkinan titik resistensi tersebut dapat terlewati dan menjadi sebuah tanda bahwa penguatan masih akan terus berlanjut,” ungkap analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (20/5/2020).

Ditambahkan, fokus utamanya adalah konsistent, dan berharap bahwa berita mengenai obat antibody untuk melawan wabah virus corona dapat segera terwujud.

“Hari ini adalah hari terakhir perdagangan, sehingga ada kemungkinan total transaksi obligasi akan mengalami penurunan, sehingga akan ramai kembali pada hari Selasa pekan depan,” jelas analis Pilarmas.

Berikut ini cerita akhir pekan sebelum menjelang Lebaran;

1.SEBUAH HARAPAN

Pada akhirnya mungkin ada secercah harapan, karena adanya pengujian vaksin untuk corona virus yang berhasil menghasilkan antibody untuk covid 19. Tentu hal tersebut memberikan sinyal bahwa vaksin corona kian semakin nyata. Namun yang jadi pertanyaan adalah, apakah ini sebuah angin sorga semata? Ataukah memang sebuah asa yang kian nyata? Karena setiap kali pasar mengalami tekanan yang tidak dapat dihentikan, selalu muncul berita yang selalu ingin didengarkan pasar, yaitu sebuah vaksin. Tentu kami berharap bahwa vaksin tersebut menjadi sebuah kenyataan, bukan hanya sebagai alat sentimen untuk menggerakan pasar. Sejauh ini dalam fase pertama menunjukkan sebuah hasil bahwa vaksinasi dengan tipe mRNA-1273 telah menunjukkan respon kekebalan terhadap virus corona. Sehingga hal tersebut memberikan keyakinan bahwa vaksin tersebut memiliki potensi untuk mencegah penyakit covid 19, sehingga focus berikutnya ada pengaturan dosis agar sesuai dengan yang dibutuhkan. Sebelumnya para pejabat mengatakan bahwa untuk memproduksi vaksin covid 19, akan memakan waktu dengan rentang 12 – 18 bulan. Dan saat ini lebih dari 100 vaksin sedang dikembangkan secara global menurut data dari WHO, dan 8 vaksin sedang diuji cobakan kepada manusia. Sejauh ini moderna adalah perusahaan pertama yang merilis data uji coba kepada manusia, sehingga memberikan kesempatan kepada moderna untuk bisa menjadi role model. Moderna akan melakukan pengujian uji coba berikutnya pada bulan July mendatang. Besar harapan kami bahwa hal ini bukan hanya janji semata, melainkan menjadi bukti nyata bahwa fase pemulihan telah tiba. Namun subuh tadi pagi kami mendapatkan informasi bahwa ada laporan yang beredar yang mengatakan bahwa Moderna tidak memberikan data yang cukup valid untuk dinilai dalam laporannya. Berita ini membuat goncangan terhadap pasar, yang membuat indeks langsung bergejolak dan ditutup melemah di berbagai negara. Lagi lagi seperti yang kami tulis diatas, bahwa sentimen vaksin ini menjadi sebuah sentimen yang cukup sensitive untuk dapat mengkukus pergerakan market ke depannya. Kehati hatian merupakan hal yang terpenting saat ini, sehingga ada kemungkinan besar hal ini akan mempengaruhi pergerakan pasar hari ini.

2.CORONA BOND

Ada sebuah rencana baru dari France dan German karena mereka akan bersatu untuk mendirikan dana bantuan untuk melawan wabah virus corona di Eropa. Visi dari dana bantuan tersebut adalah menugaskan komisi Eropa, Badan Eksekutif Eropa untuk mengumpulkan dana senilai 500 miliar Euro atau ($545 miliar). Uang ini nantinya akan digunakan sebagai hibah untuk berbagai sector dan daerah dimana wabah virus corona paling banyak memberikan dampak. Alokasi dana tersebut akan dilakukan melalui anggaran Eropa, yang dimana akan menerima kontribusi dari 27 negara anggota dan akan membiayai semua proyek tersebut di seluruh wilayah. Rencana tersebut merupakan rencana yang bersejarah khususnya dari German yang melakukan penggalangan dana untuk mendanai negara negara anggota Uni Eropa lainnya. Sejauh ini, beberapa negara Eropa, dimana ada Italia, Spanyol dan France akan berusaha untuk mendorong penerbitan obligasi dengan nama “corona bonds”, sebuah instrument utang yang akan menggabungkan utang berbagai negara yang berbeda di Eropa dan akan dijual dalam 1 paket di pasar. Terkait dengan corona bonds tersebut, tentu saja Belanda, Austria, dan German menolak hal tersebut karena mereka khawatir menggabungkan negara yang memiliki utang dalam jumlah yang besar memiliki tingkat resiko yang tinggi dan melanggar perjanjian Eropa. Kembali ke point pertama tadi, rencana besar France dan German tentu juga tidak langsung mulus begitu saja, karena rencana tersebut belum disetujui oleh negara Eropa lainnya. Kanselir Austria, Sebastian Kurz mengatakan bahwa bantuan tersebut tidak boleh diberikan dalam bentuk hibah, melainkan harus dalam bentuk pinjaman. Namun apapun itu bentuk bantuan untuk memerangi corona, hal tersebut harus disetujui oleh 27 negara Uni Eropa dan juga tentu saja Parlemen Eropa.

3.YAA, TIDAK BERUBAH!

Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang diselenggarakan sejak 18-19 Mei, dimana Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. BI 7 Days Repo Rate ditahan di posisi 4,5%. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut telah disesuaikan dengan kondisi ekonomi global dan domestik. Kebijakan ini dalam rangka menjaga stabilitas moneter dalam ketidakpastian global dan BI juga terus memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk memitigasi risiko penyebaran covid 19, jaga stabilitas sistem keuangan dan koordinasi dengan pemerintah.

“Menyikapi beragam kondisi tersebut diatas, kami merekomendasikan wait and see,” sebut analis Pilarmas.