Harga Minyak Dunia Teruskan Penurunan

foto: istimewa

Pasardana.id - Harga minyak dunia meneruskan penurunan pada Selasa (17/3/2020) dipicu kekhawatiran pelemahan permintaan terhadap minyak mentah sebagai dampak berlanjutnya penyebaran virus Corona (COVID-19).

Seperti dilansir Xinhua, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2020 turun US$1,75, atau sekitar 6,1 persen, menjadi US$26,95 per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei 2020 merosot US$1,32, atau sekitar 4,39 persen, menjadi US$28,73 per barel di London ICE Futures Exchange.

Secara global, kasus penyebaran COVID-19 mencapai 198.178 kasus, termasuk 6.439 kasus di Amerika Serikat. Total jumlah korban meninggal dunia mencapai 7.965 orang, sebagian besar di Tiongkok.

Sebanyak 2.503 korban meninggal di Italia, 988 korban meninggal di Iran, 533 korban meninggal di Spanyol, 175 korban meninggal di Perancis, 109 korban meninggal di Amerika Serikat, 81 korban meninggal di Korea Selatan, 71 korban meninggal di Inggris, 43 korban meninggal di Belanda, 29 korban meninggal di Jepang, 27 korban meninggal di Swiss, 26 korban meninggal di Jerman.

Korban meninggal di Filipina mencapai 12 orang, di San Marino dan Irak masing-masing 11 orang, di Belgia 10 orang, di Swedia dan Kanada masing-masing delapan orang, di Indonesia dan kapal pesiar Diamond Princess masing-masing tujuh orang, di Mesir enam orang, di Australia, Yunani, Polandia, dan Aljazair masing-masing lima orang, di Austria, Denmark, Hong Kong, dan Lebanon masing-masing empat orang.

Di Norwegia dan India masing-masing tiga orang, di Malaysia, Irlandia, Ekuador, Argentina, Bulgaria, Maroko, dan Ukraina masing-masing dua orang, di Portugal, Turki, Brasil, Slovenia, Bahrain, Thailand, Luksemburg, Panama, Taiwan, Albania, Hongaria, Azerbaijan, Republik Dominika, Martinik, Guatemala, Guyana, Kepulauan Cayman, dan Sudan masing-masing satu orang.

Harga minyak dunia juga tertekan peningkatan produksi yang dilakukan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Rusia setelah kesepakatan pemangkasan produksi tidak tercapai.