ANALIS MARKET (04/12/2020) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi berbalik badan ditengah pertemuan Bank Indonesia kemarin (03/12).

Meskipun demikian, kami melihat justru ini merupakan sesuatu yang sangat baik, karena mampu mendorong harga obligasi untuk mengalami penurunan. Lebih baik turun, daripada tidak bergerak sama sekali.

Penurunan obligasi juga disebabkan oleh adanya keyakinan akan pemulihan perekonomian yang kian optimis kedepannya.

Dengan pernyataan yang seirama dan senada antara Bank Sentral Indonesia dengan Bapak Presiden Jokowi, tentu memberikan indikasi bahwa tahun depan merupakan salah satu tahun pemulihan yang kian nyata.

Hal ini yang membuat asset-asset yang relative lebih aman, seperti obligasi dilepas, sehingga ada peralihan money flow kepada saham.

Hal tersebut dibuktikan dengan kenaikkan IHSG yang kembali mengalami kenaikkan.

Namun sekali lagi kami katakan bahwa selama variable x factor yang bernama corona belum hilang, maka ketidakpastian akan menghampiri.

Melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan, kami hanya bisa tersenyum simpul dengan mengatakan Amin. Meskipun rentang tersebut masuk dalam kategori kami, namun kami tidak bisa membayangkan pertumbuhan ekonomi juga bisa berada di atas 5.8%, tentu ada berbagai scenario yang dibutuhkan untuk mendukung hal tersebut.

Namun probabilitas pertumbuhan perekonomian ada di atas 5.8% dapat dikatakan bisa berada di atas 50%, apabila vaksin bias segera diberikan pada awal tahun.

Tapi permasalahannya hingga bulan December, mengenai vaksin merah putih tidak ada kabar sehingga pemberian pertama di bulan December juga masih dalam area abu abu. Tidak hanya itu saja, kenaikkan jumlah korban yang mengalami peningkatan juga memberikan indikasi bahwa kekhawatiran masih menaungi pasar, ini akan menjadi perhatian apakah perekonomian dapat membaik meskipun jumlah korban mengalami peningkatan?

Daya tarik obligasi masih akan selalu ada, selama x factor masih menyelimuti pasar.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Jumat (04/12) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas.

Melemahnya obligasi akan menjadi sumbangan tenaga dalam bagi IHSG untuk mampu bertahan ketika rasa khawatir yang menggoyahkan iman ekspektasi dan harapan.

“Kami merekomendasikan wait and see,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (04/12/2020).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.OPEC+ SEPAKAT

Pada akhirnya OPEC+ sepakat untuk mengurangi tingkat produksi minyak pada tahun depan setelah negosiasi hampir 1 minggu lamanya yang tidak kunjung mencapai kata sepakat. OPEC+ akan menambah 500.000 barel produksi per hari kedalam pasar mulai bulan January, namun para Menteri akan melakukan diskusi dan konsultasi bulanan untuk memutuskan langkah selanjutnya. Kesepakatan ini sebetulnya tidak baik baik saja pemirsa, karena negosiasi kali ini ada Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang saling mempertahankan pendapat mereka masing masing. Negosiasi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, karena semua Menteri memiliki pendapatnya masing masing. Meskipun demikian, harga minyak pada akhirnya mengalami penguatan yang dimana ternyata penguatan tertinggi dalam kurun waktu 9 bulan. Kesepakatan ini akan membuat supply berpotensi mengalami penurunan kedepannya, karena adanya deficit produksi. Kami melihat bahwa produksi minyak harus sejalan dengan mobilitas masyarakat dunia. Sejauh ini kesepakatan tersebut sesuai dengan keinginan Arab Saudi, yaitu mencegah kenaikkan supply minyak mentah selama kuartal pertama tahun depan. Hal tersebut mendapat dukungan dari Menteri Perminyakan Iran yang mengatakan bahwa keputusan tersebut sangatlah bijaksana. Pertemuan yang diadakan setiap bulan akan mampu menjaga stabilitas di pasar, sehingga apabila ada kenaikkan supply pada bulan January mendatang, hal tersebut akan menjaga harga minyak untuk relative stabil. Dalam pertemuan bulanan yang akan diadakan nanti, para Menteri akan menyesuaikan produksi untuk naik atau turun, dan setiap perubahan tidak akan lebih dari 500.000 barel perhari. Periode pemotongan kompensasi dapat dilakukan untuk mengimbangi kelebihan produksi hingga akhir Maret. Sejauh ini, keputusan sebelumnya untuk memangkas produksi sebanyak 9.7 juta barel per hari telah menyelamatkan harga minyak, karena penurunan mobilitas masyarakat di seluruh dunia menurunkan permintaan minyak. Beberapa anggota sepakat dengan kami, bahwa pasar masih terlalu rapuh untuk menerima peningkatan produksi karena adanya gelombang kedua wabah virus corona, meskipun banyak negara juga yang tersiksa karena mereka melakukan pembatasan produksi. Tapi pengorbanan harus dilakukan untuk masa depan, dan kita melakukan ini untuk menang.

2.SEBUAH KEYAKINAN UNTUK MASA DEPAN

Pelaku pasar dan investor tertuju kepada Rapat Tahunan Bank Indonesia yang digelar kemarin yang dimana tentu Rapat Tahunan Bank Indonesia tersebut dihadiri oleh Bapak Presiden Jokowi, Menteri Kabinet, anggota DPR, serta para pemimpin daerah. Diliat dari sisi ekonomi, Bapak Perry Warjiyo mengatakan bahwa Bank Indonesia melihat pertumbuhan ekonomi yang positif akan terjadi pada bulan October dan December. Tidak hanya itu saja lho pemirsa, Bank Indonesia juga melihat ada potensi perekonomian akan mengalami rebound pada tahun 2021 dengan potensi pertumbuhan berada di rentang 4.8% - 5.8%. Kami mungkin tidak sepositif Bank Indonesia, namun kami melihat apabila pertumbuhan ekonomi tahun 2021 berada di atas 5%, kami sudah cukup bersyukur ditengah situasi dan kondisi yang masih diliputi ketidakpastian seperti ini, namun dengan catatan daya beli juga harus mengalami kenaikkan. Bapak Jokowi juga mengatakan bahwa dirinya melihat tanda tanda bahwa pemulihan semakin kuat dari hari ke hari khususnya pada bulan October – December, proses pemulihan yang semakin baik memberikan harapan dan keyakinan bahwa tahun depan menjadi tahun yang lebih baik, oleh sebab itu Bapak Presiden Jokowi mengatakan protocol kesehatan harus tetap menjadi yang utama untuk menghindari penyebaran wabah virus corona gelombang kedua. Dari sisi kredit, Bank Indonesia mengatakan bahwa tahun depan akan mengalami pertumbuhan sebesar 7% - 9%, yang akan didukung dengan tingkat suku bunga yang akan berada dalam level yang rendah. Oleh sebab itu Bank Indonesia mengatakan bahwa bank harus menurunkan tingkat suku bunga pinjaman. Nah ini, semoga para bank mendengar pesan dari Pak Perry Warjiyo. Jangan seperti yang sebelumnya, sudah di peringatkan Bapak Jokowi, namun masih saja tetap bandel. Untuk mendorong kenaikkan tingkat suku bunga kredit, bank harus mendukung sebagai tangan kanan dalam penyaluran kredit tersebut. Memang benar NPL harus dijaga,namun bukan berarti tingkat suku bunga tidak boleh turun. Berarti resiko harus dapat dikelola dengan baik disini, sehingga potensi gagal bayar juga mengalami penurunan. Tidak lupa Bapak Perry Warjiyo mengatakan bahwa dirinya dan Bank Indonesia akan terus mengadopsi sikap yang akomodatif pada tahun 2021 mendatang. Inflasi yang rendah memberikan peluang bagi Rupiah untuk mengalami penguatan, namun tentu kami menilai harus diimbangi juga dengan jumlah ekspor yang mengalami kenaikkan. Ekspor harus terus didorong, untuk mendorong perekonomian ke depannya. Pengangguran akan menjadi perhatian, karena Bapak Presiden Jokowi meminta Bank Indonesia focus terhadap perekonomian sector riil dan aktif turut serta mengambil bagian yang lebih signifikan dalam reformasi fundamental yang sedang pemerintah lakukan. Bank Indonesia harus berkontribusi lebih besar untuk ikut menggerakan sector riil, mendorong penciptaan lapangan kerja baru, dan membantu para pelaku usaha khususnya di sector UMKM agar bisa kembali produktif. Tidak hanya Bank Indonesia, tapi semua Lembaga harus ikut berbagi beban, alih alih berlindung dan menyelamatkan posisinya masing masing. Saat ini pemerintah sedang terfokus untuk membangun Rancangan Undang Undang Omnibus Law di sector keuangan, dengan tujuan untuk mempercepat pemulihan dengan meningkatkan koordinasi masing masing anggota KSSK. Rancangan tersebut berjudul Reformasi, Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan. Adapun dalam Rancangan Undang Undang tersebut akan mengatur mengenai pengawasan terhadap perbankan secara terpadu, tindak lanjut pengawasan bank, penanganan permasalahan di bank, penataan ulang kewenangan kelembagaan, dan sanksi. Dengan hal tersebut, maka DPR dan Presiden akan membentuk Forum Pengawasan Perbankan Terpadu, yang dimana koordinasi tersebut meliputi OJK, Bank Indonesia, dan LPS untuk menyepakati kondisi Bank dan merumuskan setiap rekomendasi kebijakan penanganan permasalahan bank. Tugas utama forum tersebut adalah melaksanakan koordinasi dalam rangka pengawasan Bank secara terpadu dengan merumuskan dan menetapkan indikator serta metodologi penilaian kondisi Bank dengan pendekatan proyeksi atau forward looking dan melakukan analisis, menilai, dan menyepakati hasil penilaian sesuai dengan kondisi Bank yang sedang mengalami masalah tersebut. Fokus tersebut nantinya juga dapat memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisioner OJK sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan Bank Sistemik, namun setelah berkoodinasi dengan Bank Indonesia dan LPS, dan penetapan status pengawasan Bank. Tidak hanya itu saja pemirsa, OJK, Bank Indonesia bersama LPS wajib membangun dan mengembangkan system data dan informasi di bidang sector keuangan yang terintegrasi sehingga dapat dikoordinasikan dengan OJK. Pembangunan dan pengembangan system data dan informasi di sector keuangan bertujuan untuk mendukung pelaksanaan tugas koordinasi Forum, tugas koordinasi KSSK, pengambilan keputusan di masing masing Lembaga anggota KSSk, serta pengambilan keputusan KSSK dalam rapat KSSK. Dan seperti biasa, karena diminta Bank lebih giat menyalurkan kredit, alhasil perbankan jadi merah kemarin pemirsa, yaa alih alih sebagai alasan untuk menjual karena kebetulan harganya sudah ketinggian karena penyaluran kredit ditengah situasi dan kondisi seperti ini berpotensi untuk menaikkan NPL yang dimiliki oleh masing masing bank. Nah pertanyaan yang paling penting adalah, ditengah tengah kenaikkan jumlah korban wabah virus corona yang akhir akhir mengalami peningkatan yang sangat signifikan, ini akan menjadi semacam lampu kuning saat ini, karena ada 2 hal yang dapat kita cermati disini. Pertama adalah, apakah kenaikkan korban ini apakah akan membuat lockdown jilid ke 3 akan diberlakukan? Yang kedua adalah dengan tidak melakukan lockdown, namun membiarkan situasi dan kondisi berjalan seperti biasanya meskipun positive rate berada di 18.4% dengan harapan ekonomi akan bertahan? Ini akan menjadi buah simalakama bagi pemerintah manapun jalan yang akan diambil. Kesehatan jelas akan menjadi factor yang paling utama saat ini, sehingga meningkatnya korban yang terinfeksi wabah virus corona jelas membuat lockdown berpotensi untuk dilakukan, dan ketika lockdown kembali diberlakukan, maka angin segar yang diberikan oleh Bank Indonesia kemarin mungkin akan menjadi angin cepoi cepoi semata. Dengan asumsi tingkat pertumbuhan yang mencapai 5.8%, berarti harus didukung dengan peningkatan daya beli yang mendorong perekonomian untuk tumbuh, yang berarti hal itu memberikan potensi kenaikkan inflasi disana. Namun jangan salah, inflasi inti kita justru mengalami penurunan kemarin dari sebelumnya 1.74% menjadi 1.67%, ini berarti menunjukkan bahwa daya beli masih sangat lemah. Pertanyaan yang penting saat ini adalah, apakah lockdown efektif untuk menurunkan angka wabah virus corona? Apabila lockdown dilakukan seperti bulan Maret lalu, tentu hal ini akan mendorong jumlah korban yang terinfeksi seperti waktu itu, namun apabila lockdown dilakukan seperti jilid ke 2 kemarin, apakah efektif? Tidak, karena mobilitas masyarakat tidak dibatasi sehingga efeknya tidak terlalu banyak. Apabila lockdown kembali diberlakukan, yang ada hanya memberikan shock therapy kepada pasar, tapi tidak menyelesaikan masalah karena justru menimbulkan masalah baru bagi prospek perekonomian kedepannya. Lantasi bagaimana yang harus dilakukan? Seperti yang kami sudah sampaikan sejak jaman purba kala, pengendalian merupakan kunci. Kunci bagi sector kesehatan, namun juga kunci bagi sector perekonomian. Apabila pengendalian yang sudah dilakukan sejauh ini tidak berfungsi, maka pertanyaannya adalah, penyebarannya yang memang kian massif atau system pengendaliannya yang salah? Berarti harus ada yang diperbaiki disini, karena yang disampaikan selalu bahwa corona terkendali, tapi peningkatan jumlah korban menunjukkan tidak demikian. Kenaikkan wabah virus corona hanya membuat IHSG berjalan di seutas tali yang tidak boleh ada angin berhembus. Kekhawatiran akan menjadi salah satu hal yang penting saat ini, karena membuat keyakinan dan harapan akan pemulihan menjadi goyah. Dan kalau itu goyah, maka akan membuat IHSG kembali terjatuh, atau kenaikkan jumlah korban justru menjadi alasan yang tepat untuk jualan. Kalaupun dibiarkan begitu saja tanpa adanya lockdown, maka sama saja dengan membuat perekonomian akan turun dengan sendirinya, karena masyarakat tidak akan melakukan konsumsi, dan ketika masyarakat tidak melakukan konsumsi hanya untuk saving. Jangan sampai harapan di masa depan berubah menjadi kehampaan.