ANALIS MARKET (27/11/2020) : Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi masih terus bergerak menguat, dan menciptakan new high record kemarin.

Berbagai seri acuan menciptakan level baru, namun masih dalam volume terbatas. Hal ini menjadi kekhawatiran apakah pasar obligasi cukup kuat untuk terus bertahan di area penguatan meskipun dengan volume yang terbatas?

Apalagi saat ini kalau kita lihat, porsi kepemilikkan asing per 25 November 2020 mengalami penurunan sebanyak 0.02%.

Di tengah situasi dan kondisi yang gegap gempita hingga hari ini, pasar obligasi ternyata mulai kembali berkurang daya tariknya bagi investor asing.

Yang terbaik memang belum tiba, namun akan tiba, hanya tinggal menunggu waktu yang akan menjawabnya.

Saat ini, secara yield curve kita masih dalam terlihat normal, dan Bank Indonesia pun belum melakukan strategi yang sama dengan The Fed lakukan kemarin.

Pembelian obligasi jangka panjang untuk menjaga yield curve, membuat pergerakan yield curve menjadi lebih terjaga agar tidak mengalami kesenjangan antara obligasi berdurasi jangka pendek dan jangka panjang.

Ditahannya tingkat suku bunga Korea Selatan merupakan sebuah jawaban atas situasi dan kondisi yang terjadi saat ini.

Gubernur Bank of Korea, Lee Ju – yeol mengatakan bahwa perekonomian akan mengalami penurunan dari target tahun ini, meskipun menurut dirinya keuntungan yang mengalami kenaikkan lebih cepat dapat merusak proses fase pemulihan.

Lee juga mengatakan bahwa dampak negative dari wabah virus corona masih sangat besar, meskipun secara garis besar, Lee tetap positive dan yakin bahwa perekonomian akan menjadi lebih baik.

Bank Sentral Korea pun mengatakan hal yang sama dengan semua Bank Sentral katakan, yaitu bahwa Bank Sentral siap untuk turun tangan dan menstabilkan pasar khususnya dengan nilai tukar.

Sisi optimis Lee, ditambah dengan situasi dan kondisi yang belum pasti, memberikan keyakinan bahwa Bank Sentral Korea siap untuk menurunkan kembali tingkat suku bunga apabila diperlukan.

Well, era tingkat suku bunga rendah tampaknya akan menjadi panduan bagi pemulihan perekonomian pada tahun depan.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Jumat (27/11) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas.

“Kami merekomendasikan beli hari ini dengan volume terbatas,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (27/11/2020).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.ADA CERITA

Kenaikkan korban yang terinfeksi virus corona dalam beberapa pekan terakhir membuat pelaku pasar dan investor dan para pemimpin negara menjadi khawatir terhadap proses pemulihan perekonomian dunia sehingga memberikan tekanan terhadap bank sentral dan pemerintah untuk melakukan lebih banyak untuk mendorong permintaan untuk menjaga perekonomian. Meskipun adanya harapan akan vaksin, namun sejauh ini vaksin tersebut belum tersedia secara luas sehingga proses pemberian vaksin akan menjadi terbatas. Sejauh ini kekhawatiran yang menjadi beban pikiran adalah beberapa pihak berwenang meminta untuk lebih banyak penguncian atau lockdown agar penyebaran virus dapat dibatasi dan dikendalikan untuk menjaga ekspektasi perekonomian, meskipun pada dasarnya perekonomian sedikit banyak akan terkena dampaknya. Eropa merupakan salah satu yang terkena dampaknya, karena kalau kita melihat kemarin data Purchasing Manager Index Eropa, Manufacturing, Services, dan Composite mengalami penurunan. Services dan Composite menjadi yang terdalam terkait dengan lockdown di beberapa negara Eropa sehingga membuat PMI mengalami penurunan. Kekhawatiran terkait dengan peningkatan korban virus corona pun membuat Menteri Perdagangan & Industri Singapore ikut angkat bicara. Chan Chun Sing mengatakan meskipun banyak euphoria terkait dengan kehadiran vaksin, namun proses perbaikan tidak akan secepat dan semudah yang disampaikan oleh banyak orang. Membuat dosis dalam jumlah yang banyak akan memakan waktu yang lebih lama, belum ditambah masalah distribusi dan melakukan vaksinasi di seluruh dunia. Proses tersebut saja sudah memakan waktu berbulan bulan bahkan mungkin bertahun tahun. Sejauh ini perekonomian Eropa yang tengah berada di dalam tekanan akibat penguncian, akan membuat Bank Sentral Eropa mungkin akan bertindak lebih banyak, dan tidak menutup kemungkinan Bank Sentral Eropa akan melonggarkan kebijakan moneternya pada bulan December mendatang atau January tahun depan. Di sisi yang lain, The Fed kami melihat tidak perlu memangkas tingkat suku bunganya, namun akan lebih terfokus kepada pembelian obligasi jangka panjang serta melakukan kebijakan non moneter. Pelaku pasar dan investor tentu berharap bahwa bukan hanya kebijakan moneter yang akan dilakukan, namun juga dukungan dari kebijakan fiscal. Karena sejauh ini kami cukup khawatir kalau Bank Sentral mungkin akan kehabisan ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter. IMF sebelumnya sudah memperingatkan kenaikkan harga asset memberikan potensi hilangnya korelasi dengan perekonomian di sector rill sehingga dapat menyebabkan ancaman stabilitas keuangan. Kalau teman teman ingat pada research sebelumnya, kami sebelumnya sangat khawatir dengan krisis ekonomi yang saat ini tengah dihadapi oleh dunia, dan kami tidak cukup berani apabila krisis ekonomi tersebut berlanjut hingga krisis keuangan. Karena domino effectnya akan jauh lebih besar dari pada yang sekarang ini, dan membuat proses pemulihan ekonomi akan jauh lebih sulit. Sebelumnya oma Yellen pun juga sempat menyampaikan bahwa dunia harus memiliki kebijakan fiscal, structural, sehingga tidak hanya mengandalkan bank sentral untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Masalahnya yang ada saat ini menurut kami adalah, bauran kebijakan fiscal dan moneter masih belum terlalu seirama, sehingga belum dapat menopang perekonomian saat ini yang sedang berada di dalam tekanan. Belum lagi ada perselisihan yang tidak bisa dihindarkan yang membuat setiap kebijakan justru memakan waktu lebih lama dari biasanya. Di Amerika ada perselisihan terkait dengan kebijakan fiscal yang masih belum di berikan, di Eropa bantuan senilai $ 2 triliun juga ditahan oleh masalah politic. Ditengah situasi dan kondisi dimana Bank Sentral berusaha mati matian, kita melihat pemerintah justru malah harus menghadapi situasi dan kondisi yang tidak nyaman terkait dengan pemberian kebijakan fiscal. Pemerintah justru bermain di politik ditengah situasi dan kondisi saat ini yang seharusnya justru harus melakukan segalanya bersama sama. Yang justru harus dikhawatirkan adalah apa yang terjadi di Eropa justru berpotensi terjadi di Amerika. Penurunan PMI yang terjadi di Eropa justru berasal dari lockdown di beberapa negara. Dan penguncian yang dilakukan oleh Amerika, berpotensi untuk menurunkan PMI di Amerika yang ujung ujungnya akan mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan. Dengan penguncian tersebut juga akan mendorong mobilitas dan daya beli mengalami penurunan, sehingga membuat perekonomian kembali dihadapi ketidakpastian. IMF dan G20 memberikan peringatan bahwa pemulihan perekonomian dunia berpotensi mengalami hambatan meskipun akhir akhir ini timbul sebuah harapan akan vaksin. Ada pernyataan yang menarik dari Chief Economy dari Bank Sentral Eropa yang mengatakan bhawa vaksin memang memberikan sebuah harapan pada tahun depan dan seperti apa perekonomian pada tahun 2022 kelak nanti. Namun, tidak untuk 6 bulan ke depan sehingga diperkirakan situasi dan kondisi tidak akan mengalami perbaikan hingga akhir tahun 2020. Pernyataan yang ternyata juga sepemikiran dengan kami, meskipun vaksin itu ada, pasar gegap gempita, tapi vaksin itu nanti, bukan hari ini. Tapi pada kenyataannya pasar merespon vaksin tersebut dengan kenaikkan terus menerus yang justru dikhawatirkan jatuhnya akan lebih sakit apabila ternyata vaksin tersebut tidak seindah harapannya. Yang membuat situasi dan kondisi kian semakin memburuk adalah beberapa perusahaan mulai melakukan pengurangan tenaga kerjanya kembali, bahkan Adidas AG pun menjadi salah satu perusahaan pertama yang mengatakan pandemic di Eropa membuat pendapatan Adidas terganggu sehingga memberikan potensi menurunnya pendapatan bagi Adidas. Proyeksi analisa JP Morgan mengatakan dengan dukungan vaksin dan fiscal senilai $1 triliun di Amerika, akan memberikan pertumbuhan dengan nilai rata rata 5% pada kuartal pertengahan pada tahun 2021 mendatang, namun hutang dan pengangguran berpotensi akan tetap berada di level yang sama.

2.6 PROGRAM UNTUK MASA DEPAN

Kementerian PUPR memperoleh Pagu Anggaran Tahun 2021 sebesar Rp149,81 triliun pada tahun anggaran 2021. Jumlah tersebut naik Rp34,23 triliun dari pagu indikatif sebesar Rp115,58 triliun. Presiden Jokowi menyampaikan dalam APBN 2021, Pemerintah mengalokasikan belanja negara sebesar Rp2.750 triliun atau tumbuh 0,4 persen dibanding tahun sebelumnya. APBN 2021 difokuskan pada 4 hal yang utamanya terkait dampak Pandemi Covid-19, yakni penanganan kesehatan, perlindungan sosial, pemulihan ekonomi, dan membangun fondasi reformasi struktural baik di bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial dan lainnya. Menteri PUPR akan fokus pada enam program untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi dan reformasi sosial dampak Pandemi Covid-19. Keenam fokus program tersebut antara lain peningkatan ketahanan pangan, pengembangan konektivitas, dan peningkatan kesehatan lingkungan dan masyarakat. Selanjutnya peningkatan investasi, penguatan jaringan pengaman nasional, dan terakhir peningkatan ketahanan bencana dan perubahan iklim. Untuk percepatan realisasi pelaksanaan kegiatan infrastruktur TA 2021, Kementerian PUPR telah melaksanakan lelang dini yang dimulai sejak Oktober 2020. Adapun sebagaimana terekam dalam sistem e-monitoring pada 25 November 2020, pukul 15.58 WIB, total realisasi paket yang telah dilelang sebanyak 1.575 paket senilai Rp 11,16 triliun. Seiring waktu jumlah paket yang dilelang dini akan terus bertambah. Selanjutnya sebagai tindak lanjut atas rencana program Kementerian PUPR tahun 2021, anggaran dialokasikan pada pembangunan infrastruktur sumber daya air sebesar Rp 58,55 triliun, konektivitas sebesar Rp 53,96 triliun, permukiman sebesar Rp 26,56 triliun, dan perumahan sebesar Rp 8,09 triliun. Kemudian untuk pengembangan sumber daya manusia Rp 563,79 miliar, pembinaan konstruksi Rp 757, 68 miliar, pembiayaan infrastruktur Rp 273,68 miliar, dukungan manajemen Rp 748,20 miliar, pengawasan Rp 101,74 miliar, dan perencanaan sebesar Rp 206,18 miliar. Kami melihat dengan keseriusan pemerintah untuk kembali melanjutkan pembangunan infrastruktur di tahun depan dapat kembali meningkatkan daya beli yang melambat pada tahun 2020. Namun disatu sisi, antisipasi terhadap defisit neraca dagang sebagai dampak dari naiknya ekspor bahan material menjadi antisipasi dari investor mengingat saat ini investor perlu melihat adanya perbaikan dari ekspor dan perlunya menjaga current account agar tidak melebar yang dapat berdampak pada stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan nantinya.