ANALIS MARKET (23/11/2020) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, ditengah situasi dan kondisi saat ini, tampaknya pekan ini akan menjadi pekan penurunan bagi pasar modal, tidak peduli apakah itu saham maupun obligasi.

Membahas obligasi, memang saat ini trigger-nya sudah hilang untuk pasar obligasi mengalami penguatan.

Lho mengapa demikian? Karena sudah tidak ada alasan yang cukup untuk bagi pelaku pasar dan investor untuk masuk ke dalam pasar obligasi Indonesia.

Pertanyaan sesungguhnya adalah seperti ini, apakah mungkin bagi imbal hasil obligasi 10y untuk berada di bawah 6%?

Kemarin kita sempat bahas secara lisan, bagaimana kalau kita membahas berdasarkan probabilitas?

Imbal hasil 10y berpotensi untuk berada di 6% - 6.15% dengan probabilitas sebesar 87%, dan tahun depan imbal hasil obligasi 10y berpotensi berada di 5.85% - 6% dengan tingkat probabilitas sebesar 70%.

Sejauh ini perhitungan tersebut masih sesuai dengan proyeksi kami, karena imbal hasil obligasi India untuk 10y pun berada di 8.75%.

Beberapa tahun yang lalu ketika perekonomian kita mengeliat begitu dasyat, imbal hasil obligasi 10y Indonesia berhasil berada di bawah imbal hasil obligasi India, namun tidak untuk waktu yang lama.

Oleh sebab itu, ditengah situasi dan kondisi saat ini pun kami yakin bahwa imbal hasil obligasi Indonesia tidak akan berada di bawah imbal hasil obligasi India.

Memang tidak ada yang tidak mungkin, namun untuk saat ini peluang terbaik bagi imbal hasil obligasi Indonesia akan selalu berada di atas India.

Pertanyaannya apakah hal tersebut bisa menjadi patokan? Tentu tidak absolut, namun bisa menjadi gambaran.

Nah, sudah dapat ancang ancangnya, berarti ditengah situasi dan kondisi saat ini peluang harga obligasi untuk mengalami kenaikkan masih terbuka lebar, apalagi capital inflow yang masuk masih belum semuanya. Apalagi nih, Blackstone Group Inc akan melipatgandakan investasnya di Asia, setidaknya sekitar $5 miliar.

Blackstone sejauh ini masih terus mengumpulkan modal yang nilainya terus semakin besar karena adanya wabah virus corona yang menyebabkan naiknya peluang kesepakatan bisnis.

Jon Gray berjanji untuk meningkatkan proporsi investasinya di wilayah Asia dalam skala bisnisnya yang sebelumnya hanya 10% dalam kurun waktu 2 tahun lalu.

Blackstone saat ini masih memiliki porsi dalam industry consumer, kesehatan dan teknologi. Wow bingits kan pemirsa!

Oleh sebab itu, besar kemungkinan pasar obligasi akan mengalami pergerakan yang signifikan ketika akhir December atau January 2021 mendatang. Namun tetap hati hati, karena apapun saja terjadi karena fundamental penguatan masih sangat lemah saat ini.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Senin (23/11) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah.

“Kami merekomendasikan jual pada hari ini,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Senin (23/11/2020).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.MNUCHIN VS POWELL

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya pada hari Jumat kemarin, pada akhirnya Mnuchin vs Powell dapat terwujud dalam waktu dekat, seperti yang kami duga sebelumnya. Perang antara ego terkait dengan kebijakan menjadi salah satu pemicunya pemirsa. Keduanya tidak memiliki satu pendapat terkait dengan program pinjaman darurat yang dimana pinjaman darurat tersebut ditujukan untuk menopang perekonomian. Ketidaksepakatan tersebut muncul ketika Mnuchin memberikan surat cintah kepada Powell terkait dengan pengembalian uang yang diberikan sebelumnya oleh pemerintah kepada Bank Sentral sehingga dapat memberikan pinjaman kepada pasar untuk menopang perekonomian. Beberapa menit sebelumnya, The Fed mengeluarkan pernyataan terkait dengan langkah langkah yang lebih lengkap hingga tahun 2021 mendatang. Sebetulnya hal ini cukup menyedihkan, karena ditengah situasi dan kondisi saat ini, Amerika membutuhkan bantuan pemerintah untuk bekerja sama dan mendorong pemulihan perekonomian menjadi lebih baik. Apalagi Amerika saat ini masih menemukan jalan buntu terkait dengan stimulus fiscal. Akibatnya ditengah situasi dan kondisi saat ini, membuat pelaku pasar dan investor menjadi khawatir bahwa perseteruan antara Mnuchin dan Powell dapat menganggu pasar dan menghambat pemulihan ekonomi. Sebelumnya Steven dan Powell selalu bekerja sama, baju membahu untuk memperbaiki perekonomian ketika krisis mulai muncul ke permukaan. Keduanya kerap kali muncul dihadapan congress dan bekerja saling melengkapi satu sama lain untuk memastikan stabilitas pasar terjaga. Steven dan Powell juga bersama membuat Undang Undang penyelamatan Cares Act pada bulan March 2020 kemarin dengan mengalokasikan uang tunai bagi pemerintah untuk membiayai dana cadangan The Fed untuk melakukan beberapa kebijakan dari The Fed. Mnuchin memaksa meminta uangnya kembali karena alasannya pasar sudah tidak butuh kembali sehingga tidak memerlukan bantuan hingga bulan depan. Namun beberapa program tetap ingin di lanjutkan selama 90 hari mendatang. Program tersebut yang berhubungan dengan kredit bagi para perusahaan dan pinjaman kepada usaha kecil dan menengah. Mnuchin mengatakan bahwa pasar telah pulih secara signifikan, sehingga para perusahaan tidak membutuhkan pinjaman, namun justru membutuhkan dana hibah yang dimana hibah tersebut justru ditentukan oleh congress. Sebagai informasi yang diminta akan berakhir adalah; 1. Primary Market Corporate Credit Facility, 2. Secondary Market Corporate Credit Facility, 3. Municipal Liquidity Facility, 4. Main Street Lending Program, 5. Term Asset-Backed Securities Loan Facility. Sedangkan yang diminta untuk perpanjangan hari adalah program; 1. Commercial Paper Funding Facility, 2. Money Market Mutal Fund Liquidity Facility, 3. Primary Dealer Credit Facility, 4. Paycheck Protection Program Liquidity Facility. Mnuchin mengatakan bahwa alasan dirinya menarik kembali berbagai program hanyalah berdasarkan ketentuan dari Undang Undang Cares Act, dan tidak menutup kemungkinan apabila dibutuhkan maka program tersebut dapat dijalankan kembali baik dengan dukungan dari kongres ataupun dari Kementrian Keuangan. Sejauh ini dikhawatirkan perseteruan antara Mnuchin dan Powell justru membuat perekonomian di Amerika kian semakin tidak menentu, apalagi sebelumnya Presiden Fed Bank of Dallas Robert Kaplan mengatakan apabila mereka itu berseteru justru membuat potensi tingkat pertumbuhan ekonomi Amerika pada tahun depan mengalami penurunan. Apalagi keputusan terkait dengan stimulus masih menggantung hingga hari ini. The Fed masih terus memberikan kelonggaran kepada beberapa persyaratannya sehingga dapat mendorong bank dan usaha kecil untuk dapat berpartisipasi dalam program tersebut. Powell pada pekan lalu sebetulnya sudah mengatakan bahwa dirinya belum akan menghentikan fasilitas tersebut, karena biasanya beberapa Bank Sentral masih terus mempertahankan beberapa fasilitasnya ketika krisis melanda. Perjuangan Powell juga didukung oleh Kamar Dagang Amerika yang mengatakan bahwa keputusan Mnuchin harusnya dipikirkan ulang. Kamar Dagang Amerika mengatakan bahwa program program tersebut haruslah diperpanjang untuk masa depan, dan meminta kongres untuk memberikan bantuan tambahan kepada mereka yang membutuhkan, pengusaha, pekerja, dan industry Amerika yang masih dalam keadaan menderita. Apabila semua fasilitas tersebut dihentikan, maka akan membuat The Fed menyiapkan rencana terkait dengan kebijakan lainnya pada pertemuan pada bulan December mendatang. Apabila kelak nanti Biden dilantik, maka Biden dapat memilih untuk memperbaharui dan memperpanjang fasilitas tersebut dan memaksa kongres untuk memberikan izin terkait dengan stimulus yang baru. Biden sebelumnya sudah membuat keputusan terkait dengan nominasi untuk Menteri Keuangan. Sejauh ini tentu pelaku pasar dan investor juga akan memperhatikan sejauh mana cabinet yang akan dipimpin oleh Biden kedepannya, karena tentu sedikit banyak orang yang akan menempati hal tersebut akan mempengaruhi setiap kebijakan yang dibuatnya. Yang menarik adalah 1 hari setelah Mnuchin mengatakan bahwa program tersebut lebih baik dihentikan, dirinya memberikan pembelaan bahwa Kementrian Keuangan dan The Fed memiliki kekuatan yang cukup untuk terus mendukung perekonomian. Mnuchin mengatakan bahwa pasar masih nyaman karena Kementrian Keuangan masih memiliki kapasitas untuk menopang. Mnuchin mengatakan bahwa dirinya merasa tidak perlu untuk membeli obligasi korporasi kembali. Sebetulnya berapa sih uang yang diminta kembali oleh Mnuchin? Nilainya sebesar $455 miliar, sebetulnya kenapa uang tersebut ditarik? Ternyata untuk digunakan belanja di tempat lain. Meskipun The Fed sekali lagi mengatakan bahwa alangkah bijaksana apabila program tersebut tetap terbuka meskipun tidak digunakan untuk menopang perekonomian yang masih rapuh. Well, akhirnya sesuai keinginan Mnuchin, The Fed akan memenuhi pengembalian dana yang tidak terpakai tersebut dan akan terus mendukung 4 program yang masih berjalan untuk mengurangi kecemasan di pasar. Powell mengatakan akan mengatur pengembalian uang tersebut yang sebelumnya dikembalikan untuk di alokasikan kepada program yang lain. Powell sendiri mengakui otoritas Department Keuangan dalam keputusan tersebut, karena dalam Cares Act disana disebutkan bahwa Cares Act memberikan otoritas tunggal kepada Menteri Keuangan untuk melakukan investasi tertentu dalam fasilitas pinjaman darurat yang dijalankan oleh The Fed, dan The Fed memiliki batasan yang telah ditentukan dalam undang undang. Tidak sampai disitu, Powell juga mengatakan kepada Kementrian Keuangan untuk kembali mempertimbangkan agar The Fed dapat menggunakan dana yang berbeda dengan dana yang dikembalikan kepada Kementrian Keuangan, agar dana tersebut dapat digunakan untuk mengotorisasi beberapa program yang tidak lagi berjalan pada tahun depan. Powell meminta dana yang bukan termasuk dalam Cares Act harus tetap berada di Exchange Stabilization Fund dan selama pengunaan dana tersebut diizinkan dalam undang undang, maka The Fed dapat memanfaatkan fasilitas pinjaman tersebut agar dapat digunakan oleh The Fed untuk menjaga stabilitas keuangan dan mendukung perekonomian. ESF tersebut bernilai sekitar $75 miliar sebelum kehadiran Cares Act, dan nilanya toh cukup lumayan daripada lumanyun.