ANALIS MARKET (20/11/2020) : Pasar Obligasi Diproyeksi Bergerak Bervariatif

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, tak dinyana tak disangka, ternyata Bank Indonesia memberikan hadiah akhir tahun yang special yang tadinya mungkin tak pernah kami perkirakan, bahwa tingkat suku bunga akan dipangkas 25 bps.

Apakah keputusan ini juga dipengaruhi oleh potensi kehadiran vaksin dalam waktu dekat? Mungkin saja.

Namun yang menjadi menarik adalah, setiap kali ada pemangkasan tingkat suku bunga, harga obligasi selalu mengalami kenaikkan sebagai bentuk refleksi untuk menyesuaikan imbal hasil dengan tingkat suku bunga.

Namun, ternyata eh ternyata, hukum alam tersebut tidak berlaku untuk hari ini. Lho kok bisa?

Ada beberapa hal yang menjadi alasan menurut kami.

Yang pertama adalah penurunan imbal hasil sejak 2 minggu lalu yang di drive oleh sentiment kemenangan Joe Biden dan vaksin membuat imbal hasil sejauh ini sudah berada di posisi yang cukup rendah, sehingga membuat pasar obligasi kehilangan daya dorong oleh penurunan tingkat suku bunga.

Kedua adalah momentumnya sudah cukup baik sebenarnya, dilakukan 1 bulan sebelum bulan December yang dimana ada liburan disana yang diharapkan dapat mendorong peningkatan daya beli dengan adanya penurunan tingkat suku bunga. Namun ternyata momentum ini justru sudah kehilangan daya tariknya karena point nomor satu tadi, yang justru tadinya kami berharap pemangkasan tingkat suku bunga dilakukan pada bulan December untuk mendukung windows dressing.

Ketiga, secara imbal hasil saat ini obligasi dalam negeri sudah berada pada posisi yang cukup rendah, namun imbal hasil 10y belum akan menyentuh dibawah 6% dalam waktu dekat.

Tingkat resiko yang masih tinggi akibat ketidakpastian pemulihan ekonomi masih akan perhatian pelaku pasar dan investor.

Oleh sebab itu, antara resiko dan imbal hasil, tentu harus ada spread premium karena situasi dan kondisi yang luar biasa seperti sekarang.

Pertanyaannya adalah, sentiment apa lagi yang akan menjadi daya dorong untuk imbal hasil obligasi untuk mengalami penurunan?

Jawabannya adalah pemulihan ekonomi yang berkelanjutan serta bauran kebijakan moneter dan fiscal yang membuat indicator ekonomi mengalami perbaikan.

Namun kembali lagi, tidak adanya vaksin bukan berarti ekonomi kehilangan giginya. Pengendalian masih menjadi kunci, buktinya pasar di Amerika meskipun gegap gempita, lalu diberlakukan lockdown, pada akhirnya pelaku pasar dan investor dilanda kecemasan kembali.

Ekspektasi dan harapan menjadi kunci penting, namun data diatas kertas adalah yang terpenting.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, di penghujung akhir pekan, pasar obligasi akan bergerak bervariatif dengan rentang pergerakan 35 – 70 bps, lebih dari itu akan menjadi salah satu tujuan bagi pasar untuk mengalami kenaikkan atau penurunan.

“Kami merekomendasikan wait and see hari ini, pergerakan lebih dari 65 bps, diikuti dengan volume yang besar akan menjadi arah pasar hari ini,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Jumat (20/11/2020).

Adapun cerita hari ini akan kita awali dari;

1.KANGURU VS PANDA

Lagi lagi pemirsa, di akhir pekan ini bukannya adem ayem karena mau weekend, yang ini justru bersitegang antara yang satu dengan yang lain. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan bahwa dirinya tidak akan membahayakan keamanan dan kedaulatan nasional Australia hanya karena China meningkatkan kritiknya terhadap Australia dan memberikan pesan bahwa jangan menjadikan China sebagai musuh bagi Australia. Morrison mengatakan bahwa dirinya akan menjadi diri kita sendiri dan Australia akan selalu menetapkan hukum dan peraturan negara kami sendiri, khususnya bagi kepentingan nasional Australia. Namun bukan atas perintah dari negara lain, baik itu Amerika maupun China atau siapapun. Seorang diplomat China di Canberra telah memberikan document kepada media Australia yang dimana diplomat tersebut memberikan informasi mengenai 14 keluhan dan menuduh Australia telah memperburuk hubungan bilateral kedua negara. Dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, memang China kerap kali memberikan informasi terkait dengan keruhnya hubungan antara Australia dan China. Apalagi pejabat China mengatakan bahwa China akan marah apabila Australia menjadikan China sebagai musuh mereka. Sejauh ini China terus menerus menekan Australia dengan memberikan sanksi perdagangan dan pembalasan sebagai akibat telah mengkritik Australia. Sementara itu hubungan kementrian dengan beberapa sekutu Amerika mulai mengalami gejolak ketika Morrison meminta penyelidik independent untuk memasuki Wuhan untuk bisa menyelidik asal usul virus corona. Kunjungan Morrison ke Jepang juga sebagai bagian dari rencana ntuk menandatangani pakta pertahanan yang baru justru malah semakin menambah ketegangan. Tidak hanya itu saja lho pemirsa, pertemuan Morrison dengan Yoshihide Suga di Tokyo merupakan sebuah pertemuan untuk membangun koalisi negara-negara demokrasi yang memiliki pandangan yang sama untuk melawan pengaruh China yang semakin mengalami peningkatan di Kawasan Asia Pasifik. Morrison dan Suga juga sudah menyetujui kerangka hukum yang memungkinkan masing masing Angkatan militer dapat tinggal di negara lain untuk melakukan Latihan bersama. Bahkan Morrison dan Suga juga memberikan pernyataan bersama dan kritik terhadap kebijakan China termasuk segala hal yang berhubungan dengan pemaksaan sepihak atau upaya untuk mengubah status quo sehingga meningkatkan ketegangan di negara atau wilayah yang bersangkutan. Alhasil ya tentu saja China murka semurka murkanya, hal tersebut disampaikan oleh juru bicara Kementrian Luar Negeri, Zhao Lijian mengatakan bahwa China tidak puas dan akan bersikap tegas menentang pernyataan pers mereka Australia dan Jepang yang dimana sebelumnya kedua negara tersebut juga menuduh China dalam masalah Laut China Selatan dan Laut Timur China. China berbalik menyerang, bahwa mereka juga ikut mencampuri urusan Hong Kong dan internal China. Zhao menyebutkan bahwa hubungan diantara China dan Australia semakin memburuk khususnya terkait dengan Ausralia yang ingin melibatkan dirinya dalam urusan dalam negeri Hong Kong, Xinjiang, dan Taiwan, dan menolak perusahaan China yang ingin berinvestasi di Australia dengan alasan klasik, yaitu alasan keamanan nasional. Beberapa hal yang membuat China tambah empet sama Australia selain hal tersebut adalah; 1. Australia terlibat dalam manipulasi politik pada Covid 19 dan mengajak para negara lain untuk melakukan penyelidikan independent dan ikut campur dalam kerja sama di bidang internasional. 2. Canberra merupakan salah satu negara bagian yang melarang Perusahaan China untuk ikut berpartisipasi dalam jaringan 5G nya, serta berulang kali menolak perusahaan China yang ingin melakukan investasi di Australia dengan alasan keamanan Nasional. 3. Meskipun tidak ada bukti yang konkret, Australia kerap kali menuduh China terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengandung intervensi dan infiltrasi di Australia. Australia mempolitisasi dan memberikan paradigma baru terkait hubungan antara Australia dan China. Nah ke 4 hal ini yang membuat China itu mengatakan bahwa hal tersebut telah merusak hubungan antara Australia dan China yang dimana membuat keduanya membatasi berbagai kerjasama. Padahal sebagai informasi, bagi Australia, China merupakan salah satu mitra dagang terpenting. Apalagi Australia sedikit banyak membutuhkan China untuk mendorong pemulihan perekonomian Australia yang masih terkapar akibat wabah virus corona. Morrison telah melihat document tidak resmi milik kedutaan besar China yang membuat Morrison mengatakan bahwa nilai nilai demokrasi dan kedaulatan Australia tidak untuk diperdagangkan. Aksi pembalasan secara ekonomi yang dilakukan oleh China juga sebagai bentuk pemaksaan ekonomi. Sekali lagi Morrison mengatakan bahwa dirinya maupun Australia tidak akan kompromi dengan fakta yang ada khususnya terkait dengan bagaimana cara kami membangun jaringan telekomunikasi 5G kami atau hukum investasi untuk asing, karena Australia akan menjalankan dan melindungi dari gangguan apapun. Sejauh ini Australia mengatakan bahwa Australia akan berdiri bersama negara lain, baik itu masalah Hak Asasi Manusia atau hal hal yang terjadi diseluruh dunia termasuk di China. Dan apabila ternyata sikap Australia membuat hubungan antara Australia dan China menjadi tegang, maka Australia akan tetap menjadi diri sendiri dan akan terus bertindak sesuai dengan kepentingan nasional Australia, dan Kerjasama dengan jepang akan memperkuat stabilitas dan perdamaian Indo – Pacific.

2.BANK INDONESIA BERAKSI

Bank Indonesia kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dari 4% menjadi 3.75%. Inflasi yang lemah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan untuk mendukung pemulihan ekonomi dinilai menjadi pertimbangan dari penurunan suku bunga acuan. Dalam kesempatan ini, BI memperkirakan inflasi pada akhir 2020 lebih rendah dari batas bawah sasaran inflasi dan kembali ke sasarannya 3±1% pada 2021. Defisit transaksi berjalan juga diperkirakan tetap rendah. Perry yakin defisit tahun ini berada di bawah 1,5% PDB dan tetap rendah pada tahun depan. Ke depan, BI memandang penguatan nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut karena nilainya secara fundamental masih undervalued, dan kondisi defisit transaksi berjalan dan inflasi yang rendah, serta daya tarik aset yang tinggi, dan premi risiko yang menurun. Bank Indonesia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi kembali ke jalur positif pada kuartal IV-2020 atau di akhir tahun ini. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, perbaikan ekonomi Indonesia akan didukung oleh perbaikan konsumsi masyarakat, ekspor, dan investasi. Kemudian, stabilitas sistem keuangan juga terjaga, dimana nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat. Perry menyebutkan, BI bersama pemerintah serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berkoordinasi erat untuk menjaga ekonomi bergerak positif. Komitmen yang tinggi diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah kondusif bagi pemulihan ekonomi. Suku bunga acuan diturunkan 1% jadi 4%, dan BI juga melakukan quantitative easing dalam jumlah besar, lebih dari Rp 670 triliun atau 4% dari PDB.