ANALIS MARKET (02/9/2019) : IHSG Memiliki Peluang Bergerak Menguat

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, Sentimen yang menjadi sorotan pelaku pasar yang mengawali bulan September ini yaitu; pada akhirnya, Amerika dan China per tanggal 1 September kemarin telah resmi menaikkan tarif masing masing yang telah disampaikan sebelumnya.

Dari sisi Amerika, pada akhirnya tariff pada akhirnya dikenakan sebesar 15% untuk sekitar $112 miliar impor China.

Itu artinya saat ini, lebih dari 2/3 barang barang konsumsi yang diimpor oleh Amerika dari China telah menghadapi pajak yang lebih tinggi.

Barang barang yang dikenakkan tersebut adalah pakaian, sepatu, barang olahraga, dan lainnya.

Alhasil, sebagai dampak dari kenaikkan tariff yang diberlakukan oleh Trump, banyak Perusahaan Amerika akhirnya terpaksa untuk mengenakkan harga yang lebih tinggi terhadap customer mereka.

Namun ada juga sebagian perusahaan yang lain memutuskan untuk menanggung biaya tariff tersebut daripada menaikkan harga yang lebih tinggi terhadap customer.

Tidak sampai disitu, jangan dilupakan juga, 15 Desember nanti Amerika akan mengenakan putaran kedua tariff terhadap China sebesar 15% dari sekitar $160miliar barang yang diimpor.

Dan tidak berhenti sampai disitu lagi, pada tanggal 1 October, Amerika juga akan mengumumkan tarif yang sebelumnya dikenakan sebesar 25% pada kelompok barang terpisah sebesar $250 miliar, akan dinaikkan menjadi 30%.

Jika bulan Desember nanti semua dikenakan, maka hampir dipastikan bahwa semua barang China yang masuk ke Amerika akan dikenakkan tariff. Meskipun Trump bersikeras bahwa China yang membayar tariff, tetapi pada kenyataannya menurut penelitan ekonomi yang telah dilakukan, bahwa biaya tersebut akan jatuh kepada pebisnis dan customer di Amerika.

Dari sisi China, di tanggal yang sama yaitu 1 October hari Minggu kemarin, China juga telah memberlakukan tarif tambahan pada beberapa barang Amerika yang masuk dalam daftar sebesar $75 miliar.

Tarif tambahan 5% dan 10% dikenakan pada 1.717 item dari total 5.078 barang yang berasal dari Amerika.

Dan untuk menghadapi kenaikkan tariff yang akan dikenakan Amerika terhadap China pada tanggal 15 December, China tidak mau kalah, China mulai mengumpulkan daftar barang yang akan dikenakan pada tanggal 15 December nanti.

Dan untuk pertama kalinya dalam perang dagang, China mengenakkan tarif sebesar 5% untuk minyak mentah dari Amerika.

Sudah perang dagang belum usai, Argentina kembali membuat gejolak. Menteri Keuangan Argentina, Hernan Lacunza mengumumkan bahwa Pemerintah ingin memperpanjang jangka waktu obligasi Pemerintah. Lacunza menggambarkan perubahan jatuh tempo surat utang ini sebagai reprofiling utang, dan tentunya hal ini akan berdampak terhadap investor.

Dampak terbesar tentu saja akhirnya S&P telah mengumumkan bahwa mereka telah memangkas peringkat utang Argentina 3 notch ke tingkat peringkat junk bond, menjadi CCC-.

Hal ini menambah tekanan Argentina yang berimpact terhadap Negara Emerging Market lainnya.

Dikhawatirkan hal ini sama dengan kejadian beberapa waktu lalu yang menimpa Argentina dan Turki yang memberikan implikasi capital outflow dengan Rupiah yang melemah serta imbal hasil obligasi Indonesia yang mengalami kenaikkan.

Analis Pilarmas menyebutkan, “Kami melihat bahwa kasus yang dialami Argentina saat ini lebih kepada solvabilitas, sudah tidak hanya menyangkut likuiditas saja. Atas kejadian yang dialami Argentina, obligasi 1y memiliki tingkat probabilitas gagal bayar sebesar 64%, dan obligasi 5y memiliki tingkat probabilitas gagal bayar sebesar 85%. Kami berharap, implikasi terhadap Indonesia terbatas, mengapa demikian?”

Ditengah tengah tinggnya volatilitas dan tekanan, Bank Indonesia mengatakan bahwa Bank Indonesia hadir dipasar untuk menjaga stabilitas.

Hal ini memberikan ketenangan bagi pasar, bahwa Bank Indonesia siap untuk melakukan intervensi untuk menjaga pasar, baik dari sisi Rupiah maupun Obligasi.

Pasar masih optimis dan menaruh asa terkait dengan pertemuan Amerika dan China yang akan berlangsung pada hari Kamis pekan ini.

Cukup menarik apa yang akan terjadi selanjutnya, karena tentu hasil pertemuan tersebut akan memberikan pengaruh bagi pergerakan pasar global.

Dari dalam negeri, pelaku pasar terlihat cukup optimis menyambut rilis data Manufacturing PMI yang rencananya akan dikeluarkan pada hari ini. Perlambatan terjadi pada bulan July dimana Indeks Manufacturing PMI turun menjadi 49.6 dari 50.6 pada bulan sebelumnya.

Penurunan pertama pada sector kesehatan dalam enam bulan pertama. Selain itu, tingkat pembelian juga turun cukup signifikan dalam tiga tahun dengan rerata perusahaan memanfaatkan stok yang ada untuk memenuhi persyaratan produksi.

Pemerintah juga meyakini pertumbuhan investasi untuk sector manufaktur dapat meningkat hingga tahun 2020.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan mengatakan dengan adanya 25 proyek investasi senilai Rp290,6 triliun yang telah memperoleh tax holiday, dapat dipastikan pertumbuhan PMTB tahun depan akan lebih baik dibandingkan dengan tahun ini.

Petumbuhan PMTB pada 2020 diproyeksikan sejalan dengan pertumbuhan PMTB per semester I/2018 yang berhasil tumbuh di angka 6,88% YoY.

Data BPS menunjukkan pertumbuhan PMTB per kuartal II/2019 mencapai 5,01% YoY atau lebih rendah dari kuartal II/2018 yang mencapai 5,85% YoY.

Dalam asumsi pertumbuhan ekonomi RAPBN 2020, pemerintah mematok pertumbuhan PMTB di angka 6% YoY atau lebih tinggi dibandingkan dengan outlook pertumbuhan PMTB 2019 yang mencapai 5,7% YoY.

“Secara teknikal, kami melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak menguat dan ditradingkan pada level 6,292 - 6.351,” sebut analis Pilarmas.