ANALIS MARKET (11/9/2019) : Harga Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, lelang yang terjadi kemarin (10/9), dapat dikatakan cukup baik dengan total penawaran yang masuk, meskipun tidak sebaik seperti sebelumnya.

Namun ditengah ketidakpastian yang tinggi, total penawaran yang masuk masih mencerminkan keyakinan para pelaku pasar dan investor terhadap perekonomian Indonesia yang masih terjaga dengan baik.

Meskipun kalau kita melihat bahwa para pelaku pasar dan investor masih mendominasi seri seri obligasi berjatuh tempo pendek.

Hal ini merupakan sesuatu yang wajar, karena ditengah tengah volatilitas yang kian meninggi diikuti dengan ketidakpastian, maka untuk meredam volatilitas tersebut, obligasi jangka pendek akan lebih diminati.

Namun, porsi obligasi jangka Panjang kemarin pun juga dapat dikatakan cukup baik, karena para pelaku pasar dan investor menaruh harapan akan prospek ekonomi Indonesia dalam jangka panjang, meskipun porsi penawaran yang masuk tidak sebesar dari yang jangka pendek.

Karena menaruh harapan itulah, para pelaku pasar dan Investor juga yakin bahwa, Bank Indonesia masih akan memangkas tingkat suku bunga 1x lagi yang dimana tentunya ada potensi kenaikkan harga obligasi di masa depan nanti.

Lebih lanjut analis Pilarmas menilai, diperdagangan Rabu (11/9) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas. Pelan tapi pasti, harga obligasi masih akan mengalami penguatan, tapi tidak akan berada dalam jumlah yang besar.

Berita di pagi hari ini akan kita awali dari Amerika, dimana Trump akan menindak keras pengiriman Fentanyl dari China dan barang barang palsu lainnya. Menurutnya, hal ini bertujuan untuk menekan China untuk membantu Amerika untuk memerangi epidemi opioidnya.

Sebelumnya Washington telah meminta China karena tidak berbuat cukup banyak untuk mengekang aliran Fentanyl, obat penghilang rasa sakit yang sangat adiktif yang berperan dalam epidemi opioid yang dimana membuat kematian ribuan orang di Amerika.

Namun sisi yang menarik dari cerita ini adalah, Trump menghubungkan masalah ini dengan kesepakatan perdagangan, dimana Trump mengatakan bahwa Presiden Xi Jinping gagal untuk menghentikan penyeludupan Fentanyl buatan China sebagai alasan untuk menaikkan tarif ekspor dari China yang terjadi pada bulan ini.

Trump mengatakan Xi setuju sebagai bagian dari gencatan senjata sementara pada bulan Desember 2018, untuk menunjuk Fentanyl sebagai zat yang dikendalikan.

Namun lagi-lagi Trump berulang kali mengatakan bahwa Xi telah melanggar kata katanya. USTR tahun ini kembali menempatkan China masuk dalam daftar pantauan prioritas dalam laporan tahunan yang dimana dalam laporan tersebut terdapat praktik kekayaan intelektual di Negara lain.

China terus menjadi sumber penghasil barang palsu terkemuka di dunia pada laporan bulan April.

Ahli strategi, David Roche yang berada di Amerika mengatakan bahwa China akan memenangkan perang dagang dengan Amerika, dan pada akhirnya akan menghilangkan ketergantungannya terhadap teknologi Amerika.

China tidak akan mempercayai Amerika lagi pada akhirnya, dan tentu saja China akan mencapai kemerdekaan teknologinya dalam kurun waktu 7 tahun.

David juga mengatakan bahwa ini bukan hanya tentang perdagangan, tapi juga tentang teknologi, ini tentang inovasi dan ide yang mengalir dengan bebas. Ini merupakan konflik yang sangat luas, dan hal itu tidak akan hilang.

China juga bertujuan untuk membuat Made In China dalam kurun waktu hingga 2025, dan bertujuan untuk menghasilkan 40% dari semikonduktor pada tahun 2020, dan 70% pada tahun 2025.

David juga mengatakan bahwa akhir Perang dagang tidak terlihat, meksipun pembicaraan dijadwalkan untuk dilanjutkan pada bulan October nanti. Kami juga melihat bahwa perang dagang antara Amerika dan China tampaknya saat ini sudah bukan lagi merupakan mengenai tariff semata.

Tapi sudah menjamah kepada konflik yang lebih luas. China juga mengatakan bahwa Amerika terlalu ikut campur dalam masalah yang terjadi di Hongkong.

Tentu campur tangan Amerika jugalah yang membuat demonstran membawa bendera Amerika disana, dan demonstran juga yang meminta Amerika untuk terus menekan China terkait dengan tariff perdagangan.

Waktu terus berlalu, dan tidak ada kesepakatan yang dicapai disana. Pada akhirnya ini menjadi decoupling.

Dorongan Decoupling akan menjadi sangat berbeda dari keinginan Amerika untuk membuat China membuka lebih banyak ekonominya kepada perusahaan di Amerika.

Sebaliknya, China mulai mengurangi ketergantungannya terhadap Amerika. Namun apabila China belum membuka ekonominya terhadap Amerika, maka Amerika akan melakukan diversifikasi terhadap sumber impornya.

Salah satunya yang telah terjadi adalah, ketika Google mengalihkan produksi smartphone Pixelnya dari China ke Vietnam, dan memindahkan perakitan speaker ke Thailand.

Tentu hal ini memberikan impact yang kurang baik terhadap perekonomian China, namun di satu sisi memberikan Negara lain kesempatan untuk bertumbuh akibat tariff yang dikenakan oleh Amerika terhadap China.

Kita mampir sebentar jalan jalan ke Irak. Irak mengatakan bahwa Irak akan segera mematuhi pengurangan produksi OPEC setelah berulan bulan melakukan produksi berlebih.

Produsen minyak mentah terbesar kedua dalam organisasi yang beranggotan 14 Negara ini sering di cap sebagai anak bermasalah oleh OPEC karena produksi yang berlebih bahkan ketika harga minyak tengah rendah.

“Kami merekomendasikan beli hari ini dengan volume terbatas,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (11/9/2019).