Eskalasi Perang Dagang AS-China Kian Meningkat, Menko Luhut Sarankan Antisipasi

Foto : istimewa

Pasardana.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan meminta untuk mengantisipasi eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang terus meningkat dan telah mengancam perekonomian global diambang resesi.

Belakangan seperti diketahui, kedua negara dengan ekonomi terbesar dunia itu saling mengancam menerapkan tarif tinggi terhadap produk impor satu sama lain. 

Menko Luhut mengungkapkan jika AS dan China masih saling serang dengan terus menaikkan tarif bea masuk impor maka dipastikan perang dagang akan semakin panjang.  

Meski begitu Menko Luhut menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi kondisi eksternal yang penuh ketidakpastian.

Ia menyebut berbagai program pemerintah di bidang ekonomi mengalami peningkatan dan berdampak positif bagi negara, antara lain hilirisasi nikel dan peningkatan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO), karet, bauksit dan lain sebagainya.

“Fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dalam menghadapi ancaman tersebut, karena masih mampu tumbuh di atas 5%, inflasi yang terkendali, dan angka kemiskinan serta gini ratio yang terus turun. Pemerintah tetap waspada dan telah menyiapkan langkah-langkah taktis jika perekonomian global memburuk,” papar Luhut di Jakarta, Senin (26/8/2019). 

Lebih lanjut Luhut mengungkapkan, beberapa contoh upaya peningkatan nilai tambah yang sudah dilakukan adalah hilirisasi nikel menjadi stainless steel dan komponen lithium battery, yang telah berdampak kepada peningkatan ekspor, penciptaan lapangan pekerjaan dan peningkatan penerimaan pajak, serta transfer teknologi. 

"Upaya peningkatan nilai tambah ini akan diperluas kepada CPO, karet, bauksit, batubara dan lain-lain,” sambungnya. 

Menurutnya salah satu langkah terbaik adalah menarik investasi guna mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam di Indonesia. 

"Langkah-langkah menarik Investasi sudah dilakukan melalui percepatan perizinan dan pemberian insentif," jelasnya.