ANALIS MARKET (01/8/2019) : Sentimen The Fed Diproyeksi Dorong Penguatan Pasar Obligasi

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi pada akhirnya kembali terus mengalami penurunan yang diakibatkan telah ditembusnya garis support pada perdagangan kemarin (31/7).

Selain memang sebetulnya secara technical analisa, pasar obligasi memang harus mengalami adanya penurunan terlebih dahulu sebelum mengalami kenaikkan.

“Secara jangka pendek, memang pasar obligasi masih akan mengalami pelemahan harga obligasi, namun secara jangka menengah hingga Panjang, pasar obligasi masih akan mengalami kenaikkan harga. Oleh sebab itu, ini hanyalah bagian dari proses perjalanan naik turunnya suatu efek,” jelas analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Kamis (01/8/2019).

Lebih lanjut, riset Pilarmas menyebutkan, diperdagangan awal Agustus ini (01/8), pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan potensi menguat. Investor menyoroti adanya sentiment dari The Fed yang pada akhirnya memangkas tingkat suku bunganya sebesar 25 Bps.

Tentu hal ini merupakan sesuatu yang di inginkan oleh pasar sebelumnya, karena pemotongan ini sebetulnya hanyalah masalah waktu saja.

Powell mengatakan bahwa pemangkasan tingkat suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu decade sejak krisis keuangan adalah untuk memastikan terhadap risiko penurunan ekonomi yang mungkin saja terjadi, tetapi tidak untuk menandakan dimulainya siklus pelonggaran yang Panjang.

Pernyataan Powell tentu membuat Trump bereaksi negative terhadap Powell. Powell juga mengatakan bahwa The Fed mengganggap pemotongan tingkat suku bunga sebagai bagian dari penyesuaian siklus ekonomi terhadap kebijakannya. Pernyataan Powell berikutnya mungkin akan menjadi cerminan arah The Fed selanjutnya.

“Ini bukanlah awal dari serangkaian penurunan suku bunga, saya tidak mengatakan itu hanya terjadi 1x.” Kami melihat bahwa ini merupakan suatu tanda bahwa The Fed akan memangkas tingkat suku bunga The Fed yang menurut kami bisa terjadi pada bulan September atau Desember, tentu hal ini mengindikasikan ada kenaikkan probabilitas yang cukup besar disana bagi Bank Indonesia untuk melakukan pemangkasan tingkat suku bunga kembali, seperti yang Bank Indonesia sampaikan sebelumnya bahwa mereka sebetulnya juga masih punya ruang untuk memotong tingkat suku bunga mereka.

Dengan adanya indikasi bahwa The Fed akan dipangkas kembali, tentu hal ini akan menjadi berita baik bagi Negara Negara Emerging Market, karena mereka akan bereaksi untuk memangkas tingkat suku bunga mereka masing masing. Mendengar The Fed hanya menurunkan tingkat suku bunga sebesar 25 bps, mengundang kemarahan Trump sehingga mengatakan kepada Powell bahwa Pasar ingin pengurangan yang besar.

Trump ingin mendengar bahwa The Fed melakukan pemotongan tingkat suku bunga lebih besar dan aggresif yang dapat mengimbangi China, Uni Eropa dan Negara lainnnya.

Seperti biasa, Powell mengecewakan kita, ungkap Trump. Dalam pengambilan keputusannya, dua pejabat The Fed menentang keputusan untuk menurunkan tingkat suku bunga The Fed sebesar 25 bps. Presiden Fed Kansas City, Esther George dan Presiden Fed Boston yang menentang pemotongan tersebut, dan hal ini merupakan yang pertama kalinya ada pembuat kebijakan yang berbeda pendapat dan itu terjadi dalam era Powell.

Namun Powell selalu mengatakan bahwa tujuan menyeluruh The Fed adalah untuk menjaga pertumbuhan.

Kita harus bertindak sekarang, ketika Bank Sentral memiliki lebih sedikit ruang untuk menurunkan tingkat suku bunga dibandingkan dengan penurunan di masa lalu yang dimana penurunan dimasa lalu untuk mengatasi potensi penurunan yang akan terjadi.

Data inflasi yang termasuk dalam tolok ukur juga hanya berada dikisaran 1.6% pada bulan Juni kemarin dan belum memenuhi target inflasi sebesar 2% tahun ini.

Tidak hanya sampai disitu saja, The Fed juga memutuskan untuk mengakhiri pelonggaran neracanya 2 bulan lebih awal dari yang ditentukan sebelumnya untuk menghindari kontraksi antara pelonggaran kebijakan dengan penurunan tingkat suku bunga.

Beralih ke berita mengenai pertemuan antara Amerika dan China yang berakhir hari Rabu kemarin, pada akhirnya Amerika dan China sepakat untuk bertemu kembali pada awal bulan September, karena negosiasi berjalan dengan baik dan ada beberapa kemajuan yang nyata.

Steven dan Robert telah mengakhiri pertemuan tersebut dan akan mengadakan pertemuan lanjutan yang akan terjadi di Washington sebagai lokasi untuk diskusi selanjutnya.

Kedua pihak mengatakan bahwa mereka telah melakukan kemajuan yang nyata terkait dengan transfer teknologi secara paksa, hak kekayaan intelektual, layanan, hambatan non tarif dan pertanian.

Dari sisi China telah mengkonfirmasi komitmen mereka untuk meningkatkan pembelian pertanian dari Amerika Serikat. Kami telah membahas untuk melakukan pembelian produk pertanian China berdasarkan kebutuhannya.

Dalam pertemuan tersebut, kehadiran Zhong Shan sebagai negosiator baru dalam Team China juga memberikan sesuatu pengaruh yang cukup besar, meskipun sebelumnya Amerika sempat khawatir dengan kehadiran Zhong San yang merupakan negosiator tangguh namun konvensional.

“Kedua sentiment positif ini akan menjadi booster hari ini bagi pergerakan pasar modal hari ini, baik saham maupun obligasi. Kami merekomendasikan beli hari ini,” sebut analis Pilarmas.