Volume SUN Diperdagangan Senin Kemarin Senilai Rp10,04 Triliun dari 42 Seri

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian fixed income MNC Securities yang dirilis Selasa (30/7/2019) mengungkapkan, volume perdagangan Surat Utang Negara (SUN) yang dilaporkan pada perdagangan kemarin (29/7) tercatat senilai Rp10,04 triliun dari 42 seri Surat Utang Negara yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp3,04 triliun.

Adapun Obligasi Negara seri FR0078 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,35 triliun dari 55 kali transaksi di harga rata - rata 107,40% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0077 senilai Rp1,27 miliar dari 37 kali transaksi di harga rata - rata 106,10%.

Adapun untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan volume terbesar didapati pada Project Based Sukuk seri PBS019 sebesar Rp130,00 miliar dari 5 kali transaksi dan diikuti oleh Sukuk Ritel Negara seri SR011 sebesar Rp108,55 miliar untuk 31 kali perdagangan.

Sementara itu, volume perdagangan obligasi korporasi yang dilaporkan senilai Rp909,39 miliar dari 47 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan di awal pekan.

Obligasi III Oto Multiartha Tahun 2019 Seri B (OTMA03B)menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp215,00 miliar dari 7 kali transaksi di harga rata - rata 100,09% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Federal International Finance Tahap I Tahun 2019 Seri B (FIFA04BCN1) senilai Rp100,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,00%.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup pada level 14020,00 per dollar Amerika mengalami pelemahan sebesar 12,00 pts, setelah dibuka mengalami penguatan namun berbalik melemah, dan bergerak pada kisaran 13995,00 hingga 14025,00 per dollar Amerika.

Pelemahan nilai tukar rupiah tersebut terjadi di tengah pelemahan sebagian besar nilai tukar mata uang regional terhadap dollar Amerika.

Won Korea Selatan (KRW) dan Rupee India (INR) memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,12% dan diikuti oleh Yen Jepang (JPY) sebesar 0,04% dan Dollar Hongkong (HKD) sebesar 0,01%.

Sementara itu, yang memimpin pelemahan mata uang regional didapati pada mata uang renminbi China (CNY) sebesar 0,20% yang diikuti oleh mata uang Ringgit Malaysia (MYR) dan Dollar Singapura (SGD) masing-masing melemah sebesar 0,18% dan 0,12% terhadap Dollar Amerika.

Adapun dari pergerakan imbal hasil surat utang global, imbal hasil dari US Treasury pada perdagangan kemarin ditutup naik, dimana untuk tenor 10 tahun naik di level 2,061% dan tenor 30 tahun juga naik di level 2,586%.

Sementara itu, imbal hasil dari surat utang Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun ditutup dengan penurunan di level 0,645% dan untuk surat utang Jerman (Bund) dengan tenor 30 tahun didapati turun di level 0,185%.

“Kembali turunnya imbal hasil dari surat utang global tersebut kami perkirakan akan berdampak positif terhadap pergerakan harga Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika pada perdagangan hari ini, Selasa (30/7),” sebut analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra.