ANALIS MARKET (24/7/2019) : Pasar Obligasi Berpotensi Melemah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id – Riset harian Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, pasar obligasi kembali mengalami penurunan yang cukup dalam setelah sebelumnya terkantung-kantung di daerah support.

Namun setidaknya hal ini memberikan kejelasan bagi harga pasar obligasi akan bergerak ke arah mana selanjutnya.

Lebih lanjut, analis Pilarmas menilai, diperdagangan Rabu (24/7/2019) pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka kembali melemah dengan potensi melemah hingga mencapai titik support selanjutnya.

Sementara itu, semangat di pagi hari yang mungkin akan menggairahkan pasar adalah Trump telah mengundang beberapa kepala eksekutif teknologi dan CEO Perusahaan Teknologi ke White House.

Undangan ini dimaksudkan sebagai bagian dari diskusi antara Trump dengan Perusahaan Teknologi terkait dengan penjualan dan hubungan bisnis dengan Huawei.

Para CEO tersebut telah membuat keputusan yang tepat waktu terkait dengan aplikasi lisensi yang akan dijual ke Huawei dan Trump sepakat dengan hal itu.

Pertemuan tersebut berlangsung positif, sehingga pembicaraan antara Amerika dan China dapat segera dilanjutkan.

Hal ini meredakan ketegangan yang sebelumnya memuncak antara Amerika dan China terkait dengan masuknya Huawei kedalam daftar hitam, yang membuat Huawei berada dibawah tekanan.

Setiap pelonggaran yang diberikan Amerika terhadap Huawei memberikan harapan bahwa ada ketulusan dan niat baik antara kedua negara, khususnya Amerika, sehingga akan mendorong pembelian kembali sejumlah produk pertanian khususnya kedelai oleh China yang sebelumnya mengalami penurunan akibat perang dagang.

Akibat hal ini, Robert dan Steven akan berangkat menuju China pekan depan. Tentu hal ini merupakan berita yang baik ditengah tengah tandusnya harapan akan kesepakatan antara Amerika dan China.

Tidak hanya itu saja, China juga mengumumkan bahwa China akan berusaha untuk membuka sector keuangan untuk investor asing yang ingin berinvestasi di China.

Perusahaan Asing kemungkinan akan diberikan ijin untuk memiliki saham lebih besar atau dapat mengendalikan Perusahaan tersebut termasuk Bisnis asset management, pension fund, atau pun brokerage. Robert dan beberapa pejabat Senior Amerika akan berangkat menuju China pada hari Senin hingga Rabu nanti.

Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama setelah sebelumnya Xi Jinping dan Trump bertemu di KTT G20. China juga menyambut baik kedatangan utusan dari Amerika yang kali ini akan mengadakan pertemuan di Shanghai.

Wilbur Ross yang merupakan sekretaris perdagangan mengatakan bahwa jika ada kesepakatan, tentu hal itu merupakan kesepakatan yang tepat dan bagus, dan itu merupakan seseuatu yang lebih penting daripada waktu yang cepat.

Pertemuan pekan depan pun merupakan pertemuan pertama juga bagi Zhong San yang baru saja bergabung menjadi team negosiator China, namun tetap tim negosiator akan dimpimpin oleh Liu He.

Beralih ke Brexit, akhirnya setelah penantian yang cukup lama, Boris Johnson dinyatakan pemenang dan akan menduduki kursi Perdana Menteri Inggris berikutnya untuk menggantikan Theresa May.

Pergantian ini diharapkan dapat sebagai titik balik Inggris khususnya terkait dengan proses Brexit yang sebelumnya terkantung kantung.

Boris yang juga seseorang dengan pemikiran konvensional mungkin akan menambah sulit proses tersebut.

Namun dalam pernyataannya, Boris mengatakan bahwa Dia akan menyelesaikan Brexit pada tanggal 31 October.

Seperti raksasa yang tertidur, kita akan bangkit!. Boris sejatinya hanya memiliki 100 hari untuk menegosiasikan kesepakatan dengan Uni Eropa terkait dengan keluarnya Inggris dari blok tersebut.

Tujuan utama dari kesepakatan Brexit yang diinginkan Boris adalah menghapus apa yang disebut dengan backstop terkait dengan perbatasan Irlandia.

Boris sangat yakin bahwa Ia dapat memenangkan kesepakatan ini.

Namun disatu sisi, Uni Eropa dengan tegas menolak kesepakatan antara Inggris dengan Uni Eropa, apabila dalam kesepakatan antara mereka berdua tidak ada pembahasan mengenai Backstop.

“Jika tidak ada pembahasan mengenai Backstop, maka sekali lagi mungkin akan jadi yang terakhir, Inggris akan keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan sama sekali,” sebut analis Pilarmas dalam riset yang dirilis Rabu (24/7/2019).