Bappenas Minta Pemerintah Turunkan Ekspor Batu Bara

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pemerintah sedang merancang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk periode 2020-2024. Salah satu yang dimuat dalam RPJMN tersebut ialah terkait produk batu bara.

Perencana Utama Kedeputian Maritim dan Sumber Daya Mineral Kementerian PPN/Bappenas Hanan Nugroho mengatakan, RPJMN tersebut akan mengatur batasan produksi hingga ekspor batu bara. Nantinya, batasan untuk ekspor batu bara dalam lima tahun ke depan diusulkan turun.

Hanan mengatakan penurunan ekspor tersebut penting dilakukan demi memperkuat ketahanan energi nasional. Bappenas menilai, Indonesia masih butuh batu bara dalam negeri untuk jangka waktu panjang.

"Jadi maksudnya ekspor dikurangi untuk memprioritaskan ketahanan energi nasional ke depan, Indonesia akan butuhkan energi. Energi yang dimiliki Indonesia paling banyak itu batu bara, jadi disiapkan untuk pasokan nasional ke depan," ucap Hanan, Kamis (18/7).

Ia tak menyebut pasti berapa penurunan yang diusulkan oleh Bappenas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk periode lima tahun ke depan. Pasalnya, usulan masih berbentuk rancangan atau belum final.

"Yang pasti yang dipersiapkan dalam RPJMN itu memperkuat kemampuan di dalam negeri," terang dia.

Meski begitu, Hanan masih belum mau merinci berapa penurunan jatah ekspor batu bara yang diusulkan dalam RPJMN. Untuk RPJMN 2015-2019 sendiri, Bappenas menetapkan target produksi dan ekspor batu bara per tahunnya, termasuk jatah batu bara yang dijual ke PLN dengan harga murah (Domestic Market Obligation/DMO) maksimal US$ 70 per ton.

Dalam RPJMN 2015-2019, pemerintah mematok target produksi batu bara per tahunnya rata-rata 400 juta ton. Rinciannya, target produksi batu bara 2015 sebanyak 425 juta ton, 2016 sebanyak 419 juta ton, 2017 sebanyak 413 juta ton, 2018 sebanyak 406 juta ton, dan 2019 sebanyak 400 juta ton.

Dari total produksi itu, target ekspor ditetapkan bervariasi dan cenderung menurun. Pada 2015 targetnya mencapai 323 juta ton, 2016 sebanyak 308 juta ton, 2017 sebanyak 292 juta ton, 2018 sebanyak 275 juta ton, dan 2019 sebanyak 160 juta ton.

Meski target dalam RPJMN terlihat turun, tapi realisasinya justru menanjak. Pada 2018 misalnya, pemerintah menaikkan kuota produksi batu bara untuk kebutuhan ekspor sebanyak 100 juta ton.

Pemerintah berdalih kenaikan  kuota bertujuan untuk menggenjot devisa negara pada tahun lalu. Selain itu, peningkatan ekspor batu bara juga dilakukan demi menyelamatkan rupiah yang sedang terperosok terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

"Ya kadang-kadang memang yang namanya rencana itu dalam perjalanannya menemui situasi ketidakpastian. Itu kan misalnya ada persoalan neraca perdagangan Indonesia, impor besar jadi ada kasus ini target awal diubah," paparnya.