Harga SUN Diperdagangan Selasa Kemarin Bervariasi Cenderung Turun Seiring Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

foto : ilustrasi (ist)

Pasardana.id - Pada perdagangan hari Selasa, tanggal 16 Juli 2019 kemarin, harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak bevariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan yang didorong oleh perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika akibat sentimen dari dalam dan luar negeri.

Dalam riset yang dirilis Rabu (17/7/2019), analis fixed income MNC Securities, I Made Adi Saputra mengungkapkan, pada perdagangan kemarin (16/7), harga Surat Utang Negara (SUN) bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan.

Pergerakan harga tersebut dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika yang juga ikut bergerak beragam seiring dengan jelang diselenggarakannya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pertengahan pekan ini.

“Kondisi tersebut berpeluang mengakibatkan para pelaku pasar melakukan aksi wait and see menunggu hasil kebijakan tersebut. Meskipun para pelaku pasar berharap suku bunga acuan Bank Indonesia dapat mengalami penurunan dibawah level 6,00%,” jelas I Made.

Disamping itu, pernyataan dari pidato Jokowi pada awal pekan ini juga mendapat respon positif dari pasar, hanya saja sentimen positif dari Jokowi tersebut tidak diikuti dengan rilis data yang disampaikan oleh China dimana data ekonomi China menunjukan perlambatan.

Sementara itu, dari proses lelang kemarin, pemerintah berhasil meraup dana sebesar Rp22,05 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp53,14 triliun. Angka tersebut menurun dibandingkan dengan hasil lelang Surat Utang Negara sebelumnya yang mencapai Rp22,15 triliun dari total penawaran sebesar Rp62,09 triliun.

Lebih rinci diungkapkan, harga Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan kemarin hari Selasa (16/7), bergerak dengan arah bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan hingga sebesar 141 bps yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasil hingga sebesar 38 bps.

Harga Surat Utang Negara dengan tenor pendek (1-4 tahun) tercatat mengalami rata-rata penurunan terbatas hanya sebatas 1,1 bps yang berdampak pada meningkatnya imbal hasil sebesar 4 bps.

Adapun untuk Surat Utang Negara dengan tenor menengah (5-7 tahun) mengalami kenaikan harga hingga sebesar 36,2 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga 7 bps.

Surat Utang Negara dengan tenor panjang (diatas 7 tahun) didapati terjadinya penurunan rata-rata harga sebesar 22,0 bps yang mengakibatkan terjadinya kenaikan imbal hasil hingga sebesar 38 bps.

Secara keseluruhan, perubahan harga yang terjadi pada perdagangan kemarin juga mendorong terjadinya perubahan imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan arah yang bervariasi.

Adapun Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun meningkat terbatas dibawah 1 bps pada level 6,469%; penurunan imbal hasil seri acuan dengan tenor 10 tahun juga bergerak di bawah 1 bps pada level 7,081%.

Sedangkan untuk seri acuan tenor 15 tahun mengalami penurunan sebesar 2 bps pada level 7,435% dan kenaikan imbal hasil seri acuan dengan tenor 20 tahun sebesar 0,2 bps pada level 7,647%. 

Disisi lain, pada perdagangan kemarin (16/7), imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang asing mengalami penurunan pada keseluruhan serinya.

Harga dari INDO24 mengalami kenaikan sebesar 4,3 bps yang mendorong penurunan imbal hasil sebesar 1 bps di level 2,893%.

Adapun pergerakan harga dari INDO29 juga ikut naik sebesar 28,7 bps yang berdampak pada turunnya imbal hasil sebesar 3,3 bps di level 3,250%.

Sementara itu, dari INDO44 dan INDO49 juga mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 23 bps dan 36 bps yang berdampak pada penurunan tingkat imbal hasil masing-masing sebesar 1,2 bps di level 4,275% dan 2 bps di level 4,150%.