Reksa Dana Syariah Perlu Upaya Market Deepening

foto: doc DIalogue PR

Pasardana.id - Upaya pemerintah untuk terus meningkatkan minat investasi masyarakat nampaknya kian diapresiasi oleh banyak pelaku bisnis khususnya fintech.

Beragam jenis investasi mulai dari yang konvensional seperti saham, logam mulia, reksa dana hingga jenis investasi kekinian seperti peer-to-peer lending ramai muncul untuk memperebutkan kue dari para generasi milenial dan Gen Z yang kini sudah mulai menjadi angkatan kerja produktif di tanah air.

Pertumbuhan pendapatan, tingkat pendidikan, dan teknologi adalah kombinasi spesial yang juga membentuk tren permintaan pasar.

Bagi kalangan muslim, tren hijrah milenial kini juga mempengaruhi aspek lain di luar gaya hidup. Salah satunya dalam pengelolaan keuangan. 

Perencana keuangan dan investasi syariah Putri Madarina atau yang kerap disapa Puma menilai, salah satu dampak dari tren hijrah millennial ini adalah kemunculan produk-produk investasi berbasis syariah, salah satunya reksa dana.

“Meskipun produk reksa dana syariah sudah ada sejak tahun 1997, namun kenaikan dana kelolaan yang signifikan baru terasa di beberapa tahun belakangan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bulan Juni tahun ini bahkan menunjukkan, dana kelolaan reksa dana syariah sudah mencapai sekitar Rp33 triliun. Angka ini naik signifikan jika kita bandingkan dengan posisi dana kelolaan tahun 2014 yang hanya sebesar Rp11 triliun,” tutur Puma, Kamis (11/7/2019).

Meskipun secara populasi pasar Indonesia cukup potensial untuk pertumbuhan instrumen investasi syariah, namun kenyataannya penetrasi reksa dana syariah masih belum mampu bersaing dengan reksa dana konvensional. Ini artinya, perlu lebih banyak lagi upaya market deepening dari berbagai pelaku bisnis untuk melayani pangsa pasar Muslim di Indonesia.

Puma menambahkan, sebetulnya langkah pemerintah sudah cukup agresif dalam membangun infrastruktur industri pasar modal syariah dari segi kebijakan.

“Kita sudah punya Roadmap Pasar Modal Syariah hingga tahun 2019. Sejak tahun 2015, OJK telah menerapkan relaksasi aturan bagi penerbitan efek syariah, sehingga semakin banyak emiten yang menerbitkan efek syariah. Dengan bertambahnya efek syariah, tentu membantu perusahaan manajer investasi untuk menciptakan berbagai jenis produk sehingga persaingan produk pun semakin kompetitif, kemudian terjadilah peningkatan dari sisi supply produk,” tuturnya.

Dampak kebijakan tersebut kini menghasilkan 408 efek syariah yang resmi terdaftar di Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh OJK dan diawasi oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia).

Keberadaan DSN-MUI sangat penting sebagai regulator pendamping yang menjadi rujukan pelaksanaan prinsip syariah di pasar modal.